Ideologi-Psikologi Konflik Israel-Palestina

 

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. QS. al-Baqarah (2) : 120.”

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga kaum muslimin memerangi orang-orang Yahudi dan membunuh mereka sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, kemudian batu dan pohon berkata, ‘Wahai muslim! Wahai hamba Allah! Orang Yahudi ini di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia!” Kecuali gharqad, karena ia adalah pohon orang Yahudi.”

Dua dalil itu adalah pegangan utama kaum muslim dalam memandang konflik Israel-Palestina. Termasuk muslim Palestina sendiri, utamanya yang berada di Gaza, yang dikuasai Hamas. Israel adalah Yahudi, musuh abadi. Konflik ada di sekitar Baitul Maqdis, yang dalam keterangan lain merupakan ciri konflik akhir zaman.

Intinya, bagi muslim tidak ada perdamaian dengan Yahudi. Lawan terus sampai menang, atau sampai mati. Tidak ada kompromi. Juga tidak perlu pilih-pilih. Militer atau bukan, tetap Yahudi yang layak dibinasakan.

Saya tidak tahu bagaimana ayat-ayat kitab suci Yahudi yang dipakai Israel dalam melihat konflik ini. Tapi mereka paham betul soal ideologi-psikologi tadi. Maka pihak Israel juga tidak memberi ampun. Mereka berhadapan dengan orang-orang yang bertekad membasmi mereka. Apa yang bisa dilakukan selain bertindak tanpa ampun?

Maka kita selalu melihat pertunjukan berulang. Hamas menembakkan roket ke wilayah Israel. Lalu Israel membalas dengan serangan brutal. Rumah-rumah penduduk juga dihajar sampai luluh lantak. Kenapa? Karena roket juga ditembakkan dari pemukiman sipil.

Lalu ada melodrama mengutuk Israel yang katanya keji itu. Keji? Ya, memang keji, karena mereka menyerang secara brutal. Tapi pernahkah kita juga berpikir bahwa yang berniat menghabisi umat lain itu juga sangat keji?

Yang dilakukan Israel memang membuat kita mesti geleng-geleng kepala. Mereka membangun tembok batas, memeriksa setiap orang, menangkap dan memenjarakan orang. Keji. Tapi adakah pilihan lain ketika mereka berhadapan dengan orang-orang yang berniat memusnahkan mereka?

Maka konflik itu tidak akan pernah reda. Perdamaian tidak akan pernah ada. Ironisnya, orang-orang Islam terus meratapi korban-korban muslim yang berguguran. Tapi mereka tak mau menyadari bahwa korban-korban itu gugur akibat cara pandang kaum muslim juga. Itu adalah ongkos yang harus dibayar karena mereka mengimani dalil-dalil di atas.

Makanya saya katakan, saya akan meninggalkan dalil, kalau iman saya terhadap dalil-dalil membuat hidup saya atau hidup orang lain menderita.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *