Hijrah

Saya sering melihat gelandangan, mendorong gerobak memungut sampah. Tak jarang mereka bergerak berkelompok, sepertinya satu keluarga. Ada ayah, ibu, dan anak-anak. Saat senja mereka seperti mencari tempat berteduh. Gerobak itu mungkin akan jadi tempat tidur.

Kemiskinan di kota terasa begitu menyolok. Mungkin karena kekayaan orang-orang di sekitarnya menggambarkan jurang kesenjangan yang demikian lebar.

Saya membayangkan, mungkin orang-orang ini dulu dari desa, pergi ke kota untuk mengadu nasib, mencari penghidupan. Kota tak selalu ramah. Khususnya pada orang-orang yang hanya mampu bekerja mengandalkan tenaga fisik.

Entah karena apa, orang-orang ini bertahan, meski tidak mendapat penghidupan yang layak. Mungkin karena mereka tak tahu mau ke mana lagi. Mereka tak tahu, juga tak ada yang memberi tahu atau mengarahkan.

Saya jadi teringat pada kampung saya. Waktu Ayah dan Emak baru pindah ke kampung itu untuk membuka kebun, ada beberapa orang Jawa yang baru datang, pindah dari Kebumen. Bersama-sama mereka menebang hutan, membuka kebun. Meski tidak ada hubungan kerabat, suku berbeda, keluarga kami menjadi sangat dekat dengan orang-orang Jawa itu.

Ketika mereka sudah sedikit berhasil, mereka pulang ke Jawa. Kok? Ah, mereka mengajak lagi sanak saudara. Beramai-ramai mereka melakukan transmigrasi spontan, tidak dibiayai pemerintah. Walhasil, di dekat kampung saya ada 2 kampung yang berisi orang-orang transmigran dari Jawa.

Orang-orang ini boleh dibilang sukses. Mereka punya kebun besar-besar, juga membangun rumah besar. Kalau menikahkan anak, mereka bikin pesta besar. Mereka juga bisa mengirim anak-anak sekolah ke kota. Intinya, mereka hidup makmur.

Mereka ini bukan orang-orang yang berpendidikan. Tapi mereka bisa mengukur diri, dan memilih hendak ke mana, melakukan apa. Pilihan mereka tepat. Dalam hal pendidikan mungkin para gelandangan tadi setingkat dengan kaum transmigran ini. Namun sepertinya para gelandangan ini salah pilih.

Masalahnya, orang-orang itu sepertinya tidak ingin mengubah pilihan. Atau mungkin mereka memang tidak pernah membuat pilihan. Ada yang pindah ke kota oleh suatu sebab di luar kemauan mereka. Ada yang sejak dulu tinggal di kota, tersingkir oleh ganasnya pembangunan. Mereka tidak pernah membuat keputusan untuk mengubah nasib.

Kenapa? Mungkin karena mereka tidak menganggap ada masalah. Atau mereka tidak punya keberanian untuk mengubah jalan hidup. Langkah untuk mengubah jalan hidup itu adalah hijrah. Tak semua orang sanggup melakukannya.

Hijrah itu soal keberanian dan kemauan. Mirip dengan keinginan untuk membuka dan melemparkan selimut di pagi buta, saat dingin masih menusuk. Saat itu orang cenderung menarik selimut rapat-rapat, menikmati kehangatan. Tapi kehangatan itu kalau dituruti akan membuat kita membusuk di situ. Hanya orang-orang yang sadar bahwa di luar sana ada tantangan dan tanggung jawab saja yang mampu melawan kenyamanan rasa hangat itu, untuk bangkit menantang dingin yang menusuk. Orang-orang semacam ini lah yang akan jadi pemenang.

Hijrah tentu akan membawa guncangan. Itu yang kadang menakutkan. Orang takut pada guncangan di masa awal, dia rela mencampakkan masa depan gemilang hanya karena takut pada guncangan sesaat itu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*