Islam Minus Sains

Banyak orang Islam yang begitu mudah percaya pada dongeng-dongeng atau hoax tentang kecocokan Quran dan sains. Juga dengan mudah mereka percaya pada ocehan para penentang evolusi seperti Harun Yahya atau Zakir Naik. Mengapa? Karena mereka ini tidak paham sains. Mereka tidak belajar sains, bahkan tidak membaca buku-buku sains populer. Saya tidak katakan semua, artinya tidak semua umat Islam begitu. Juga tidak semua dari mereka itu tidak paham sains. Pernah pula saya bertemu dengan doktor di bidang biologi yang bahkan menolak mengajar di kuliah biologi karena menolak teori evolusi.

Secara keseluruhan dunia Islam memang sangat tertinggal dalam sains. Negara-negara Arab yang kaya raya itu dulu saya kira berinvestasi dalam hal pendidikan dan sains. Ternyata tidak. Saya terkejut ketika 10 tahun yang lalu tahu kenyataan bahwa sampai tahun 2000 jumlah universitas di Arab Saudi masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Indonesia ternyata jauh lebih baik. Tapi yang jauh lebih baik itupun jauh dari baik. Penerima Hadiah Nobel di bidang sains dari seluruh negara Islam baru ada 3. Israel, satu negara saja, sudah menghasilkan 5 pemenang untuk bidang sains.

Lalu, apa yang dilakukan umat Islam? Mengecam ilmuwan Barat yang menurut mereka tidak beriman, ateis, dan berakhlak buruk. Atau, mencari-cari kecocokan antara isi Quran dengan sains, yang (padahal) menurut mereka diteliti oleh orang-orang tidak beriman tadi. Atau, mencoba membangun apa yang mereka sebut “sains Islam”, sebuah bangunan di atas kertas atau di dunia mimpi.

Apa produk teknologi dari dunia Islam saat ini? Nyaris tidak ada. Bahkan senjata yang dipakai oleh umat Islam untuk saling berbunuhan dengan sesamanya, itu juga bukan buatan mereka. Mereka membelinya dari orang-orang kafir. Jadi, orang-orang kafir mendapat uang dari setiap pembunuhan yang terjadi antara umat Islam.

Mengapa semua ini bisa terjadi? Pertama, kemiskinan. Kemiskinan membuat pendidikan tidak bisa berkembang dengan baik. Kemiskinan melanda hampir seluruh wajah dunia Islam, kecuali beberapa bagian seperti negara-negara Teluk yang kaya minyak. Negara-negara ini pun sekarang sudah mulai kesulitan secara ekonomi. Tapi seperti yang saya jelaskan tadi, negara-negara kaya pun juga tidak mengembangkan sistem pendidikan yang baik.

Sebab lain, berhentinya tradisi berpikir. Studi-studi Islam sendiri sejauh yang bisa saya amati basisnya adalah menghafal dan merangkum, bukan berpikir. Orang-orang dibekap di bawah dogma, berpikir bisa dianggap menentang Tuhan.

Sebab lain, paranoid terhadap kekafiran. Masih sangat banyak orang Islam yang terdogma untuk menganggap Barat itu musuh. Sains modern adalah produk barat, yang sebagian di antaranya dipercayai sebagai alat untuk merusak dan menghancurkan Islam. Karena itu harus ditolak.

Tentu Anda bingung dengan penjelasan di atas. Kaya, tapi tidak terdidik. Menolak Barat dan sains mereka, tapi memakainya untuk mencari-cari pembenaran terhadap Quran. Menolak orang-orang kafir, tapi memakai produk sains untuk bertahan hidup, atau untuk mengakhiri hidup saudara-saudaranya. Bagaimana bisa? Inilah puncak kebodohan, atau ramuan pungkas dari berbagai bentuk kebodohan, yaitu inkonsistensi. Hanya orang-orang bodoh yang paripurna yang sanggup melakukan kebodohan seperti ini.

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Pertama, menyadari bahwa kita memang tertinggal. Kedua, berhentu berimajinasi tentang sains Barat yang sesat. Ketiga, berhenti berpura-pura menolak produk Barat, padahal setiap sudut kehidupan kita ditopang oleh produk Barat. Keempat, berhenti menuduh kafir pada orang-orang yang berpikir. Kelima, belajar dengan benar, sehingga tidak mudah dibodohi dengan sains. Keenam, berhenti mencari kebenaran sains pada Quran. Quran itu bukan kitab sains. Sumber sahih tentang alam adalah alam itu sendiri. Ketujuh, berhenti bersikap ekslusif dengan melupakan gagasan sains Islam. Rumusan sains seperti hukum tentang gravitasi tidak akan berubah bila dirumuskan oleh orang Islam. Kedelapan, mendorong anak-anak kita untuk belajar berpikir dengan benar, serta membimbing mereka. Dan masih banyak lagi sikap-sikap positif terhadap sains yang mesti dikembangkan.

 

31 thoughts on “Islam Minus Sains

  1. DedoyXP

    Bang, saya tau ada beberapa orang yang beragama islam sok tau tentang sains, tapi, ente juga jangan sok tau tentang islam. Tokoh seperti Zakir Naik adalah dokter yang mempelajari Sains, mempelajari al-quran, mempelajari agama-agama lain, dia juga mengakui hukum-hukum sains yang berasal dari barat… Saat ceramah juga memakai jas, seperti orang barat… Ente cuman tau khotib jumat yang emang kadang ngaco aja sok tau…

    Reply
    1. Ekosuryo

      Ibn Khaldun thn 1100an, Ibn Maskawih dan Al Jaiz sebelum milenium pertama sdh bicara ttg Evolusi…ratusan tahun sebelum Darwin ke Galapagos. Lha kok Zakir Naik bisa2nya nolak evolusi…

      Biar bisa maju kita harus rendah hati utk sadar kita ini bodoh, dan mau belajar terus. Para Saintis Islam dulu jg belajar ke Persia, Yunani dan India, belajar ke “kafir2” kok, dasar Metode Ilmiah yg menjadi pondasi Iptek sekarang yg nemukan ya Saintis Islam 1000 thn lalu. Sekarang boro2 ada penemuan malah mati2an cocoklogi…wew

      Mas Abdurakhman teruskan otokritik anda, biar generasi muslim sadar kita ini ketinggalan, dan bergegas belajar lagi. Gak peduli belajar dr “kafir” yg manapun…

      Reply
    2. econ

      Wkwkwkkw ente juga ternyata sok tau. Klo si zakir penjual obat itu mempelajari sains dengan baik, seharusnya dia sudah paham yang namanya teori, hukum, dan hipothesis. Ini mah kagak tau ketiganya wkwkwkwkw. Sampah benar dah itu zakir.

      Reply
  2. Khadeeja

    Hahaha, boleh tertawa nggak? Mungkin selama ini banyak inventer dari negara-negara Islam yang kurang dikenali atau tidak diekspose besar-besaran oleh media.
    Mengenai prestasi, saya kira banyak kok orang Islam yang juga berprestasi. Saya sebagai muslim setuju apabila orang Islam sendiri harus dididik berpikir kreatif dan open minded terhadap dunia sekelilingnya. Saya juga sependapat dengan anda bahwa saat ini bukan saatnya kaum muslim berpikiran tradisional dan berperang melalui senjata. Tapi bukan berarti Islam membiarkan liberalisme merasuki ajarannya. Saya rasa pola pikir anda dalam tulisan ini terlalu liberal.

    Reply
  3. Hamba Allah

    Menuduh islam minus sains sementara tulisan anda sendiri saja tidak ilmiah. Tidak ada satupun fakta dalam tulisan anda yg menggambarkan Al quran tdk pernah terbuktikan kebenarannya oleh sains. Tak ada satu ulama pun yang mengatakan bahwa Islam menolak sains apalagi dr Barat. Saya jd ragu keiislaman penulis. Malah saya yakin sekali ini hanyalah upaya mendeskreditkan Islam dan mempropaganda pemikiran kaum awam sehingga terkecohkan oleh tulisan anda.

    Reply
    1. Manusia Biasa

      Saya setuju. Memang tulisan ini sangat bagus dilihat dari susunannya. Tetapi apabila tidak hati hati dalam memahami, bisa terbawa ke penyimpangan terhadap Alquran dan Islam, dan ini tersusun secara “SANGAT HALUS” penyimpangannya. Semoga kita dan juga penulis selalu diberi petujuk dalam mencari dan menjalankan ilmu kebenaran dikehidupan ini , dan selalu dilindungi Alloh dari godaan2 setan yg lihai dalam menggoda manusia.

      Reply
  4. ekki

    Salam
    Says belajat Quran,rasanya tidak ada yg bertentangan dengan saints.Kecuali memang teori evolusi Darwin…

    Reply
  5. Asih

    Tulisannya bagus dan well-structured, well argued. Terima kasih sudah menulis artikel seperti ini. Semoga semakin semangat menjadikan Sains sebagai pedoman hidup, karena pada hakekatnya banyak kebenaran Tuhan yang saya rasa memang tertulis di sana.

    Reply
  6. lesstea

    Padahal sudah jelas di awal artikel, penulis mencantumkan kalimat “Saya tidak katakan semua, artinya tidak semua umat Islam begitu. Juga tidak semua dari mereka itu tidak paham sains.
    Dan sudah jelas fokus dari artikel ini adalah untuk membicarakan mereka yang masuk dalam kategori yang dijabarkan di paragraf pertama.

    ….daripada mengerti sains, lebih baik dianjurkan mengerti ilmu logika deh. Biar ngerti cara berpikir logis, dan bukan cuma ambil secuil-secuil secara asal lalu seenaknya bikin konklusi.

    Reply
  7. Sorcerer13

    Sayangnya mayoritas Umat Islam masa kini lupa dengan ayat pertama yang diturunkan, yaitu “Iqra”, membaca. Dan juga di banyak kajian tauhid dijelaskan bahwa “Iqra” di sana tidak hanya terbatas pada ayat-ayat yang tertulis di dalam Al-Qur`an semata, melainkan tuntutan untuk membaca ayat-ayat kauniyah, yaitu alam (universe) dan manusia itu sendiri, yang merupakan ciptaan Allah SWT.

    Masih ingatkah kita tentang seberapa besar ilmu Allah yang diibaratkan seluruh lautan menjadi tinta, itupun kalau dikali tujuh, tidak akan cukup menuliskan semua ilmu Allah. Artinya apa? Al-Qur`an itu sendiri adalah sebuah buku, yang bisa dituliskan dengan tinta. Berarti apa yang ada di Al-Qur`an itu adalah subset dari ilmu Allah. Dan manusia dituntut untuk mencari sendiri sisa-nya dengan tuntunan apa yang ada di Al-Qur`an. Sayangnya mayoritas umat Islam sekarang tidak melakukannya.

    Ada tiga hal yang membuat perkembangan ilmu pengetahuan begitu pesat di zaman abad pertengahan, yaitu: (1) kemampuan menguasai/membuat the language of science dan membuatnya terbuka (saat itu bahasa arab, yang untungnya terbuka ke masyarakat awam ketimbang bahasa latin yang hanya dikuasai oleh kaum gereja dan raja-raja; sementara saat ini the language of science ya artinya bahasa inggris); (2) bahwa keberadaan Islam saat itu menjadi sebuah empire of reason, yang artinya mengedepankan rasionalitas dalam beribadah dan menyebarkan pengaruhnya; dan yang terpenting adalah (3) the power of doubt, kekuatan untuk terus meragukan sesuatu, karena apa… karena perintah pertama di ayat pertama yang diturunkan adalah “Iqra”.

    Sayangnya tiga hal ini runtuh di dunia Islam karena umat Islam sendiri…., kalau yang no (1) itu inevitable, sementara yang no (2) dan no (3) itu memang hancur karena apa yang dikatakan penulis artikel ini.

    Seandainya umat Islam mau membaca karya-karya dari Ibn-Khaitam (Al-Hazen), yang merupakan pelopor optik, tapi yang terpenting adalah ia peletak dasar dari metode ilmiah yang terus dipakai oleh semua ilmuwan di dunia (kecuali yang pseudo-scientist macam Harun Yahya). Dan itu jauh sebelum des Cartes loh. Seandainya beliau (Ibn Khaitam) tidak membangun fondasi metode ilmiah berbasiskan (1)(2)(3) di atas, mungkin manusia masih terjebak dengan cara berpikirnya filosofi Yunani.

    To some extent saya setuju dengan apa yang ditulis oleh penulis, karena penulis pun pernah menjadi ilmuwan beneran, tidak seperti Harun Yahya, dan juga pernah menjadi ustadz yang bener juga.

    Bahkan tentang teori evolusi itu sendiri, saya rasa tidak bertentangan dengan apa yang ada di Al-Qur`an kok, kalau orang mengerti sebenarnya apa itu teori evolusi (bukan yang diributkan di Indonesia ya). Wallahu`alam, kita sebagai manusia kan tidak pernah tahu apa artinya “kun fayakun”. Bisa jadi teori evolusi itu sendiri adalah part dari mekanisme yang terjadi dari “kun fayakun” itu sendiri.

    Yang jelas, kalau evolusi bertentangan dengan injil nya orang Nasrani memang iya karena mereka membatasi umur alam semesta itu 6000 tahun, tapi di Islam dan di Al-Qur`an kan tidak pernah disebut seperti itu. Hanya Allah yang tahu berapa umur alam semesta ini. Paling tidak kalau kata ilmuwan, hasil observasi, sampai ke titik big bang ya umur alam semesta itu sekitar 13 milyar tahun. Tapi kan itu adalah batas manusia. Titik sebelum big bang ya hanya Allah yang tahu.

    Reply
    1. komsomol

      komentar yg menarik dan berbobot daripada komentar diatas-atasnya.

      orang muslim arab sana sudah dipenuhi oleh nikmat-nikmat (kekayaan) yg tiada habisnya, mereka lupa untuk membaca (belajar) yang mungkin bisa menyebabkan kehancuran orang muslim arab disana.

      Orang lupa betapa megahnya Kekaisaran Romawi, jayanya Negara Yunani, hingga kuatnya negara Uni Soviet, semua usaha mereka dilakukan oleh sains dan kerja keras. Runtuhnya mereka bukan karena mereka kafir, tapi karena mereka sudah merasa jumawa kalau mereka sudah besar dan pada akhirnya hancur juga tersapu zaman yang lebih maju dari negara mereka.

      Mungkin pesan moral dari tulisan ini adalah : Jangan jadikan anda muslim yang sok sains, tapi jadilah sains yang muslim

      Reply
    2. pria_tulen2004

      Maaf, injil Kristen tdk membatasi usia semesta 6000 tahun. Itu hanya perhitungan yg pernah dilakukan dgn cara yg keliru pada abad pertengahan. Umat Nasrani sudah tidak sepicik kaum Nasrani di abad pertengahan.

      Reply
  8. I am robot and proud

    Kira2 seperti ini. Belajarlah pada semua literatur. Lamarck, Darwin, Harun Yahya dan Zakir Naik misalnya dalam hal-ihwal evolusi. Bacalah semua, jangan parsial, jangan pilih2. Biasanya yang jamak adalah; pengagum Lamarck anti Harun Yahya, penggila Aljabar kurang setuju dengan Newton. Ini 2016, makin banyak orang pandai menulis banyak buku untuk menafsirkan firman Tuhan. Meskipun kata2 itu sepi, meskipun kata2 itu salah. Tapi tidak mengapa, biarlah masing2 dari kita salung menafsir. Tetaplah terbuka pada kenyataan, pada dunia, pada kenanusiaan, pada hidup, pada keseimbangan.
    Salam.

    Reply
  9. Who am i,...??

    Hehehehe,… Senyum aja deh,… Mungkin saya juga terlalu jauh kalau berpikir seperti penulis ini,….

    Banyak hal disekitar kita yang sering terlewat,… Yatim piatu, kaum dhuafa, kelaparan kemiskinan dan kesenjangan sosial lain nya itu lebih penting di bahas,… Daripada mbahas beginian,… Paham juga ndak,…

    Jadi lucu baca nya,….seberapa peduli anda terhadap lingkungan anda sendiri,… Gak usah ngomong terlalu jauh sains islam lah, sains barat lahh,.. ..

    Gudlak brother,… Tapi salut sama artikelnya… Hahahahahaha

    Reply
  10. Iqbal

    semoga saudara-saudara muslim menyadari bahwa keimanan tidak harus membutakan mereka dari akal pikiran. Keimanan yang buta akan sulit menerima saran dan justru menyalahkan orang yang akan memberi saran, atau bahkan mengkafirkan.

    Reply
  11. Manusia Biasa

    Bismillahiromanirrohim.
    Apabila anda saya challenge untuk menyebutkan 15 (bisa lebih) saja saint di Alquran beserta ayatnya, apakah anda bisa menyebutkannya ?
    Apabila anda belum bisa menyebutkannya, berarti anda terbukti belum mempelajari alquran secara mendalam. Tp apabila anda bisa menyebutkannya, PASTI anda akan berpikir ulang terhadap tulisan anda sendiri ini. Mungkin anda sudah membaca Alquran tapi belum mempelajarinya. Ingin buktinya? Silahkan perdalam Alquran.

    Mungkin tulisan ini hanya pendapat anda. Tapi perlu ditekankan Muhammad adalah Rosul, dalam arti english adalah “Messenger” atau penyampai pesan, bukan Pendapat. Pesan dr Alloh SWT.

    Apabila anda sudah mempelajari alquran, anda pasti paham apa itu sunnahtulloh dan bagaimana posisi Alquran terhadap sunnahtulloh tsb.

    Mungkin anda mengeluarkan pendapat berdasarkan perbedaan ajaran dr Imam Besar Islam dengan Mahdzab mereka, Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Jafri. Yg perlu ditekankan syarat menentukan Mahdzab adalah hafal alquran dan memahami betul isi alquran dan minimal hafal 4000 hadist. Apakah seseorang dengan tingkat keilmuan tersebut berbicara mengenai pendapat ?
    Apakah seorang Einstin berbicara tentang hukum relativitas merupakan suatu pendapat ?
    Bagaimana dengan anda ?

    Kembali lagi mengenai alquran dan saint. Apakah anda tahu penemu pertama bahwa sidik jari adalah uniqe disetiap manusia ? Apakah anda tahu apa yang terjadi dengan penemu ini setelah membaca Alquran ? Apakah anda tahu alasan penemu ini mengalami perubahan setelah membaca Alquran ? Begitu juga penemu2/ilmuawan lainnya.

    Mohon Maaf, tulisan anda diibaratkan seperti seseorang dengan niat tulus membantu orang miskin dengan memberi usaha berupa tempat jualan tetapi dipinggir jalan, tapi dalam prosesnya jualan dipinggir jalan ini mengakibatkan macet, muncul preman, muncul copet, kecelakaan karena dipinggir jalan, tempat kotor sumber penyakit, dll. Siapa yg disalahkan atas mudharat-mudharat tsb. Sangat halus godaan setannya. Semoga kita selalu dilindungi Alloh dr godaan setan yg terkutuk.

    Saya akui tulisan anda sangat bagus dr susunan kata-kata. Mungkin anda seorang pengajar atau dosen yang jelas anda pasti seorang terpelajar. Tapi saya mohon dalam membuat tulisan tentang islam terlebih dahulu menganalisa kebenarannya. Karena Alquran dan Islam bukan dari manusia, bahkan bukan dari Rusol pun. Melainkan dr Alloh SWT yang memiliki semua alam semesta, isinya, keteraturan, keseimbangannya dan semuanya. Islam adalah kebenaran bukan pendapat. Dan islam TIDAK HANYA berbicara tentang hubungan manusia dan tuhannya, hubungan manusia dengan manusia, tapi berbicara “Din”.

    Semoga Alloh selalu memberi petunjuk dan hidayah kepada kita dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan tuntunannya, sesuai dgn kebenaran didalam aturan2 yang telah ditentukanNya. Karena alam semesta dan ilmu yg ada didalamnya adalah milik Alloh semata. Dan semoga Alloh selalu menjaga ke-tawaduk-an kita dalam mencari ilmu dan kebenaran yg telah Alloh tentukan. Amin.

    Reply
  12. Kang Yoes

    السلام عليكم

    Nice twett, but bad article.

    Ada poin² yang perlu di jawab.

    1. Islam tertinggal di bidang sains.
    Ok, karena ummat islam tahu dan faham bahwa dunia hanya sementara, oleh karenanya islam berputar pada pembenahan diri dan perbekalan diri nanti di akhirat. Jadi siapa yang lebih maju?

    2. Berhenti tentang sains barat sesat.
    Hehe…, selagi maslahat untuk ummat, ok. Tapi jika sains menjadikan ummat merasa paling kuat karena sains, no way. Hp, komputer, listrik, kedokteran is ok, tapi pistol, bom, tank, no way.
    Karena dr pistollah seseorang merasa paling kuat, sehingga ia berani menindas pada yg tidak punya pistol, ujung²nya bersaing membuat pistol,dan dor…dor…dor….perang pistol.

    3. Berhenti menolak produk barat, karena kita di topang olehnya.
    Saya pake hape, listrik, mobil yang produk barat,
    Trus aku harus bilang wow githo……
    Kalo gitu harusnya barat tidak menolak untuk berdoa, ibadah pada Allah Ta’ala yang telah menopang segala aspek keprluan hidup, bahkan bisa terciptanya sains, dengan adanya udara, sinar matahari, gravitasi, dll yang telah Allah Ciptakan.

    4. Berhenti menuduh kafir pada orang berpikir.
    Itu pendapatmu, islam hanya mengkafirkan orang yg tak mengakui Allah Ta’ala sebagai tuhan semesta alam. Dari itu ente berhenti menuduh teroris, pada kami jika berbuat jihad dalam memberantas kemunkaran.

    Point 4 ini jelas, sebagai ajakan liberal untuk kita bijak terhadap pemikir non muslim, dengan tidak menuduh, menilai kafir pada mereka, namun mereka menilai teroris pada golongan pemberantas kemunkaran, menilai hadist maupun ayat qishas, lgbt sebagai hate spech.

    5. Belajar dengan benar shg tidak dibodohi oleh sains.
    Harusnya belajar dan ibadahlah dengan benar (sesuai syar’i ) agar menjadi manusia bertaqwa dan tawakal. Dengan tawakal yg benar, pertolongan / maunah dari Allah pasti selalu ada bagi yang bertaqwa dan tawakal. Bukan bergantung pada hasil belajar.

    6. Quran itu bukan kitab sains.

    Akhirnya ente sadar, kalu quran bukan kitab sains, tapi kitab kumplit dan luas.
    Matematika, cek tentang perhitungan waris dalam Q.S AN-NISA, disitu hitungan pas dan akurat.
    Biologi, cek QS AL-mu’minu, ada ayat yg menerangkat asal muasal proses manusia.
    Fisika relativitas waktu, cek qs as-sajdah, ada ayat yg menerangkan.
    Bukankah itu cukup untuk menerangkan yg kata barat disebut sains?

    Barokah, adalah bertambahnya kebaikan dan taat. Dan barokah adalah hasil kerja taqwa.
    Kerja maupun dagang dengan langkah taqwa, pasti barokah hasil usahanya, terbukti barokahnya jika hasil untungnya ia sedekahkan, bertambah syukurnya, dan semakin dekat pada-nya.

    Begitupun ilmu termasuk sians, jika mencarinya melalui langkah taqwa, pasti barokah, dengan bukti barokahnya semakin yakin akan ke Maha Agung dan Besar-Nya Allah Ta’ala, sehingga semakin dekat dengan-nya.

    Bukan karena ilmu sains lantas lupa siapa pemilik sains.

    والسلام عليكم

    Reply
  13. noname

    Mengomentari point 6:
    “Akhirnya ente sadar, kalu quran bukan kitab sains, tapi kitab kumplit dan luas.
    Bukankah itu cukup untuk menerangkan yg kata barat disebut sains? ”

    Lebih gampangnya mungkin maksud dari tulisan ini “Quran bukan kitab sains” adalah bahwa sains sendiri tidak statis alias akan terus berkembang dan berkembang dengan lahirnya teori-teori baru.. Boleh jadi ketika Sains hari ini berkata A, dikemudian hari, entah ratusan tahun kemudian terjadi perubahan teori dan sains berkata B. Lalu ketika sains sudah bilang B. Apakah Al Quran juga perlu direvisi mengikuti perkembangan sains karena kata Kang Yoes Al Quran adalah kitab yang kumplit dan luas? Atau hanya mengakui teori yang “cocok” saja yang sesuai dengan yang Al Quran tulis tanpa melihat perkembangan fenomena yang terjadi di sains? 🙂

    Reply
    1. Hamba Allah SWT

      Bang @noname : sains hanya sebagian kecil dari yg terkandung dalam Alqur’an, jadi sains ini dapat terus dikembangkan bila berpedoman dengan Alquran..

      Reply
  14. sontoloyo

    hahaha…gak perlu dijawab bang…namanya juga pendapat…bebas berpendat apasaja…cocok ya dipakai..kalau ndak cocok ya gak apa-apa…itulah hasil berfikir dengan kehebatan akal…

    Reply
  15. sontoloyo

    Bagi saya sendiri, apa yg disampaikan Kang Hasan memang sesuai dengan fakta yang kira-kira memang demikian..qur’an bukanlah buku sains…sains selalu berubah..sementara qur’an tidak boleh berubah..sesuatu yang tidak boleh terjadi bagi perkembangan sains yang memang akan selalu berubah…sesuai perkembangan kemampuan berfikir manusia..

    Reply
  16. galsss

    Wah tulisan yang berani, sip. memang harus hati-hati dan terbuka bacanya, kalau masih pakai kacamata kuda pasti jengkal bacanya. hehehehe

    tapi memang faktanya dulu zaman pertengahan riset dan sains di negara atau kerajaan islam jauh lebih maju daripada eropa nah sekarang kok kebalik.

    daripada nyocokin Al-Quran sama sains yg ujung2nya cuman debat yg gak ada produknya mending kita orang-orang islam berusaha memenagkan dunia dengan sains lagi lah. belajar, riset, make new invention. biar dunia kagum akan orang-orang islam lagi, trus mereka mulai mencari tahu apa yang membuat kita hebat dan mereka akan dengan terbuka belajar Islam

    Reply
  17. Hamba Allah SWT

    @Lestea : dan juga penulis.. ISLAM MINUS SAINS tu menurut saya objeknya ya islamnya(agama) nah dalam hal ini saya sarankan penulis segera koreksi dan beristighfar mohon ampun kepada Allah SWT yg maha pengampun. Dan bila isinya ada catatan sebagian/tidak semua (berarti pemeluknya) dalam hal ini saya setuju sudah dijawab oleh saudara kita bahwa jauh sebelumnya, kaum muslimin byk yang paham sains dengan baik, kalau ditanya kenapa mereka tidak dikenal? Ya bisa jadi karena ilmu sains mereka diimbangi dengan ilmu agama, jadi ga berani klaim sebagai pemilik hak cipta (Copyright) saya aja ngeri dengernya baru nemu ilmu sains tertentu uda diklaim hak cipta. Untuk jaman sekarang saya setuju dengan penulis bahwa non muslim seperti sebagian besar negara barat berkembang pesat ilmu sainsnya, saya sih gak heran karena sudah dijelaskan dlm Alqur’an dan Hadist. namun apakah sudah seimbang dengan pengetahuan agamanya? Bukankah manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT ? Dunia ini ujian utk kehidupan akhirat, Begitupun ini menurut keyakinan saya. sepenuhnya benar adalah Allah SWT dan saya mohon ampunan Allah yang maha pengampun dan maha benar.

    Reply
  18. Bun

    Membaca sebuah artikel (apapun jenisnya) memerlukan adanya kesabaran, ketelatenan, ketelitian, serta pemikiran yang positif dan luas dalam memaknai setiap kata-katanya. Meskipun saya sendiri belum tentu memiliki semua kriteria tersebut, setidaknya saya tidak cukup hanya membaca artikel ini satu kali saja. Di antara para pembaca, saya rasa mungkin dengan membaca judul artikelnya saja sudah ada yang tidak cocok dengan pandangannya (terutama menyangkut masalah agama). Hal ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendiskusian mengenai agama merupakan suatu yang krusial dan tidak akan pernah selesai. Sejauh ini, apabila kita mau “jujur” kepada diri sendiri terhadap apa yang telah dinarasikan oleh penulis, itulah yang saat ini sedang terjadi. Saya tidak ingin berspekulasi terlalu jauh mengenai masalah agama karena pembaca pasti lebih paham mengenai agama daripada saya. Namun, dari artikel-artikel yang dicatat oleh penulis, saya tidak tahu pasti artikel mana yang dibuat tanpa adanya fakta. Dari “pesan” yang disampaikan kepada pembaca melalui artikel tersebut, saya pikir penulis bukanlah orang yang tidak mengerti soal agama. Melainkan penulis telah paham mengenai apa yang terjadi pada agamanya.

    Reply
  19. aripin sutanto

    mungkin judulnya muslim minus sains. bukan islam, karena dengan menyebut islam minus sains seolah2 penulis mengenal betul tentang agama islam sekaligus ahli dalam sains. apa kenyataanya begitu? sedangkan bikin judul artikel aja ga sesuai sama isinya gimana mau dianggap kredibel bicara hal yang sangat besar, apalagi agama dan sains.
    kalo judulnya muslim minus sains atau bahkan dengan acara kasarnya mayoritas muslim buta sains, maka itu hal lain, karena jangankan sains anda berkata mayoritas muslim minus pengetahuan islam, itupun tidak akan saya sanggah.
    makanya saya mungkin akan kutipkan perkataan zakir naik, “jika anda ingin mengenal islam, pelajari islam jangan pelajari muslim. karena islam itu sempurna tetapi muslim tidak.

    Reply
    1. Wizard13

      Sayangnya si penulis itu mengenal betul baik tentang agama islam dan juga sekaligus ahli dalam sains, untuk ukuran orang Indonesia di kedua aspek tersebut.

      Reply
  20. Abdurrahman

    Kalo baca kisahnya penulis, InshaAllah orang tua beliau memiliki pondasi yg lumayan baik dalam memberi ketegasan bahwa kesuksesan adalah buah dari kerja keras dan doa dari orang tua penulis.
    Sayangnya sekian lama mencari ilmu dunia di negeri orang, hal ini membuat penulis agak condong ke sisi kerja kerasnya (struggle).
    Nasehat saya ke penulis, agar banyak mengingat kembali ajaran orang tua bahwa hanya karena ridho Alloh lah yg bisa membuat anda seperti sekarang, melalui doa orang tua.
    Saya pun orang melayu sangat paham akan betapa tough-nya struggle of life orang melayu. Akan tetapi tough itu akan percuma tanpa diimbangi iman dan taqwa yg justru harusnya lebih besar daripada struggle tersebut.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *