Islam di Eropa dan Amerika

Bagaimana keadaan Islam di Eropa dan Amerika? Jawabannya tergantung cuaca. Kalau lagi mau menyalahkan orang Kristen, jawabannya: Islam di sana ditekan dan ditindas. Bangun mesjid nggak boleh. Pakai jilbab nggak boleh. Dimusuhi, dipersekusi, dipinggirkan, dizalimi.

Tapi kalau lagi mau bicara soal optimisme masa depan Islam, jawabannya: Islam berkembang pesat di sana. Mesjid-mesjid dibangun, orang-orang setempat banyak yang tertarik pada Islam dan menjadi muallaf.

Kalau dikonfrontir, katanya ditekan, tapi kok banyak mesjid? Jawabannya, itulah hebatnya Islam. Meski ditekan, tetap tumbuh.

Jawaban yang lebih objektif, kondisinya memang bervariasi. Masyarakat Eropa-Amerika memang berbeda-beda sikapnya terhadap Islam. Ada yang bersahabat, ada yang memusuhi. Ada yang sampai sangat anti.

Apakah boleh membangun mesjid? Boleh. Tentu saja dengan berbagai ketentuan perizinan. Di sana soal ini dijaga ketat. Semua bangunan diperlakukan sama. Tidak ada tawar menawar cincai.

Apakah orang Islam diterima? Iyalah. Kalau tidak, tentu tidak akan terjadi arus imigrasi besar-besaran dari Afrika maupun Timur Tengah. Tidak hanya diterima sebagai warga biasa, tapi juga diterima sebagai warga negara secara utuh dengan segenap hak dan kewajibannya. Maka, kita saksikan Walikota London itu muslim. Bayangkan, walikota sebuah ibukota negara. Duta besar Inggris untuk Indonesia juga muslim. Walikota Rotterdam juga muslim. Masih banyak lagi contoh, di mana muslim diberi kesempatan luas.

Tidak hanya dalam politik, tapi juga sains. Tiga muslim penerima Hadiah Nobel di bidang sains, yaitu Abdus Salam, Ahmaed Zewail, dan Abdul Aziz Sancar, semuanya berkiprah di Eropa dan Amerika. Salam di Italia, Zewail dan Sancar di Amerika. Mereka diterima, dan mendapat dukungan dana riset secara penuh, sama seperti ilmuwan lain.

Tapi kenapa ada tindakan permusuhan? Karena memang masih ada yang memusuhi. Tapi kalau mau dilihat secara total, kelompok itu bolehlah dianggap minor saja. Lho, bukankah adminstrasi Trump ini sangat anti Islam? Salah. Lebih tepat disebut anti imigran. Mau Islam, Kristen, Hindu, Buddha, sama saja. Kawan saya orang Kristen di Amerika pun mengeluh soal tidak ramahnya pemerintah sekarang.

Selain soal itu, banyak orang Islam, termasuk yang sudah jadi imigran, yang tidak paham sekularisme yang menjadi tulang punggung kehidupan sosial di sana. Sekuler itu memisahkan agama dengan negara. Banyak orang Islam yang ingin dilayani negara dalam soal agama. Itu tidak akan mereka dapatkan.

Ada kejadian-kejadian permusuhan. Orang-orang yang membenci memamg akan terus membenci. Tapi kejadian-kejadian yang indah juga banyak. Temansaya di Belanda bercerita soal gereja yang dipinjamkan untuk dipakai salat tarawih. Di Amerika juga ada kejadian serupa, gereja dipakai untuk salat Jumat.

Nah, tinggal pikiran kita, mau fokus ke mana. Kalau fokusnya kebencian dan permusuhan, maka kita punya banyak bahan untuk mengatakan bahwa Eropa dan Amerika itu anti Islam. Tambahi lagi dengan catatan bahwa mereka itu Kristen. Pantas, kan? Karena Kristen memang selalu memusuhi Islam.

Tapi kalau kita mau fokus ke perdamaian dan kasih sayang, ada begitu banuak fakta yang mendukung bahwa Islam diterima dengan kasih sayang di Eropa dan Amerika.

Nah, Anda mau yang mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *