Iman, Kebencian, dan Hilangnya Akal Sehat

Menolak reklamasi Teluk Jakarta? Saya menolak. Alasan saya, soal lingkungan. Bagaimanapun juga, pengubahan lingkungan secara radikal akan mengubah ekosistem. Meski ada perhitungan begini dan begitu, tetap saja ada hal yang luput dari perhitungan manusia.

Alasan lain? Soal keadilan. Ada banyak nelayan yang kehilangan laut, karena laut mereka kini ditimbun tanah, menjadi pulau. Sementara mereka tidak menikmati keuntungan dari pulau itu.

Itu adalah alasan-alasan bernalar untuk menolak reklamasi. Tentu semua itu bisa diperdebatkan, dengan data dan asumsi-asumsi. Soal nalar selalu bisa diperdebatkan.

Tapi ada penolakan yang tak lagi bisa diperdebatkan, karena alasannya tak lagi berdasar nalar. Lantas, berdasar apa? Ilusi. Ada orang-orang yang percaya bahwa reklamasi itu dilakukan oleh pengembang Cina. Hasilnya nanti akan dijual kepada orang-orang Cina. Ini sebagai salah satu langkah orang-orang Cina untuk menguasai Indonesia.

Cukup? Belum. Cina-cina itu tidak hanya pindah ke Indonesia. Mereka punya skenario yang lebih parah. Pulau-pulau reklamasi itu akan dijadikan basis perdagangan narkoba yang diimpor dari Cina. Narkoba ini akan dipakai untuk merusak bangsa Indonesia.

Strategi ini tentu saja paralel dengan yang sudah berjalan, yaitu mendatangkan 10 juta buruh Cina. Mereka inj sebenarnya bukan buruh biasa. Mereka adalah tentara Cina yang menyamar. Pada saatnya nanti mereka akan menghancurkan Indonesia dari dalam, ketika Cina menyerang secara terang-terangan.

Kenapa semua ini bisa terjadi? Karena Presiden Jokowi adalah antek Cina. Dia adalah orang Cina yang pura-pura jadi Jawa. Ia pemimpin agen-agen Cina yang akan merusak Indonesia, untuk kemudian dijajah.

Anda mungkin akan bertanya, orang bodoh mana yang percaya pada cerita itu? Yang percaya bukan hanya orang-orang yang pendidikannya rendah. Tak sedikit dari mereka itu yang berpendidikan tinggi, termasuk doktor lulusan luar negeri.

Kenapa bisa begitu?

Sebab pertamanya, iman. Dengan iman orang dilatih untuk percaya pada hal-hal yang tak logis. Betapapun logisnya seseorang, ia akan menyediakan ruang untuk percaya pada sesuatu yang tak logis, kalau dia beriman.

Dalam agama, ada begitu banyak dongeng yang dipercaya begitu saja, dianggap kejadian nyata, dan dijadikan dasar untuk berpikir. Dongeng dijadikan pedoman. Orang-orang yang “terlatih” untuk berpedoman pada dongeng, tidak lagi menajamkan nalarnya ketika mendengar cerita tadi. Mereka cenderung menerima.

Tapo, cerita tadi kan bukam soal agama. Betul. Celakanya, cerita tadi sering disampaikan dalam forum-forum agama, baik secara verbal, maupun lewat tulisan-tulisan di media sosial. Disampaikan oleh orang-orang yang dipercayai sebagai pemimpin agama. Karena itu informasinya diperlakukan sebagai informasi suci.

Itu baru satu komponen. Komponen lainnya adalah kebencian. Sejak dulu ada orang-orang yang dibuat begitu benci pada Cina, Kristen, dan Komunis. Saking bencinya, satu entitas yang mereka benci, bisa menyandang tiga identitas itu sekaligus. Belakangan ini ditambah satu lagi, Syiah.

Kebencian semakin mematikan sensor nalar. Maka cerita yang paling tidak masuk akal pun, akan dipercaya. Tak heran, misalnya, ada orang yang sampai dituduh Syiah, padahal dia Kristen.

Gejala kematian akal sehat ini terasa menguat, sejak pilkada 2012. Ia semakin menguat pada pilpres 2014. Lalu menjadi semakin kuat pada pilkada yang baru lalu.

Bagi saya, pemilu, pilkada, apapun hasilnya, bisa saya terima. Tapi kebodohan dan pembodohan macam ini, sungguh mengerikan. Orang-orang yang mati nalar, bisa berbuat apa saja, termasuk hal-hal yang mengerikan.

Masalahnya, kapan ini akan berakhir? Sepertinya masih belum. Karena ada orang-orang yang memetik keuntungan dari kebodohan ini. Dalam politik, orang-orang bodoh ini disebut useful idiots.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *