Islam Warna-warni

warnaPergi belajar ke Jepang memberi saya kesempatan untuk bergaul dengan orang Islam yang datang dari berbagai penjuru dunia. Kesan yang segera saya rasakan adalah betapa Islam itu penuh warna. Dalam arti harfiah, warna warni itu terasa dari warna kulit orang-orang. Ada orang Asia Tenggara berkulit coklat, Asia Selatan dan Timur Tengah dengan hidung mancung yang khas, lalu orang Afrika yang berkulit hitam legam. Ada pula orang Asia Tengah yang tampak lahirnya adalah perpaduan antara Asia dan Eropa. Lalu ada orang-orang Eropa yang berkulit putih.

Salah satu teman menarik yang saya kenal di Sendai bernama Chiek Ndiayik. Dia orang Senegal. Badannya tinggi, kulitnya hitam legam. Sebagai warga negara dari bekas jajahan Perancis, ia fasih berbahasa Perancis. Ia juga fasih berbahasa Inggris. Lalu, ia datang ke Jepang dengan beasiswa pemerintah Jepang, mendapat pelatihan bahasa Jepang sampai fasih. Saya sering berbincang dengan Chiek dalam bahasa Jepang. Kadang saya merasa lucu, berbicara dalam bahasa Jepang dengan orang Afrika.

Teman saya yang lain adalah Tareq, orang Maroko. Sama seperti Chiek, dia fasih berbahasa Perancis, Inggris, dan Jepang. Itu masih ditambah lagi dengan bahasa Arab. Sesekali saya menyapanya dalam bahasa Arab. Tapi karena kemampuan bahasa Arab saya terbatas, lanjutan pembicaraan biasanya beralih ke bahasa Inggris atau Jepang. Diskusi tentang Islam menjadi terasa unik ketika hal itu kami lakukan dalam bahasa Jepang.

Usai salat Jumat biasanya sebagian jamaah tak langsung pulang. Mereka bergerombol di pinggir jalan, mengobrol. Mereka mengelompok berdasarkan bahasa. Orang-orang Arab, yang terdiri dari Mesir, Syiria, Yordania dan sebagainya membentuk kelompok sendiri. Sedangkan orang Indonesia biasanya bergabung bersama orang Malaysia. Pakistan, India, dan Bangladesh sering terlihat bersama. Kalau sudah begitu akan terdengar obrolan dari berbagai bahasa yang sulit dipahami antara satu dengan yang lain. Dalam hal pakaian tak banyak perbedaan. Hampir semua berpakaian “model Barat”. Hanya sedikit yang memakai baju khas Negara mereka, di antaranya orang Pakistan dan Bangladesh.

Warna-warni juga terasa dalam pengertian lain. Dalam beribadah, karena berbagai latar belakang mazhab yang dianut di negara masing-masing, terasa perbedaan di sana sini. Perbedaan terasa dalam tata cara ibadah, bacaan-bacaan yang diucapkan saat khutbah atau berdoa. Bukan perbedaan yang sangat fundamental, memang. Namun memberi rasa bahwa kita berbeda-beda, namun satu Islam.

Perbedaan juga terasa dalam sikap keseharian. Ada yang begitu ketat berpegang pada syariat, ada yang lebih longgar. Dalam soal makanan misalnya, ada yang mau makan daging yang tersedia di pasar selama itu bukan daging babi, di tengah mayoritas yang tak mau memakannya. Dalam hal makanan olahan, ada yang mau repot-repot mencari informasi kehalalan satu produk, sedang yang lain merasa hal itu tidak perlu.

Meski merasakan adanya perbedaan, jarang ada yang mau mengangkatnya ke permukaan. Mungkin karena masing-masing sadar bahwa hal itu akan sulit dicarikan titik temunya. Juga sadar bahwa sedikit yang punya cukup ilmu untuk mendiskusikannya. Sesekali ada satu dua yang mencoba memperdebatkan perbedaan yang ia lihat, biasanya berakhir tanpa kesimpulan yang jelas. Akhirnya banyak yang enggan melakukannya. Masing-masing melaksanakan ibadah dan kehidupan sesuai dengan keyakinan mereka selama ini.

Ada hal menarik yang saya rasakan soal perbedaan ini, yaitu menyangkut orang Iran. Entah kenapa, mereka seperti “terpisah” dari orang-orang Islam yang lain. Hampir tidak ada orang Iran yang datang salat Jumat. Mereka jarang pula ikut dalam kegiatan Islamic Center. Apakah karena mereka syiah? Entahlah. Dari kawan-kawan yang umumnya sunni saya tak pernah mendengar adanya cerita atau indikasi penolakan. Saya simpulkan saja bahwa orang-orang Iran lah yang sengaja menjaga jarak.

Secara keseluruhan, saya merasa nyaman dengan situasi warna-warni ini. Mungkin aneh bagi orang yang biasa melakukan “amar ma’ruf, nahi munkar”, yang biasanya langsung bereaksi terhadap sesuatu yang berbeda dari dirinya. Tapi saya justru melihat, inilah cara berislam yang dewasa. Amar ma’ruf itu menyeru kepada yang ma’ruf, konsepnya berbeda dengan mencampuri urusan pribadi orang lain.

 

2 thoughts on “Islam Warna-warni”

  1. Pak Hasan,
    Setelah masjid besar jadi (tentunya setelah Pak Hasan ga ada), ada salahsatu rapat besar tentang kepengurusan masjid. Sebetulnya secara demografis orang Islam, komunitas Iran itu kurang lebih sama besar dengan komunitas Indonesia, dimana keduanya adalah yang terbesar dibandingkan komunitas lainnya (bahkan Mesir dan Pakistan/Bangladesh) sekalipun.

    Di rapat itu di masjid baru, komunitas Iran pun datang. Jumlah yang datangnya pun proporsional dengan jumlah komunitasnya (waktu itu orang Indonesia pun datang 4 orang, sesuai proporsinya). Banyak hal didiskusikan di situ. Sebetulnya tertangkap kesan bahwa mereka pun mau kok untuk mulai terlibat aktif di masjid. Dan disaat pembicaraan untuk kontribusi iuran pun, mereka nampak tidak keberatan. Bahkan kita yang dari Indonesia cukup mendorong yang Iran untuk lebih aktif lagi. Rapat memanjang, lalu memanas (terutama tentang tempat parkir, dimana orang Indonesia mah take it easy aja karena pada ga punya mobil, tapi orang2 TimTeng maksa untuk memperluas demi mobil2 mereka), dan lalu ke urusan imam…. nah ini dia….

    Kalau orang Indonesia sendiri sebetulnya lebih take it easy. Itu masjid di Jepang, kita-kita yang berbeda negara yang bangun. Masalah imam masjid, ya giliran aja dari kita-kita. Ganti2an untuk imam dan khatib sholat Jumat. Paling kalau Ramadhan, nanti kita undang dari mana buat jadi imam sementara, itupun prinsipnya ganti2an. Tapi, di rapat, ada yang keukeuh untuk mendatangkan imam harus dari satu negara tertentu, atau kalau tidak dari satu negara yang lainnya (sebelahan). Harus yang di sananya ulama.

    Sebetulnya beratnya adalah di masalah biaya, siapa yang mau menggaji imam nya kalau begitu. Tp yang jelas kalau orang Indonesia dan Iran lebih prefer ya ganti2an aja…. berlanjut-berlanjut, akhirnya malah pecah dan keluar kata-kata Sunni dan Syiah… bla… bla… bla…. Seolah2 ada yang ga mau diimami, seandainya pas jatuhnya giliran imam Jum`at pas giliran orang Iran. Walaupun komunitasnya bisa dihitung jari, yang nyelekit itu adalah ungkapan dari orang negara yang lagi ancur2an sekarang di sebelah yordania. Akibatnya….. pundunglah komunitas Iran. Dan apa2 yang sudah diomongkan baik2, termasuk good will nya mereka untuk iuran dan mulai aktif, ya ga jadi…. mereka ga dateng lagi ke masjid baru.

    Untungnya di rapat masjid berikutnya yang ada sampe banting2an meja, cuman lagi-lagi gara2 urusan parkir, komunitas Iran ga dateng…. Dan kebetulan saya pun ga dateng….. Yang perang meja ya antara orang Timteng sama Asia selatan. Orang Indonesia dan Malaysia, serta orang Jepang muslim nya hanya jadi penonton “indah”-nya Islam (atau lebih tepatnya mental Timteng).

    Padahal di space di atap gedung saya (ruangan kecil di tangga di sebelah kontroller elevator) yang dijadiin musholla oleh saya, kadang2 ada orang Iran yang ikut pake buat sholat….. sampai datanglah satu orang Mesir ke institut yang “beda” dengan orang Mesir lainnya di kota kita. Sejak itu orang Iran itu ga pernah kelihatan lagi… Entah kenapa… pastinya bukan karena “dibujuk untuk nikah lagi” sama orang Mesir itu…. Cuman gara-gara istri saya jauh di negara lain, orang Mesir itu “nyuruh”, “udah cari istri lagi aja di Jepang…supaya lebih syar`i”. Gitu katanya…..

    Begitulah alkisah setelah Pak Hasan tidak ada…..

  2. nice share pak hasan,
    sayang sekali pas saya di jepang saya belum baca blog ini,
    lagian saya disana jadi penerjemah bukan sekolah beasiswa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *