Islam Kaya, Islam Miskin

Menjadi kaya itu tidak dilarang dalam Islam. Sebaliknya kefakiran harus dihindari. “Kefakiran itu mendekati kekafiran,” kata Ali. Islam mendorong orang untuk kerja keras, dan melarang orang untuk malas. Jadi dalam soal ini semua sudah jelas. Mencari dan mengumpulkan harta itu boleh saja.

Tapi Islam juga dengan jelas mengatakan bahwa harta bukanlah tujuan. Dunia ini hanya permainan dan tempat singgah. Kalau seseorang mati, maka semua hartanya ia tinggalkan.

Banyak sahabat Nabi yang kaya. Tapi Nabi sendiri tidak punya harta. Doa beliau,”Ya Allah, jadikan aku orang miskin, wafatkan aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkan aku bersama orang-orang miskin.” Apa makna doa ini?

Rasulullah menegaskan bahwa miskin bukanlah suatu kehinaaan, dalam arti tidak seorang pun bokeh dihina karena miskin. Rasulullah berdiri di situ. Menghina orang miskin sama halnya dengan menghina Rasulullah. Tapi pada saat yang sama Rasulullah menyuruh orang bekerja. Maknanya, jangan menyerah. Jangan menjadi fakir karena malas mencari rezeki yang telah disediakan Allah. Oksigen itu disediakan berlimpah, tapi tetap saja kita perlu mengerakkan otot dada dan perut untuk bernafas.

Di sisi lain, Islam mengajarkan untuk berbagi. Ada yang sifatnya wajib yaitu zakat, ada yang sifatnya didorong, yaitu sedekah. Maknanya, kemiskinan tidak boleh dibiarkan. Orang miskin harus dibantu, dan didorong untuk keluar dari kemiskinan. Siapa yang bisa membantu? Orang yang tidak miskin lagi. Itu berarti bahwa semua orang didorong untuk mencari jalan agar tidak miskin.

Miskin itu lawan katanya adalah kaya. Tapi di antara kedua kata itu ada satu kata lain, yaitu cukup. Bagi saya, pada kata inilah Islam berdiri. Rasulullah itu sebenarnya kaya, dalam arti ia punya kemampuan untuk mengumpulkan harta. Beliau hidup seperti itu karena memilih begitu. Beliau merasa cukup.

Dengan kerja keras dan kesempatan baik kita bisa mengumpulkan banyak harta. Tapi ingat, bukan harta yang membuat kita bahagia dan mulia, melainkan rasa cukup. Cukup artinya kita tidak ingin lebih. Kelebihan setelah cukup itulah yang kita bagikan.

Cukup adalah alarm bagi kita untuk berhenti. Alarm itu mengingatkan bahwa dunia ini hanya sementara. Ketimbang menyibukkan diri untuk memperkaya diri, lebih mulia kalau kita berbagi.

Sedekah tujuannya untuk berbagi. Sedekah untuk memastikan kita berada dalam keadaan cukup. Sedekah mengikat kaki kita untuk tidak melangkah ke ruang tamak. Makanya saya sangat keberatan kalau ada yang mengajarkan sedekah dengan harapan akan diberi imbalan harta lebih banyak. Sedekah macam itu adalah sedekah yang menyuburkan ketamakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *