Kapital, Teknologi, dan Senjata

Suka atau tidak, 3 hal itu memenuhi ruang hidup kita sekarang. Ekonomi dunia digerakkan oleh kalitalisme, kekuatan uang. Uang ini jadi lingkaran setan dengan berbagai pendukungnya. Kapital menggerakkan inovasi teknologi. Inovasi ini nanti akan memberikan masukan kembalian berupa uang lagi, dalam jumlah yang lebih berlipat. Pada saat yang sama, teknologi memungkinkan terciptanya senjata-senjata canggih, yang bisa dipakai untuk mengamankan sumber daya alam, jalur bisnis, juga sebagai tekanan politik. Nanti, lagi-lagi ia akan memberikan pengembalian dalam jumlah yang lebih dahsyat lagi.

Amerika memegang semua itu. Teknologi, senjata, kapital. Ditambah lagi, sumber daya alam. Gonjang ganjingnya harga minyak dunia sekarang ini tidak terlepas dari beralihnya konsentrasi pemakaian energi Amerika dari minyak ke shallow gas.

Maka, meski babak belur saat krisis Lyman 6 tahun lalu, Amerika tetap kokoh. Meski ekonominya babak belur, seluruh negara di dunia masih tetap mengandalkan dolar sebagai cadangan devisa.

Rusia punya sumber daya alam, teknologi, dan tentu saja senjata. Tapi dalam hal kapital, masih jauh di bawah Amerika. Cina yang relatif lebih komplit, ditambah dengan satu hal, jumlah manusia. Yang terakhir ini bisa jadi keuntungan sekaligus masalah.

Jepang dan Korea punya teknologi dan kapital. Dalam hal senjata mereka masih tergantung pada Amerika, meski sekarang mulai menggeliat untuk melepaskan diri.

Apa yang dimiliki negara-negara Islam? Cuma sumber daya alam. Teknologi mereka tidak punya. Maka sumber daya alam hanya bisa jadi kapital dengan bantuan teknologi dari negara-negara lain. Parahnya, kapital yang diperoleh sebagian besar habis untuk konsumsi, tidak menghasilkan inovasi. Ketika sumber daya alam habis atau turun harga, mereka terancam jatuh miskin. Inilah yang sedang dihadapi oleh negara-negara Arab. Indonesia juga begitu.

Apa yang terpenting dari itu semua? Manusia. Manusialah yang bergerak menumpuk kapital, membuatnya jadi berlipat, mengubahnya menjadi teknologi, dan melipat gandakan kapital lagi. Manusia juga yang mengelola senjata, menjadikannya kekuatan untuk menguasai wilayah dan supply chain.

Kalau kita lihat sejarah peradaban, sejak abad pertengahan, dunia Islam sudah mundur jauh. Mereka tak lagi mengendalikan kapital, juga tidak mengendalikan teknologi. Ekonomi berkembang tanpa warna Islam. Dunia Islam bergeser keluar lapangan permainan, menjadi penonton.

Apa yang bisa dilakukan penonton? Bersorak, atau mengeluh. Itulah dunia Islam sekarang. Lebih spesifik lagi, lebih banyak mengeluhnya. Mereka mengeluh soal kapitalisme yang tidak adil, tapi ekonominya dikendalikan oleh kapitalisme. Setiap orang belanja memakai uang kertas produk riba, sambil merapalkan dalil-dalil tentang keharaman riba. Islam tidak hadir lagi ketika mata uang modern diperkenalkan dan dikembangkan.

Orang-orang Islam mengeluh soal babi yang haram, sementara produk makanan dan obat-obatan mereka dipenuhi produk turunan dari babi. Demikian pula halnya dengan alkohol.

Orang-orang Islam mengeluh soal khalwat, rapatnya interaksi perempuan dan laki-laki. Tapi berbagai produk budaya liberal memenuhi ruang keluarga mereka dalam wujud TV dan internet.

Kita bertanya, bagaimana caranya agar umat Islam bisa kembali berjaya, ikut berkontribusi dalam derap peradaban dunia? Sedihnya, jawabannya aneh: kembali kepada Quran dan sunnah. Maaf, jawaban itu salah. Maksudnya, salah karena yang dimaksud kembali adalah kembali hidup dengan gaya abad ke 7.

Tidak bisa tidak, kalau mau bangkit maka dunia Islam harus menguasai 2 hal fundamental: kapital dan teknologi. Caranya? Apa boleh buat, jadilah kapitalis. Lebih kapitalis dari Amerika. Kemudian lakukan konversi kapital menjadi teknologi.

Yang kedua itu maha sulit. Untuk membangun teknologi, orang harus punya satu tradisi penting: berpikir bebas. Ini tidak dimiliki dunia Islam. Orang-orang Islam sudah dibelenggu dengan norma-norma abad 7, membuat mereka tak bisa bergerak. Pikiran mereka sudah dipenjara dalam ruang yang sangat sempit.

Ini kenyataan pahit yang harus saya ungkap. Maka posis saya adalah bongkar ruang sempit itu. Merdekakan diri, meski dengan itu kita akan dianggap kafir sekalipun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *