Kamu Ada untuk Melindunginya

24 September 2021 0 Comments

Salah satu beban perempuan yang mengalami masalah infertilitas atau tidak subur adalah mulut dan sikap orang. Orang Indonesia, entah karena empati atau karena usil saja, selalu bertanya,”Kapan punya momongan?” Ketika tahu seseorang sedang bermasalah, mereka tak bisa membantu, bisanya mencela dan merecoki.

Yang paling menyakitkan bagi perempuan adalah kalau suaminya tak sepenuhnya mendukung dia. Saat istrinya sedang tertekan akibat infertilitas dan keusilan sosial orang-orang, suaminya cuek. Bahkan saat istrinya ditekan oleh keluarga si suami, dia tidak memberikan perlindungan yang cukup.

Ada perempuan yang mengadu pada saya, ibu mertuanya terang-terangan meminta suaminya menceraikan dia karena belum kunjung hamil. Dia sedih akibat tekanan mertua itu. Tapi lebih sedih lagi, karena suaminya tak menunjukkan pembelaan yang memadai. Ia memang tidak menceraikan istrinya. Tapi ia tak mengoreksi sikap ibunya. Istrinya harus bertarung sendiri secara psikologis. Menghadapi persoalan infertilitas saja sudah sangat berat bagi perempuan. Lalu masih ditambah lagi dengan berbagai teror psikis. Kalau di saat itu suaminya tidak bisa menunjukkan keberpihakan dan pembelaan yang tegas, keadaanya betul-betul menyakitkan.

Ada lagi jenis masalah lain, yaitu suami tipe raja. Ia merasa tugasnya bekerja, cari uang. Cuma itu saja. Dengan terlaksananya tugas itu, selebihnya ia adalah raja yang harus dilayani. Segala hal harus disediakan istri. Makan, minum, pakaian, bahkan sekadar selembar sapu tangan pun ia tak mau mengurus sendiri.

Ia tak mau terlibat sedikit pun dalam urusan pengasuhan anak. Ia anggap itu semua tugas istri. Istri yang mengasuh 2 anak akan pontang-panting kalau bekerja sendiri. Kalau mengasuh 3 atau 4 anak, akan lebih pontang-panting lagi. Ia layak diberi bantuan. Kalau tak disediakan pembantu, suaminya harus membantu. Kalau tidak dibantu, istri bisa dikatakan tak lagi istri, tapi sekadar pelayan saja.

Ada tipe suami yang bahkan tak mau ikut membantu urusan rumah tangga, padahal istriya juga bekerja di luar rumah. Sama-sama pulang kerja di malam hari, istri masih harus membereskan rumah, mencuci pakaian, dan memasak makanan. Suami duduk santai menonton TV. Bahkan ia pun masih menuntut disediakan kopi.

Bagaimana menghadapi suami-suami macam ini? Istri berhak menuntut perlakuan yang adil. Ajak suami untuk bicara baik-baik. Minta pengertian dia. Cuma masalahnya, banyak suami jenis ini yang memang tak mau mengerti. Kebanyakan perempuan merasa lelah berharap, kemudian hanya menyimpan dongkolnya sendiri. Sebagian kecil memilih untuk meninggalkannya.

Suami yang tak hadir melindungi istrinya, sepatutnya memang ditinggalkan saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *