Koesnadi Hardjasoemantri

Suatu pagi di tahun 2007, seorang teman menelepon saya. “Pak Koes meninggal dalam kecelakaan pesawat,” katanya memberi kabar. Tak kuasa saya menahan air mata. Saya menangis tersedu-sedu. Orang yang menjadi mahasiswa pada akhir dekade 80-an hingga 90-an pasti mengenal Koesnadi Hardjasoemantri, yang biasa dipanggil orang Pak Koes. Saya sendiri tak begitu intens bergaul dengan Pak Koes. Tapi rasanya begitu dekat dengan beliau. Kepergian beliau menyisakan sebuah kehampaan yang besar.

Saya mengenal Pak Koes saat baru belajar saja aktivis kampus. Saat jadi mahasiswa tahun ke 2, saya menjadi ketua panitia sebuah seminar. Kebetulan waktu itu kami hendak mengundang Pak Alwi Dahlan sebagai pembicara. Mengetahui beliau adalah sahabat Pak Koes, saya menghubungi Pak Koes yang waktu itu adalah Rektor UGM.

Saya saat itu seorang anak muda yang gampang gugup karena tak percaya diri. Bertemu dengan PD III di fakultas saja saya sudah gugup dan berkeringat dingin. Bagaimana nanti kalau bertemu Pak Koes? Pak Koes waktu itu baru saja menjadi berita besar, saat dia mengantarkan mahasiswa berdemo ke gedung DPRD. Orang besar beliau itu. Dan saya harus menemui orang besar itu. Bagaimana saya tak gugup?

Tapi ternyata menemui Pak Koes bukan perkara sulit. Saya hubungi sekretaris beliau, dan segera kami dua orang wakil panitia dapat jadwal menghadap. Jadwal yang sangat singkat, hanya beberapa menit, di tengah kesibukan Pak Koes. Tapi beberapa menit itu luar biasa penting bagi hidup saya. Pak Koes ternyata begitu sederhana. Jauh dari kesan pejabat tinggi. Bicaranya to the point, tak banyak basa-basi. Dan beliau sungguh bersahabat.

Singkat cerita, Pak Koes mau membantu meneleponkan Pak Alwi Dahlan. “Begitu cara yang benar kalau mau menghubungi orang tua, Dik.” kata Pak Koes menasehati kami. “Kalian ini anak-anak saya, Pak Alwi itu teman saya. Tak sopan kalau kalian langsung menghubungi beliau. Biar saya yang kulonuwun dulu, setelah itu baru kalian yang bicara langsung.”

Itulah salah satu prinsip Pak Koes. Di saat lain beliau bercerita bahwa ketika beliau mengantarkan mahasiswa bedemo ke DPRD, prinsipnya juga seperti itu. “Saya ingin anak-anak saya dihormati orang. Kalau mereka datang, langsung mengetuk pintu institusi negara, mereka mungkin akan diabaikan. Lalu mereka perlu membuat sesuatu untuk menarik perhatian, yang bisa-bisa itu tindakan anarkis. Kalau saya antar mereka, orang pasti akan membuka pintu sehingga anak-anak saya bisa masuk dengan sopan.”

Setelah pertemuan pertama itu saya beberapa kali bertemu Pak Koes. Di antaranya di rumah dinas beliau di Bulaksumur. Kebanyakan pagi-pagi, usai salat subuh. “Kalau lampu ruang tamu saya sudah menyala di subuh hari, itu artinya saya siap terima tamu. Demikian pula di malam hari.” Begitu kata beliau. Tanpa protokol, kami bisa langsung menemui beliau di rumah.

Setelah beliau tak jadi Rektor saya sempat beberapa kali lagi bertemu. Terutama dengan posisi beliau sebagai ketua panitia pembangunan mesjid kampus UGM. Beberapa pertemuan terjadi di rumah kediaman beliau di Timoho.

Pertemuan pertama saya dengan Pak Koes yang hanya beberapa menit itu luar biasa efeknya. Sejak itu saya jadi percaya diri. Tak pernah lagi saya gugup ketika bertemu dengan orang-orang besar. Tak cuma itu. Banyak pelajaran yang saya ambil dari beliau.

Salah satu nasehat beliau pada kami yang saat itu suka mengritik pemerintah adalah, bicaralah dengan sopan. “Ada perbedaan antara bicara keras dengan bicara kasar.” kata Pak Koes. “Bicara keras itu menyatakan ketimpangan secara apa adanya, tanpa ditutup-tutupi. Tapi tidak perlu menggunakan kata-kata kasar.”

Pak Koes di saat lain juga bercerita bahwa dengan berbagai kesibukan beliau masih mengajar dan  membimbing skripsi mahasiswa S1. Banyak orang, cerita Pak Koes, yang tak mau lagi mengajar/membimbing mahasiswa S1 kalau sudah profesor. Padahal justru profesor diperlukan untuk itu.

Kesederhanaan Pak Koes, sikap bersahabatnya, menurut saya semua bersumber pada satu hal: akal sehat. Bila kita pertimbangkan segala sesuatu dengan akal sehat, tak akan ada kesombongan, tak kan ada jarak antar manusia. Ya, karena kita ini semua hanya manusia.

Terima kasih, Pak Koes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *