Ini Ayat Quran! Bukan, Itu hanya Terjemahan!

alquran-digital-3Dalam berbagai diskusi sangat sering saya temui orang-orang berargumen dengan kutipan terjemahan ayat Quran. Lalu mereka berkata,”Ini firman Allah. Allah sudah menetapkan begini, kamu jangan sok tahu. Beginilah ketentuan Allah, kita harus patuh.” Kadang saya temukan juga khatib atau penceramah yang menyampaikan pendapatnya tentang sesuatu, ia mengutip ayat sebagai sandaran bagi pendapatnya. Kemudian ia berkata,”Ini yang ngomong Allah, bukan saya. Saya hanya menyampaikan.”

Orang-orang itu memperlakukan Quran seperti buku teks pelajaran anak SD. Buku pelajaran SD memberi jawaban langsung atas pertanyaan pada soal ulangan. Apa nama ibu kota provinsi Jawa Barat? Anak kita tinggal membuka buku pelajaran, lalu akan dia temukan jawaban: Bandung. Begitulah orang-orang itu. Terhadap suatu persoalan mereka mencari rujukan ayat, lalu, horeee, ini dia ayatnya.

Lebih kacau lagi, mereka menyodorkan terjemahan ayat, tapi mengklaimnya sebagai ayat Quran. Lho, apa bedanya? Sangat berbeda. Terjemahan singkat tidak akan pernah menyamai teks aslinya. Terjemahan hanyalah sebuah upaya sederhana untuk memahami sebuah teks, tapi ia masih sangat jauh dari makna teks itu sendiri.

Jadi, ada orang-orang yang dengan yakin menghakimi orang lain atas nama Allah dengan berbekal terjemahan ayat dalam bahasa Indonesia. Padahal firman Allah tidak turun dalam bahasa Indonesia.

Tapi, bukankah terjemahan itu sudah sesuai dengan pandangan para ulama terdahulu dalam topik yang dibahas? Ya, boleh jadi begitu. Tapi para ulama pun bersepakat soal kebenaran tafsir. Kebenaran tafsir tetaplah sebuah kebenaran yang dihasilkan dari ikhtiar manusia. Jadi ia bukan kebenaran mutlak dan final. Maka tidak mungkin sebuah tafsir diklaim sebagai kata-kata Allah itu sendiri.

Puncak dari kekacauan itu terjadi ketika orang mencocok-cocokkan ayat terjemahan dengan sains. Terjemahan dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan apa yang dikatakan sains, kemudian dilakukan sejumlah akrobat diksi untuk memperoleh rumusan diksi terjemahan ayat yang sangat mirip dengan rumusan sains. Kemudian mereka bertasbih memuji nama Allah karena menemukan kecocokan Quran dengan sains. Tak jarang fakta sains dipelintir sedemikian rupa, atau bahkan dipalsukan demi mencapai kecocokan tadi.

Bagi saya orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang tidak berpikir. Mereka malas melakukan penjelajahan pikir untuk mendapatkan kesimpulan. Mereka merasa cukup meyakini sesuatu berbasis satu dua potong ayat. Kemudian mereka mengintimidasi orang lain dengan mengklaim pendapatnya sebagai firman Allah.

Maaf, Saudara. Kamu bukan Tuhan, dan kata-katamu bukan firman Tuhan. Yang kau kutip itu juga firman Tuhan. Itu hanya tafsirmu atas firman Tuhan.

3 thoughts on “Ini Ayat Quran! Bukan, Itu hanya Terjemahan!”

  1. lalu kalau terjemahan selama ini anda anggap salah, lalu bagaimana kita bisa memahami kalau tidak menerjemahkannya? bagaimana anda bisa paham sesuatu tanpa tahu maknanya? lalu apa salahnya menggunakan ayat sebagai sandaran? justru yang salah itu berkata tanpa ilmu atau dalil.

  2. Wow ngeriiih… “Itu hanya terjemahan” trus mengajak “menjelajah pikir untuk dapatkan kesimpulan” … Lha kuwi yo terjemahan je. Podo wae…malah berpotensi lebih salah jika dilakukan sendiri

    Soal comot2 ayat yg menguntungkan gagasan, melintir ayat dan gathuk-mathuk-ngasal tentu saja gak bener. Jika anda kerap bertemu/ngajinpada orang macem gitu sepertinya sedang salah gaul

  3. Kuatirnya setelah ngaji setelah baca tafsir setelah jelajah pikir trus ada lagi yg bilang “itu kan hanya tafsir”… Wah repot nek sembarangkalir di hanya hanya no

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *