Kami bukan Kacung Asing

Saya kerja di perusahaan asing. Beberapa kawan saya dari kalangan lambat mikir sesekali mengejek saya sebagai antek asing. Ada juga yang menyebut saya kacung asing. Sederhananya, bagi mereka, orang yang kerja di perusahaan asing itu mengabdi pada kepentingan asing.

Tidak sedikit orang yang gagal melihat bahwa orang-orang yang bekerja di perusahaan asing justru bisa berperan membela kepentingan nasional kita. Mereka berpikir terlalu sederhana, bahwa karena kami digaji oleh peusahaan, maka kami akan mati-matian membela kepentingan perusahaan, mengalahkan kepentingan nasional.

Sebenarnya bisnis, baik oleh modal dalam negeri maupun asing, punya kepentingannya sendiri. Banyak perusahaan lokal yang bahkan tidak peduli pada kepentingan nasional. Mereka dengan enteng melakukan praktek korup, menyuap aparat, dalam menjalankan bisnis. Mereka merusak lingkungan, membayar upah buruh rendah, melakukan kecurangan pajak, dan sebagainya.

Tentu perusahaan asing pun ada yang begitu. Tapi ada juga perusahaan asing yang taat hukum, dalam istilah manajemen menjaga compliance atau kesesuaian dengan hukum setempat, dalam melaksanakan bisnis. Dalam konteks ini saja sebenarnya sudah tidak relevan lagi kategori asing dan non asing. Soalnya adalah sesuai hukum atau tidak.

Waktu menjadi direktur di sebuah perusahaan manufaktur skala menengah di Karawang saya tekankan soal kesesuaian hukum ini kepada manajemen di kantor pusat. Misalnya soal pajak. Ketika perusahaan mulai menuai pajak, saya sodorkan angka pajak pengjasilan yang harus kami bayar. Saya hitung angka itu tanpa kecurangan. “Bayar,” kata saya.

Bos saya waktu itu berkomentar. “Jujur saja, di Jepang pun saya merasa sesak kalau melihat angka pajak yang harus dibayarkan. Tapi sejak awal memang harus disadari bahwa kena pajak itu adalah konsekuensi dari aktivitas bisnis,” katanya.

Saya selalu tegaskan, jangan coba-coba mengakali hukum, khususnya dalam soal perpajakan. Alasan saya, saya direktur lokal. Segala tindakan melawan hukum akan berakibat pada diri saya pribadi. “Kalian kan bisa pulang ke Jepang kalau ada masalah,” kata saya.

Sebenarnya bukan itu soalnya. Ini negara saya. Kalian jangan berak sembarangan di sini.

Di perusahaan tempat saya bekerja sekarang saya merasa lebih nyaman lagi. Perusahaan menetapkan panduan kesesuaian hukum secara global. Prinsipnya, perusahaan tidak boleh melanggar hukum. Lebih membahagiakan lagi, saya bertugas menyampaikan panduan itu ke seluruh karyawan di grup kami, 12 perusahaan.

Banyak orang protes ketika saya sampaikan bahwa menyuap aparat itu adalah tindakan terlarang di perusahaan. “Tidak mungkin kita bisa kerja tanpa menyuap,” kata mereka. Saya jawab saja “Anda ini mengeluh kalau pejabat negara korupsi. Tapi Anda sendiri tidak mau mengeluarkan upaya sedikit pun untuk memberantas korupsi.”

Kata saya, kita sering menuding aparat korup. Tapi sangat sering kita mendorong mereka untuk korup. Sebabnya adalah kesalahan dan kemalasan kita. Anda salah mengisi laporan pajak. Lalu perusahaan terancam denda dalam jumlah besar. Anda menyuap aparat untuk menutupi kesalahan itu. Siapa sebenarnya yang korup?

Tingkah laku kita di perusahaan, baik asing maupun lokal, berkontribusi untuk membuat negara ini jadi lebih baik atau lebih buruk.

Bagi saya perusahaan adalah lembaga pendidikan. Di negara-negara maju orang belajar di perguruan tinggi. Tapi mereka tidak belajar di situ seumur hidup. Keahlian justru banyak dibangun di tempat kerja, di perusahaan.

Pertanyaannya adalah, apakah Anda sudah menjadikan perusahaan sebagai tempat belajar? Apakah kompetensi dan keahlian Anda meningkat selama bekerja? Ingat, peningkatan keahlian Anda bukan sekadar soal manfaat pribadi yang Anda terima. Itu juga adalah kontribusi Anda pada negara. Kemajuan suatu negara ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Apakah Anda sudah berkontribusi dengan meningkatkan kualitas Anda?

Saya berperan lebih dari itu. Saya mendorong orang-orang di perusahaan untuk belajar. Saya menyediakan sarananya. Saya dorong perusahaan untuk menyediakan kebutuhan belajar itu. Saya tuntut perusahaan untuk melakukannya.

Ini adalah tindakan timbal balik. Di satu sisi perusahaan akan lebih untung kalau sumber daya manusianya bagus. Di sisi lain negara juga ikut menikmatinya. Hanya saja, tak jarang orang-orang di level manajemen enggan berinvestasi dalam hal ini. Maka, saya mendorongnya. Di situ nasionalisme saya tempatkan.

Maaf, kami bukan kacung asing. Kami membela kepentingan nasional di tempat kami bekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *