Khilafah dan Terorisme Transnasional

Para penebar teror di dekade 2000an kebanyakan adalah alumni perang Afganistan di era perang dingin. Kini, kekuatan mereka ditambah lagi dengan para alumni perang Suriah. Kelompok mereka mungkin berbeda-beda, termasuk di dalamnya sisa-sisa anggota kelompok Azhari dan Nurdin M. Top. Juga masih ada anggota kelompok lain, termasuk yang terhubung dengan kelompok Filipina dan Thailand.

Daerah operasi mereka tidak terbatas di Indonesia, bahkan tidak terbatas di Asia Tenggara. Azhari dan Nurdin adalah warga Malaysia yang beroperasi di Indonesia. Ada banyak warga Indonesia yang beroperasi di Malaysia, Singapura, atau Thailand. Tentu saja tidak bisa kita lupakan, ada lebih dari 300 WNI tercatat sebagai anggota ISIS di Suriah.

Ringkas kata, para teroris ini sudah membentuk jaringan yang bersifat transnasional. Anggotanya datang dari berbagai negara, dan daerah operasi mereka melampaui batas-batas negara formal.

Apa yang menyatukan mereka? Islam, tentu saja. Tapi gagasan tentang persatuan Islam biasanya bersifat damai, tidak bersenjata. Dalam hal mereka ini ada yang lebih spesifik, yaitu gagasan khilafah atau daulah Islamiyah. Gagasan ini menginginkan umat dan negeri-negeri Islam bersatu di bawah satu pemerintahan. Dalam perjuangannya mereka mengagendakan pula perlawanan bersenjata.

Di Indonesia, yang paling sering meneriakkan gagasan khilafah adalah Hizbut Tahrir (HT). Namun HT tidak tercatat pernah melakukan kekerasan. Organisasi lain yang sebenarnya lebih luas jaringan maupun varian perjuangannya adalah Ikhwanul Muslimin (IM).

Ikhwanul Muslimin didirikan di Mesir tahun 1928, dipimpin oleh Hasan Al-Bana. Selain Hasan Al-Bana, ada pula pemikir IM yang lain yang juga dikenal, yaitu Sayyid Qutb. Buku-buku mereka tersebar luas di Indonesia pada dekade 80-90, menjadi inspirasi dalam perlawanan terhadap rezim Orde Baru.

Organisasi ini lahir dalam suasana perjuangan kemerdekaan Mesir dari penjajah Inggris. Organisasi ini juga terlibat dalam perang melawan Israel di Palestina. Ia hadir hampir di semua wilayah Arab hingga kini, menjadi bagian dari perlawanan terhadap pemerintah yang sah. Banyak kekuatan politik yang dibentuk atau berafiliasi dengan organisasi ini, di antaranya Partai Keadilan dan Pembangunan (Turki), Partai Front Keadilan dan Pembangunan (Aljazair), dan Partai Keadilan Sejahtera (Indonesia).

Gerakan IM bervariasi bentuknya. Di Palestina mereka muncul dalam wujud Hamas yang melakukan perjuangan bersenjata. Di Afganistan saat perjuangan melawan Uni Sovyet, IM termasuk penggalang kekuatan utama. Di Indonesia, PKS nyaris tidak pernah terdengar meneriakkan gagasan khilafah, namun dalam halaqah-halaqahnya gagasan ini menjadi pusat kajian.

Lalu, apakah teroris yang sekarang beroperasi di Indonesia adalah kader-kader IM atau HT? Agak sulit mengatakan begitu. Pergulatan dunia jihad dan terorisme menjadi lebih kompleks di lapangan. Ada begitu banyak gerakan lain seperti Jamaah Islamiyah, Al-Qaeda, dan sebagainya. Organisasi-organisasi ini berhubungan dalam pola yang beragam pula. Ada yang bersekutu, tapi tak sedikit yang bermusuhan.

Namun seperti yang saya ungkap di muka, mereka terhubung oleh satu hal, yaitu gagasan khilafah. Cita-cita itu sama pada tingkat gagasan. Dalam pelaksanaannya di lapangan, mereka berbeda-beda.

Sebagai ilustrasi, bisa saja seorang anak muda Indonesia mengenal gagasan khilafah pertama kali dari halaqah IM atau HT, kemudian mendapat penajaman dari kelompok lain yang lebih keras. Ia kemudian mendapat saluran untuk berjihad ke Afganistan, atau Suriah. Di sana mungkin ia pindah afiliasi ke kelompok lain, kemudian mendapat tugas untuk menebar teror di Indonesia atau negara lain.

Bagi saya, sedikit banyak, delusi tentang Islam yang hebat di bawah sistem khilafah, yang jomplang dengan kenyataan bahwa dunia kini berada di bawah sistem kapitalis-Kristen di bawah pimpinan Amerika, adalah bibit utama untuk membuat bahan bakar, untuk mendidik orang menjadi teroris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *