Islam Darah Daging

3 November 2015 0 Comments

DSC_0031-002_web

Apa hukumnya menyeberang di sembarang tempat? Apa dalilnya? Apa hukumnya kirim spam? Apa hukumnya menyalip di antrian? Apa hukumnya terima komisi? Terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu saya akan balik bertanya, “Apa hukumnya berhenti pakai otak?”

Banyak orang mengibaratkan Quran itu sebagai manual. Diibaratkan seperti kita membeli produk elektronik, dan kita diberi manual untuk memakainya. Quran, katanya, adalah manual book yang berisi panduan hidup di dunia. Semua sudah diatur di Quran, dan hadist.

Sebenarnya Quran itu bukan manual book, dalam arti ia bukan panduan praktis. Ia adalah panduan dasar. Hadist lebih banyak memuat hal-hal praktis, tapi sekali lagi hadist-hadist pun bukan panduan praktis. Artinya, kita tidak akan selalu menemukan jawaban atas berbagai persoalan dalam hadist.

Islam adalah panduan moral yang menjadi basis tingkah laku. Ada hal-hal yang secara khas diatur. Namun ada banyak pula yang tidak perlu diatur secara spesifik, karena menyangkut hal-hal yang sifatnya universal. Quran tidak perlu memuat larangan “jangan mencuri”, karena larangan mencuri itu adalah sesuatu yang sifatnya universal. Demikian pula, tidak ada larangan untuk menempeleng orang.

Intinya, Islam mengajarkan kebaikan. Garis besar dan contoh-contohnya ada di Quran dan hadist. Tapi kita tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Kita harus melakukan eksplorasi, menemukan sendiri kebaikan-kebaikan untuk dilaksanakan, juga keburukan-keburukan untuk ditinggalkan, dengan akal budi kita sendiri.

Definisi tentang kebaikan dan keburukan itu sendiri dinamis. Ada yang bersifat tetap, ada pula yang berubah. Ada pula yang bergeser fokusnya. Mencuri itu buruk. Tapi apa itu mencuri? Zaman dulu mencuri itu dilakukan dengan masuk ke rumah orang untuk mengambil barang. Kini orang bisa mencuri lewat internet. Pencurian lewat internet tidak ada dalil yang melarangnya. Tapi substansinya tetap, bahwa mengambil sesuatu yang bukan hak kita adalah pencurian.

Sebagian besar kita tidak punya akses yang cukup baik pada berbagai seluk beluk hukum Islam. Dalam arti kita tidak punya cukup alat atau tool untuk mengaksesnya. Tapi hal itu sebenarnya tidak akan menghalangi kita untuk menjadi orang baik. Kita telah dibekali dengan Islam dalam darah daging kita, yaitu akal budi.

Dengan akal budi sebenarnya kita tahu bahwa menyerobot antrian itu tidak baik. Perbuatan tidak baik tidak diizinkan dalam Islam. Maka meski kita tidak tahu apa dalil yang dipakai untuk menghukumi masalah ini, kita tahu bahwa perbuatan menyerobot antrian harus kita tinggalkan.

Jadi, bagi saya, ketimbang sibuk bertanya-tanya soal apa hukum ini, apa dalil untuk itu, sebaiknya kita mempertajam akal budi kita tentang apa yang baik dan apa yang buruk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *