Krisis, Tekanan, dan Energi Ekternal

oxigen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Ini adalah salah satu poin yang akan saya sampaikan dalam kuliah berjudul “Leadership in Crisis: Captain of a Sinking Ship” di STAN minggu depan.
 
Salah satu elemen penting dalam situasi kritis adalah tekanan. Umumnya tekanan itu merusak dan menghancurkan. Dalam tekanan orang bisa kehilangan energi internalnya, membuat ia kehilangan keterampilan dan kecerdikan yang biasa ia miliki dalam keadaan normal. Ia menjadi pecundang.
 
Namun sebenarnya dan sebaliknya, tekanan bisa memberi energi yang luar biasa dan tak terduga. Ada contoh menarik dari alam yang bisa kita jadikan pelajaran. Kolega saya Katsuya Shimizu yang kini menjadi profesor di Osaka University pernah melakukan riset tentang konduktivitas listrik pada oksigen di bawah tekanan tinggi. Hasil risetnya dimuat di majalah Nature tahun 1998.
Oksigen, sebagaimana kita ketahui, dalam tekanan atmosfer dan suhu kamar adalah gas. Mengikuti prinsip perubahan fase, oksigen akan menjadi cair bila ditekan pada nilai tekanan tertentu. Oksigen yang ditempatkan dalam tabung bertekanan tinggi biasanya dalam wujud cair. Bila ditekan lebih lanjut ia akan menjadi benda padat, khususnya bila dikombinasikan dengan temperatur rendah.
Dari sisi antaran (konduktivitas) listrik, dalam wujud gas oksigen adalah isolator. Dalam keadaan padat pun ia tetap isolator. Namun pada tekanan 96 GPa, oksigen akan berubah menjadi konduktor. Lebih hebat lagi, pada tekanan 125 GPa, oksigen akan berubah menjadi superkonduktor, dengan suhu kritis pada 4 K. Lalu apa yang terjadi bila tekanan dinaikkan lagi? Ternyata oksigen tidak akan menjadi superkonduktor lagi. Ia akan kembali “sekedar” menjadi metal saja.
Nah, contoh ini memberi kita pelajaran bahwa di satu sisi tekanan bisa menghancurkan kita. Namun dari sisi lain, ia bisa memberi kita energi eksternal yang luar biasa. Orang kepepet sering kali bisa mengatasi masalah secara luar biasa, bahkan tekanan pada saat kepepet (krisis) itu menjadi titik balik bagi perjalanan hidupnya.
Jadi, tekanan pada saat krisis bukanlah bencana. Krisis itu sendiri bukan bencana. Bila kita pandai mengelola, krisis adalah sebuah sumber energi eksternal yang bisa membuat kita bisa membuat sebuah perubahan radikal. Kuncinya terletak pada kemampuan kita mengelola tekanan, dan mengatur tingkat resistensi kita.
Krisis? Siapa takut.

One thought on “Krisis, Tekanan, dan Energi Ekternal

  1. naila

    Interesting point. This metaphor works for me when I have to prepare for an exam. But the tricky thing is, as explained by the metaphor, kita butuh tekanan pada level yang pas. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Kalo terlalu stress, ujian saya gagal total, tapi kalo terlalu santai, misalnya pas saya pikir materinya terlalu gampang, saya juga jadinya malas belajar, gagal juga. We are not always in control of which level of external pressure we are facing though… what is your take on this?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *