Kafir: Akidah, Sosial, Politik

Saya sering ditanya soal makna kata kafir. Sebagaimana umumnya sebuah kosa kata, kata ini memang tidak tunggal maknanya. Terlebih, kata ini mengandung makna perkubuan. Ia melibatkan rasa pula, soal baik dan buruk.

Makna dasar kata kafir (kufr) adalah menutup. Kafir artinya menutup diri terhadap sesuatu yang disampaikan. Kalau mengacu pada makna ini kafir itu bisa bermakna sama dengan anti reformasi, setia pada status quo, dan nyaman di comfort zone. Jadi, dalam konteks ini orang-orang yang ingin berada di zona nyaman bisa saja disebut orang kafir.

Dari pengertian dasar itu kita harus mencatat bahwa kafir tidak sekedar soal menutup diri atau menolak, namun ia terkait dengan apa yang ditolak. Kafir dalam pengertian yang umum dipakai adalah menolak kebenaran yang dibawa dari Tuhan.

Hal penting berikutnya adalah, Tuhan yang mana? Tentu saja Tuhan orang yang menunjuk kafir. Saya datang kepada Anda, menyampaikan kebenaran dari Tuhan saya, lalu Anda menolak, maka Anda saya sebut kafir.

Lebih khusus lagi, kafir itu adalah istilah dalam sejarah Islam. Maka secara khusus dapatlah dikatakan bahwa kafir itu adalah orang-orang yang menolak Islam. Dalam pengertian ini setiap non muslim adalah kafir.

Burukkah kafir itu? Tentu saja buruk, bagi yang menunjuk. Kalau saya menunjuk seseorang kafir, tak mungkin saya menganggap dia baik. Karena saya mewakili kebenaran, sedangkan dia menolaknya. Bagaimana mungkin dia baik.

Tapi ingat, ini soal sudut pandang. Bagi saya, yang saya bawa ini kebaikan. Tapi belum tentu itu kebaikan bagi orang lain. Pihak lain juga berhak melakukan klaim yang sama. Artinya, tunjuk kafir itu bisa berlaku timbal balik. Orang Kristen adalah kafir bagi orang Islam, orang Islam adalah kafir bagi orang Kristen. Adil, kan?

Bahasan kita sejauh ini fokus pada ruang lingkup iman atau akidah. Bagaimana secara sosial? Persoalannya jadi lebih rumit. Ajaran agama itu tidak hanya soal iman, tapi lebih banyak yang terkait dengan amal. Amal ini yang punya wujud nyata dalam tindak tanduk sosial. Dari situlah orang akan menilai soal baik buruk.

Contoh, burukkah orang yang makan babi? Bagi orang Islam babi itu haram. Jadi kalau orang Islam makan babi, maka ia pasti orang yang buruk. Tapi bagaimana dengan non muslim yang makan babi? Banyak orang Islam yang menganggap buruknya makan babi itu tidak terkait iman. Ia buruk mutlak. Maka siapapun yang makan babi pasti buruk. Mereka bahkan membuat-buat penjelasan soal kenapa makan babi itu buruk.

Kita masuk ke soal yang lebih rumit lagi, soal zina. Zina artinya bersenggama di luar ikatan pernikahan. Burukkah berzina itu? Islam melarang orang berzina, jadi tentu saja berzina itu buruk. Yang kafir terhadap ajaran yang melarang zina, melakukan perzinaan, adalah orang buruk. Agama-agama lain juga mengajarkan hal yang sama. Maka hampir semua agama dan adat menganggap zina itu buruk.

Tapi ingat, bagi yang tidak beriman pada Islam, atau agama apapun, atau terikat dengan adat manapun, mereka tidak menganggap zina itu buruk. Tapi bukankah mereka menyimpang dari ajaran agama atau adat yang sudah ada?

Sebenarnya bila kita lihat dalam perspektif sejarah peradaban yang panjang, sejarah kita sebenarnya penuh dengan simpangan. Termasuk agama. Kristen itu simpangan dari Yahudi. Islam adalah simpangan dari Yahudi dan Kristen. Simpangan biasanya hanya terasa di titik simpang, setelah itu yang kita lihat adalah jalan-jalan yang sejajar. Kristen dulu adalah penyimpangan dari Yahudi, tapi kini keduanya hadir besama, co-exist.

Persenggamaan tidak di bawah pernikahan adalah sesuatu yang relatif baru, jadi masih belum jauh dari titik simpang. Tapi perlahan ia juga mulai menjadi jalan sejajar dengan pandangan-pandangan lain.

Jadi, burukkah kafir itu secara sosial? Jawabannya tergantung pada sudut pandang yang kita pakai dalam menilai.

Bahasan terakhir adalah soal politik. Islam diperkenalkan di Mekah. Sebagian kecil orang Mekah menerima, sebagian besar menolak. Muhammad akhirnya terusir dari Mekah bersama pengikutnya. Terjadilah permusuhan antara kedua kelompok. Quran selalu menyebut orang Mekah itu kafir. Sebutan itu tidak hanya karena mereka menolak ajaran Islam, tapi juga karena mereka memusuhi.

Mekah itu kafir. Mekah itu musuh. Lama-lama dua hal yang sebenarnya berbeda itu menjadi identik: kafir itu musuh.

Babak selanjutnya dalam sejarah Islam berisi berbagai konflik. Mula-mula dengan kelompok-kelompok Yahudi di sekitar Madinah. Kemudian dengan berbagai kelompok lain. Bahkan kemudian meluas hingga jauh keluar dari semenanjung Arab. Semangat yang dibawa tetap sama. Kami ini Islam, yang menolak kami adalah kafir. Kami disuruh Allah, maka musuh kami adalah musuh Allah. Kepentingan kami adalah kepentingan Allah.

Agama kini berimpit dengan politik. Kafir adalah siapapun yang menolak berada dalam kekuasaan kami. Kafir adalah siapapun yang ada di luar kelompok kami. Kafir bukan lagi soal memilih mana yang mau diimani, sebagaimana tawaran awal dari Allah: Man yasya’ fal yu’min, wa man lam yasya’ fal yakfur. Tak ada lagi pilihan bebas.

Karena kafir itu buruk, dan musuh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *