Kontribusi Moral Islam

Apa kontribusi ajaran Islam terhadap nilai-nilai moral modern? Apa peran kaum muslim dalam mengembangkan nilai-nilai moral untuk mewarnai dunia? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan evaluatif. Dari jawaban atas pertanyaan itu kita bisa bersikap. Bila sudah baik, selanjutnya bagaimana mempertahankan dan meluaskannya. Bila masih kurang, bagaimana memperbanyaknya.

Ketika membahas moral, apa yang paling sering diributkan oleh orang Islam? Seks dan khamar. Soal seks terkait pula dengan posisi dan peran wanita di masyarakat. Pasa dua titik ini dunia Islam berbeda secara diametral dengan dunia Barat yang menjadi motor peradaban modern.

Dalam kedua hal di atas dunia Islam bukan pelopor. Dunia modern sedang bergerak ke arah yang berlawanan dengan yang diinginkan Islam. Bahkan tragisnya banyak bagian dari dunia Islam yang sedang bergerak ke arah bergeraknya dunia Barat. Liberalisasi hubungan seks dan pelonggaran terhadap minuman keras sedang terjadi di berbagai negeri berpenduduk muslim.

Dunia Barat di sisi lain punya agenda gerakan moral. Penghargaan terhadap hak-hak individu, kesetaraan gender, demokrasi, pelestarian lingkungan, adalah hal-hal yang mereka promosikan. Terhadap hal-hal itu respon dunia Islam beragam. Ada yang menerima, bahkan menganggapnya sebagai bagian intrinsik dari Islam. Ada pula yang menolaknya, menganggapnya sebagai bagian dari kebobrokan Barat yang harus ditolak. Dalam hal-hal ini pun sekali lagi Islam bukan pelopor. Nilai-nilai yang dipromosikan Barat secara pasti menyebar mendominasi muka bumi.

Lalu, apa yang dilakukan oleh dunia Islam? Bertahan. Mereka tidak punya cukup kekuatan untuk melakukan “serangan”. Mereka tak menguasai keluatan ekonomi, tidak pula militer, apalagi media. Maka di berbagai tempat di dunia Islam banyak terjadi konflik, antara kelompok-kelompok yang menolak Barat, dengan yang menerima.

Jadi, jawaban atas pertanyaan di atas adalah bahwa umat Islam ternyata tidak berada dalam posisi berkontribusi, melainkan sedang dipengaruhi secara luas oleh nilai-nilai yang dianut oleh Barat.  Apakah ini sesuatu yang positif atau negatif, inipun ada di wilayah perdebatan dalam tubuh umat Islam sendiri.

Bagi saya sendiri, hal terpenting yang harus disadari secara mendasar oleh orang-orang Islam adalah bahwa manusia itu selalu berubah. Oleh karena itu sulit untuk mengatur manusia yang sudah banyak berubah itu dengan seperangkat nilai dan aturan yang dirumuskan belasan abad yang lalu.

2 thoughts on “Kontribusi Moral Islam”

  1. Cara pandang pragmatis vs idealis

    Tulisan di atas ditulis dalam cara pandang pragmatis, bukan idealis. Islam diakui datang untuk memberi warna pada moralitas yang baik. Nabi bersabda, “Buitstu liutammima makarimal akhlaq”, bahkan Quran sendiri menyebut Nabi SAW sebagai teladan yang baik, dan berbudi pekerti luhur. Saya tidak perlu tunjukkan, karena pembaca Quran yg baik, tentu akan tahu ayat-ayat mana yang saya msksud. Jika kemudian Aisyah menyimpulkan, bahwa akhlaq baik nabi itu adalah al-Quran sendiri, ” kana khuluquhu al-Quran”, maka secara normatif Quranlah pegangan hidup umat muslim yg dipercaya akan terus mampu memberikan hidayahnya dengan nilai-nilai universal yg dibawanya, dan akan mampu bertahan hingga akhir nafas kehidupan berlangsung menjelang tiupan sangkakala pertama yg menandai tibanya kiamat. Ya…percaya sajalah, karena Quran kitab terakhir, dan tidak ada nabi setelah Muhammad. Jadi, kalau mau ikut jalan Tuhan, ikuti saja Quran sbg petunjuk moralitas.

    Di sini, agaknya kita harus bersikap: memahami Quran secara objektif menurut tafsir yg diinginkan pemilik kalamnya, yaitu Allah sendiri, yg sudah dituangkan melalui syariat Muhammad. Sehingga, jika Quran standarnya, seluruh sendi hidup, masa lalu, kini, dan masa datang harus diselaraskan dengan maksud Quran tadi, seperti diinginkan penulisnya; atau sebagai muslim kita hanya akan mengambilnya seperlunya saja sesuai subyektivitas dan kebutuhan diri kita sendiri selaku manusia yg kadang tak sadar digerogoti oleh hasrat nafsu dan keegoannya? Hanya manusia yg taqwa yg tunduk dg ikhlas mengikuti jalam petunjuk, dan jika hendak bersikap eklektik, silakan saja pilih mana yg anda suka ambil dan buang yg tidak anda suka. Sikap terakhir justru akan menegaskan jauh dari taqwa, karena ketundukan yg belum sepenuhnya. Memang menuju kaffah itu proses, tapi proses yg harus dijalani sesuai kemampuan, karena menuju kaffah itu perintah Allah. Bukankah bendera start sudah dikibarkan sejak manusia hadir di dunia dan mereka hadir dalam lomba menuju kesempurnaan? Jangan bilang, lebih baik tertinggal dengan membuang waktu hidup, karena ketertinggalan adalah sebuah bentuk kerugian. Hidup tidak berhenti di ujung dunia bung, dan bekal akhirat hanya taqwa. Jadi, pantas saja bila ada sebagian orang yang sejak awal ia sudah bertaruh untuk bahagia di akhirar dg meninggalkan gelimang materi keduniaan, karena mereka mencari hakikat, bukan fenomena yg memperdaya.

    Semoga bermanfaat.
    MAS

  2. Terus solusinya apa kang? Kalo cuma cuap-cuap kritik tanpa solusi mah.. Sama aja tinggi vokal tanpa akal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *