Kilang Minyak untuk Kedaulatan Energi

Setiap kali pemerintah menaikkan harga BBM selalu muncul pertanyaan awam, mengapa BBM jadi masalah di negeri ini? Bukankah kita ini negara penghasil minyak? Kenapa harga BBM di negara kita tidak bisa murah seperti di negara-negara Arab sana? Masih sangat banyak orang yang tidak paham bagaimana minyak mentah diproses sampai menjadi bahan bakar yang siap pakai.

Minyak mentah yang disedot dari perut bumi di berbagai sumur minyak terdiri dari berbagai jenis molekul hidrokarbon, pada dasarnya tidak bisa dipakai langsung. Minyak ini harus dipisahkan menjadi berbagai komponen, melalui proses penyulingan, atau refinery, yang dilakukan di kilang minyak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada proses penyulingan, minyak mentah dipanaskan. Minyak mentah terdiri dari berbagai komponen hidrokarbon, yang memiliki titik didih yang berbeda. Molekul-molekul dengan titik didih berbeda akan terpisah seperti digambarkan pada diagram di atas. Di bagian atas dihasilkan gas, antara lain dikenal sebagai LPG, yang biasa kita pakai sebagai bahan bakar. Bahan lain yang dihasilkan adalah naptha, yaitu bahan kimia dasar yang kemudian diolah menjagi berbagai produk petrokimia seperti plastik. Lalu ada pula berbagai jenis BBM, yaitu bensin, solar, dan minyak tanah. Bahan-bahan dengan molekul yang lebih berat menjadi pelumas dan aspal.

Indonesia memang penghasil minyak, yaitu minyak mentah tadi. Tapi kita boleh dibilang bukan penghasil BBM, karena kilang minyak kita sedikit. Yang kita lakukan adalah mengekspor minyak mentah, tapi pada saat yang sama kita mengimpor berbagai jenis produk BBM, yang dihasilkan dari berbagai kilang di luar negeri. Ibaratnya, kita menjual padi hasil panen di sawah, kemudian kita membeli beras.

Impor BBM kita memerlukan biaya besar. Karena harga yang mahal, selama ini pemerintah memberi subsidi, agar harga BBM tetap bisa terjangkau oleh orang banyak. Tapi lama-lama subsidi ini menjadi beban yang tak ringan, sehingga akhirnya pemerintah secara bertahap menguranginya.

Apakah kita tidak punya kilang penyulingan minyak? Punya. Pertamina, sebagai BUMN terbesar, dibebani tanggung jawab untuk mengelolanya. Artinya, Pertamina punya peran yang sangat strategis dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, karena yang dikelolanya adalah produk yang sangat vital bagi ekonomi bangsa. Masalahnya, kilang yang selama ini sudah ada masih sangat kurang.

Saat ini kilang yang kita miliki punya kapasitas terpasang sebesar 1050 MBPD (juta barrel per hari). Namun karena harus ada perawatan dan sebagainya, kapasitas operasinya hanya 850-900 MBPD. Padahal kebutuhan nasional kita adalah 1600 MBPD. Artinya, masih sangat kurang. Karena itu kita terus menerus tergantung pada pasokan BBM impor. Situasi ini kurang tepat bila dilihat dari sudut pandang kedaulatan dan kemandirian energi yang merupakan amanat Nawacita.

Untuk menyelesaikan masalah itu, Pertamina telah menyiapkan 4 proyek refinery, melalui program Refinery Development Master Plan (RDMP), yaitu di Balikpapan, Balongan, Cilacap, dan Dumai. Berdasarkan perhitungan, keempat kilang itu akan cukup untuk memenuhi kebutuhan 1600 MBPD tadi, pada tahun 2023.

Tapi ingat, selama proses pembangunan, ekonomi kita juga tumbuh. Artinya, kebutuhan bahan bakar juga akan tumbuh. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,5-5,8% per tahun, diperkirakan kebutuhan kita akan meningkat menjadi 2200 MBPD. Untuk menutup kebutuhan itu Pertamina juga telah menyiapkan proyek refinery New Grass Root Refinery (NGRR) di Tuban dan Bontang, masing-masing dengan kapasitas produksi 300 MBPD.

Dengan rencana ini, diharapkan kebutuhan tadi bisa terpenuhi, dan kita tak lagi tergantung pada BBM impor. Ini adalah langkah strategis untuk menjamin kedaulatan negara, khususnya di bidang energi.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *