Kita Punya Pilihan!

1 August 2016 0 Comments

Setiap pagi saya harus berangkat ke kantor. Pagi-pagi buta. Kalau hari Senin saya harus berangkat lebih pagi, karena kemacetan yang parah. Jam 5 saya sudah keluar rumah, agar tidak terlambat tiba di kantor.

Harus. Artinya, mesti saya lakukan, meski saya tak suka atau tak ingin. Saya berangkat kerja meski tak suka, meski tak ingin. Saya tidak punya pilihan. Benarkah?

Kita sering mengucapkan ungkapan itu. Saya harus ini, saya harus itu. Bahkan lebih eksplisit lagi,”Saya tidak punya pilihan.” Sering sekali kita mengucapkannya sehingga hidup kita terdengar penuh dengan keterpaksaan. Kita hanyalah pelaksana kehendak pihak-pihak lain, dan kehendak kita sendiri nyaris tak ada. Bahkan untuk hal-hal yang sebetulnya menyenangkan pun kita memakai ungkapan itu. “Saya harus berlibur bersama keluarga.”

Benarkah kita tidak punya pilihan? Mari kita periksa. Apa yang terjadi bila mulai besok saya tidak mau pergi kerja. Saya tidak bangun pagi, saya tidakk berangkat. Saya di rumah saja seharian. Besoknya lagi pun begitu. Demikian pula seterusnya. Maka saya akan dipecat. Kalau saya dipecat saya tidak lagi terima gaji. Saya tidak punya uang. Anak-anak saya tidak sekolah, bahkan kami sekeluarga tidak bisa makan.

Saya tidak akan senang dengan keadaan yang saya paparkan di paragraf di atas. Melihat anak-anak saya tidak bisa sekolah bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi bila sampai mereka kekurangan makan. Maka, saya lebih memillih untuk bekerja, meski bekerja itu melelahkan. Saya berangkat pagi-pagi, meski sebenarnya saya ingin tidur lagi.

Saya punya setidaknya 2 pilihan, bekerja atau tidak bekerja. Keduanya punya konsekuensi, yang menyenangkan dan yang tidak. Konsekuensi tak menyenangkan pada pilihan bekerja adalah bahwa saya harus berangkat pagi-pagi saat saya masih ingin tidur. Konsekwensi menyenangkan pada pilihan itu adalah saya punya uang untuk memberi makan keluarga saya. Sebaliknya, konsekwensi menyenangkan dari pilihan tak bekerja adalah saya bisa bangun siang, tapi saya jadi tidak punya uang. Tidak punya uang lebih saya benci ketimbang bangun pagi. Jadi saya memilih bangun pagi untuk pergi kerja, meski saya tidak suka.

Di luar kedua pilihan tadi saya masih punya banyak pilihan lain, masing-masing punya konsekuensi, baik yang saya senangi maupun tidak. Pilihan untuk bekerja sebagai karyawan saya ambil karena konsekuensi menyenangkan pada pilihan itu lebih saya sukai, dan konsekuensi tidak menyenangkan pada pilihan itu masih bisa saya tahan.

Jadi, apakah saya harus bangun pagi? Apakah saya harus bekerja? Tidak. Saya memilih untuk bangun pagi. Saya memilih untuk bekerja. Saya memilih, dan saya menjalani konsekuensi pilihan itu. Tidak semua konsekuensi itu saya sukai, tapi itulah konsekuensi terbaik yang saya miliki.

Ada banyak lagi keharusan atau keterpaksaan, kita sebut begitu, tapi sebenarnya itu semua pilihan kita belaka. Saya memilih untuk pulang cepat, agar bisa bersama anak-anak di malam hari. Saya memilih tidak main golf di akhir pekan, agar bisa berkumpul bersama keluarga.

Bila kita merasa harus melakukan sesuatu, mungkin kita merasa terbebani. Tapi ingatlah, kita tidak harus. Kita memilih, dan kita menikmati konsekuensi pilihan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *