Ini bukan Soal Ahok, Ini Soal yang Lebih Besar

Banyak orang menuduh saya die hard pendukung Ahok. Bahkan ada yang menuduh saya buzzer politik yang dibayar untuk mengkampanyekan Ahok. Salah! Saya tidak sedang jatuh cinta pada Ahok. Saya juga tidak terpesona.

Ahok itu fenomena yang luar biasa. Bahkan orang seperti Rhenald Kasali saja mengaku terkejut dengan sepak terjangnya. Kita boleh tidak setuju dengan pendekatan yang dia ambil. Tapi kalau kita jujur, kita akan mengakui bahwa Ahok melakukan hal yang tidak dilakukan orang sebelum dia.

Tapi sekali lagi, Ahok tetaplah sosok politikus di mata saya. Kepada politikus saya selalu waspada, bukan terpesona.

Belasan tahun yang lalu saya pernah berbincang dengan abang saya, aktivis Muhammadiyah. Ia baru saja menghadiri rapat terkait pemilihan gubernur di daerah kami. Seperti biasa isunya adalah mendukung calon muslim. Saya waktu bertanya,”Selama ini gubernur kita selalu muslim, bukan? Apa keuntungan yang didapat oleh umat Islam?”

Abang saya waktu itu tidak bisa menjawab. Memang tak akan ada jawaban. Jarang ada politikus yang berkomitmen pada umat Islam. Lebih tegas lagi, jarang ada politikus yang berkomitmen terhadap apapun selain kepentingan mereka sendiri.

Jadi apa pentingnya Islam dan umat Islam dibawa-bawa? Tidak ada. Ini hanyalah permainan, yang mengaduk-aduk emosi publik, membuat mereka percaya bahwa Islam sedang dipertaruhkan.

Coba kita tanya kepada orang-orang Jakarta, adakah keuntungan menonjol yang dirasakan umat Islam sepanjang pemerintahan Fauzi Bowo dan gubernur-gubernur sebelumnya yang muslim, dibanding Ahok? Atau, adakah keburukan bagi umat Islam selama pemerintahan Ahok?

Ya, orang-orang akan bicara soal remeh-remeh seperti larangan memakai lapangan Monas, yang sebenarnya diberlakukan Ahok untuk semua kelompok. Atau soal larangan takbir keliling, yang sudah dikeluarkan sejak zaman Sutiyoso. Atau, soal pemugaran mesjid Amir Hamzah yang dijadikan fitnah seolah sudah dihancurkan Ahok. Masih banyak lagi.

Intinya adalah, ini soal menjauhkan umat Islam dan pembodohan dan tunggangan politikus.

Di kuar soal itu, bagi saya ini adalah soal menjaga Indonesia yang sekuler. Orang harus terus menerus disadarkan bahwa Indonesia bukan negara Islam. Segala argumen berbasis syariat menyangkut politik Indonesia tidak relevan. Maka dalil-dalil soal halal haram pemimpin muslim itu tidak relevan. Konstitusi kita sudah menegaskan, setiap warga negara punya hak yang sama. Hanya itu yang relevan.

Tapi bukankah itu bagian dari kebebasan yang didukung oleh demokrasi? Bukan. Salah itu. Itu adalah realitas yang masih tersisa dalam demokrasi. Di Amerika masih ada orang yang memilih berdasar atas sentimen warna kulit. Itu realitas. Tapi demokrasi terus mendorong agar orang tidak memilih berdasarkan itu. Maka, ketika Obama menjadi presiden, maka itu adalah salah satu tonggak penting dalam sejarah demokrasi di Amerika. Faktor warna kulit menjadi tak lagi penting, meski tetap menjadi realitas dalam demokrasi.

Inilah yang sedang saya perjuangkan. Preferensi politik berdasar agama masih menjadi ralitas dalam politik kita. Saya mau melihat realitas ini meredup. Terpilihnya pasangan Jokowi-Ahok memimpin Jakarta pada 2012 lalu adalah langkah awal. Tapi terpilihnya Ahok nanti ajan menjadi sejarah yang lebih besar.

Jadi, ini bukan soal Ahok. Ini soal merawat Indonesia yang sekuler dan demokratis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *