Kebebasan dalam Islam

10 August 2016 0 Comments

Saya suka mengutip ayat laa ikraaha fi diin. Tidak ada paksaan dalam agama. Maksudnya agama Islam. Atau ayat lain, man yasya’ fal yu’min, waman lam yasya’ fal yakfuru. Siapa yang ingin, berimanlah, dan yang tidak ingin, kafirlah. Bagi saya Islam itu membebaskan. Orang mau beriman, boleh. Tidak juga boleh.
 
Iman itu seharusnya demikian. Tidak mungkin iman dipaksakan. Iman itu substansinya ada di pikiran setiap orang. Seseorang boleh saja mengerjakan ritual-ritual sebagaimana umumnya orang beriman. Tapi kita tidak pernah tahu ia benar beriman atau tidak. Kalau kita ingin memaksa, yang bisa kita paksakan hanyalah gerakan-gerakan fisik saja. Batin yang merupakan substansi iman tidak mungkin bisa kita paksakan.
 
Fondasi ibadah adalah ikhlas. Artinya, seseorang beribadah hanya karena Allah. Bukan karena ingin dinilai baik oleh orang lain. Juga bukan karena paksaan dari orang lain. Ibadah karena sebab-sebab selain Allah adalah ibadah yang ditolak. Pelakunya masuk dalam golongan musyrik.
 
Atas dasar itu saya menyatakan bahwa Islam itu membebaskan.
 
Kalau urusan beriman atau tidak adalah sesuatu yang sifatnya bebas, tentu saja urusan di bawah itu pun bebas saja sifatnya. Orang mau salat atau tidak, itu bagian dari kebebasan dia. Puasa atau tidak, itupun bebas saja buat dia. Puasa diwajibkan atas orang-orang yang beriman. Yang tidak beriman, tentu tak wajib puasa, bukan?
 
Tapi banyak orang Islam yang keberatan dengan pendapat itu. Katanya tidak demikian. Kebebasan itu hanya ada untuk orang di luar Islam. Kalau sudah masuk Islam, orang tidak lagi bebas. Jadi, kalau orang tidak salat atau puasa, bolehlah ia dipaksa untuk melakukannya. Bahkan kalau perlu, diperangi. Orang-orang lalu memberikan contoh sejarah, di mana Abu Bakar memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat.
 
Memaksa itu kata orang-orang adalah bagian dari amar makruf nahi munkar. Bahkan ada yang berpendapat bahwa itu harus dilakukan. Mula-mula orang memang akan merasa terpaksa. Tapi lama-lama dia akan terbiasa. Kalau sudah terbiasa, akan tumbuh kesadaran. Nanti dia akan ikhlas.
 
Itu hanya satu jalur, sebenarnya. Karena ada juga orang yang dipaksa semakin jadi antipati dan memberontak.
 
Lepas dari soal efektif atau tidaknya pemaksaan, banyak orang berpendapat bahwa Islam membolehkan untuk memaksa kepada orang Islam lainnya. Itulah yang disebut organized religion. Dalam organized religion, hubungan seseorang dengan Tuhan tidak lagi sebuah hubungan pribadi, tapi sebuah hubungan kolektif. Hubungan itu diatur oleh seperangkat aturan yang pelaksanaannya diawasi oleh manusia lain.
 
Peliknya, hampir semua muslim saat ini sebenarnya tidak pernah masuk Islam secara sukarela. Mereka sudah Islam sejak lahir. Agama dipilihkan oleh orang tua mereka. Sekali mereka menjadi muslim, nyaris tidak ada jalan untuk keluar. Berbagai sanksi sosial akan menjeratnya bila ia meninggalkan Islam. Bahkan ancaman dibunuh pun ada.
 
Jadi, adakah kebebasan dalam Islam? Tidak. Adakah makna bagi ayat-ayat yang saya kutip di atas dalam kenyataan sekarang? Tidak. Maka kebebasan yang dijamin oleh ayat-ayat itu tinggal jadi kebebasan semu.
 
Waktu saya katakan ini dalam sebuah diskusi, saya dituduh menghina ayat Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *