Iman Literal

3 July 2016 0 Comments

Tulisan saya tentang surga dianggap nyeleneh, bahkan sesat. Saya mencoba memberi penjelasan bahwa ada banyak hal dalam Quran maupun hadist yang tidak bisa dimaknai begitu saja secara literal. Berikutnya saya bahas soal qalb, yang secara literal bermakna jantung. Surga adalah perkara gaib. Sedangkan qalb adalah perkara semi gaib. Secara literal ia wujud sebagai organ. Tapi pemaknaan non literalnya meliputi soal yang agak gaib, yaitu pikiran dan ruh. Pada tulisan ini saya akan membahas sesuatu yang seharusnya tidak gaib, yaitu soal pergerakan matahari dan bumi.
 
Surat Yaasiin ayat 36-37 membicarakan kejadian siang dan malam sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Khususnya ayat 37 berbunyi,”Wa syamsu tajri limustaqar.” Terjemahan bahasa Indonesia tentang ayat ini biasanya berbunyi, matahari berjalan pada garis edarnya, atau orbitnya. Kata apa yang diterjemahkan sebagai orbit? Kata itu adalah “mustaqar”.
 
Apa makna kata “mustaqar” ini? Ketika Adam dikeluarkan dari surga kepadanya dikatakan,”Wa lakum fi al-ardhi mustaqar.” Bagi kamu tempat tinggal di bumi.” Neraka juga digambarkan sebagai mustaqar, saa’at mustaqarra wa maqaaam. Tempat tinggal yang buruk. Rahim juga digambarkan sebagai mustaqar (tempat tinggal) bagi janin.
 
Lalu, apa mustaqar (tempat tinggal) bagi matahari? Coba buka tafsir Ibnu Katsir, akan kita temukan penjelasannya. Berdasar hadist yang merupakan dialog antara nabi dengan Abu Dzar dijelaskan bahwa matahari itu berjalan, dari pagi hingga petang. Di siang hari ia berada paling dekat dengan Arsy (Tahta) Allah, dan di malam hari ia berada di titik terjauh darinya. Di situ ia bersujud, menunggu perintah atau izin terbit keesokan harinya. Itulah makna mustaqar, tempat matahari berdiam dan bersujud di malam hari.
 
Pengetahuan modern kita menunjukkan bahwa bukan matahari yang berjalan yang menyebabkan kejadian siang dan malam. Dalam konteks kejadian siang dalam malam, matahari sebenarnya diam. Bumilah yang berputar pada porosnya. Putaran ini bila diamati dari muka bumi menghasilkan gerak relatif, seolah-olah matahari yang berjalan. Pagi hari ia terbit, petang ia tenggelam. Selama tenggelam matahari seakan diam di suatu tempat, itulah tadi yang disebut mustaqar.
 
Kita kini tentu tidak lagi bisa menerima penjelasan bahwa matahari itu berjalan dalam konteks di atas. Juga tidak menerima penjelasan bahwa matahari beristirahat pada malam hari. Artinya penjelasan itu tidak bisa kita maknai lagi secara literal. Kalau kita maknai secara literal, hasilnya sebuah kekacauan.
 
Dalam soal gaib seperti surga dan neraka orang bisa berdalih, itu di luar jangkauan akal. Karena itu terima saja, tanpa perlu dipikir. Tapi yang kita bahas ini bukan soal gaib. Ini soal nyata yang bisa kita amati dan kita buktikan. Kenyataannya, ia bertentangan dengan kenyataan kalau kita maknai secara literal.
 
Jadi bagaimana? Ya, kita harus pahami bahwa penjelasan itu diberikan untuk orang-orang pada masa itu, sesuai dengan basis pengetahuan yang mereka miliki. Kalau dijelaskan dengan konsep sekarang, mereka tidak akan bisa paham.
 
Jadi sekali lagi, Quran maupun hadist tidak bisa serta merta diimani sesuai yang tertulis, secara apa adanya. Perlu berbagai jenis pemaknaan dari berbagai sudut pandang. Itulah yang sedang saya promosikan.
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *