Islam Proaktif

proactive

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Ada seseorang yang berkomentar di tulisan saya. Ia membantah tulisan saya yang mengatakan bahwa ada ajaran Islam yang reaktif. Islam adalah ajaran cinta damai, rahmatan lil alamin, bla bla bla. Tapi sejurus kemudian ia menulis beberapa komentar lagi soal kitab orang Kristen yang sudah tidak asli dan banyak diselewengkan isinya.
 
Saya tidak tahu apakah orang ini cacat nalar bawaan lahir, atau ia menjadi cacat nalar karena ajaran agamanya. Tapi orang sejenis ini ada banyak di tubuh umat Islam. Yaitu orang yang dengan enteng mencela ajaran agama lain, tapi merasa dirinya cinta damai. Bisakah Anda bayangkan hal itu dilakukan secara terbuka oleh umat lain? Misalnya, kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa Quran itu kitab palsu, atau salah isinya, apa yang akan terjadi pada orang itu?
 
Beragama dengan kesibukan membahas ajaran agama lain itu adalah beragama secara reaktif. Demikian pula halnya beragama dengan pikiran bahwa umat lain sedang memusuhi kita, dan segala macam kekacauan dan ketertinggalan kita disebabkan oleh pihak lain. Ahli pengembangan diri Steven Covey menyebut sikap yang demikian ini adalah sikap reaktif. “Kalau kamu merasa semua masalah yang menyebabkan berbagai kesulitan hidupmu sumbernya ada di luar dirimu, maka kamu adalah manusia yang paling bermasalah,” tulis Covey dalam bukunya “7 Habits of the Highly Effective People”.
 
Covey memperkenalkan konsep proaktif, yaitu konsep yang berfokus ke dalam, kepada diri sendiri, fokus kepada yang dia sebut lingkaran pengaruh. Fokus kepada pihak luar dia sebut fokus kepada lingkaran kepedulian. Orang yang proaktif akan sibuk membenahi diri internalnya ketimbang mengurusi pihak lain. Ia memilih tindakan-tindakan sesuai nilai yang dia anut, berdasarkan kebutuhan, bukan sebagai reaksi terhadap keadaan di sekitar dia.
 
Umat Islam, khususnya di Indonesia, masih bergelut dengan berbagai persoalan kebodohan dan keterbelakangan. Masih ada puluhan juta muslim hidup di bawah garis kemiskinan. Masih ada jutaan anak putus sekolah. Sekolah-sekolah yang dimiliki, masih banyak yang mutunya rendah dan dikelola secara asal-asalan.
 
Meski mayoritas, kaum muslim bukanlah penguasa ekonomi. Kenapa bisa begitu? Ini terkait dengan soal di atas, yaitu soal rendahnya pendidikan. Tapi tidak hanya itu. Ini juga terkait dengan rendahnya etos kerja. Orang hidup terbiasa tidak tertib, tidak tepat waktu, tidak jujur, dan sebagainya. Orang terbiasa hidup dengan sikap-sikap yang tidak mendorong ke arah kesuksesan.
 
Saya lebih tertarik untuk membenahi hal-hal ini. Maka saya dalam berbagai kesempatan selalu mengajak umat Islam, khususnya anak-anak muda untuk bergerak maju. Move forward! Ada begitu banyak ajaran Islam yang hebat-hebat dan membuat kita jadi hebat, bila dilaksanakan. Sering saya tulis soal ajaran tepat waktu, yang membuat negara-negara maju bisa punya sistem transportasi handal. Orang-orang Jepang membangun sistem produksi manufaktur berbasis pada prinsip “just in time”.
 
Islam mengajarkan orang untuk tepat waktu. Kalau puasa, kita punya jadwal salat yang detil dalam hitungan menit. Kita semua tertib benar untuk sahur dan berbuka sesuai jadwal itu, tepat sampai ke satuan menit. Kita tidak akan pernah sahur terlambat satu menit, atau buka puasa lebih cepat 1 menit. Tapi apa yang kita lakukan di luar itu? Apakah kita tepat waktu saat masuk kantor? Apakah kita tepat waktu saat hadir di sebuah rapat? Tidak.
 
Demikian pula soal kebersihan. Kita semua hafal dalil soal kebersihan sebagian dari iman. Tapi tangan-tangan kita dengan enteng mengotori tempat-tempat umum.
 
Dengan segala kebodohan dan keterbelakangan itu, kita masih sibuk mengurusi umat lain, merecoki ajaran mereka. Kemudian kita sibuk pula menebar kebencian. Mau apa kita ini hidup?
 
Saya sering dengan keras mengritik perilaku reaktif itu. Bagi sejumlah orang, saya dikenal sering memojokkan Islam, atau memusuhi Islam. Tidak. Yang saya pojokkan adalah perilaku-perilaku bodoh yang mereka kira bagian dari ajaran Islam. Tafsir-tafsir bodoh, praktek-praktek bodoh, itulah yang saya telanjangi. Saya katakan bahwa yang bodoh itu bodoh, yang salah itu salah. Para pelakunya merasa mereka sedang menjalankan ajaran Islam, bahkan mengidentikkan dirinya dengan Islam. Maka kalau mereka dikritik, mereka merasa Islamlah yang sedang dikritik. Bahkan mereka merasa Islam sedang dilecehkan.
 
Ini adalah sikap-sikap yang akan membuat kaum muslim terus terbelakang dan bodoh. Kalau sikap ini tidak diubah, maka tidak akan ada perubahan pada masa depan umat Islam. Karena itu saya tidak pernah bosan mengajak umat Islam, khususnya kaum muda, untuk memperbaiki diri, mengubah sikap. Bergerak maju, memastikan masa depan yang lebih cerah. Dengan ajaran Islam, move forward, be proactive!
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *