Hari Valentine, Hari Raya Dagang

15 February 2016 0 Comments

Beberapa tahun yang lalu saya kedatangan tamu dari San Marino, sebuah negara kecil dalam wilayah Italia. Ketika saya ajak makan di restoran, dia terkejut melihat pohon Natal dipajang di lobi. “Kenapa ada pohon Natal di sini? Bukankah ini negeri muslim?”

“Iya, boleh dibilang ini negeri muslim. Tapi kami punya populasi Kristen sekitar 15% dari jumlah penduduk Indonesia. Mereka merayakan Natal dengan bebas. Tapi lebih dari itu, Natal adalah perayaan koemersial. Orang bisa merayakan Natal tanpa perlu jadi Kristen,” jawab saya.

Dia diam sejenak, kemudian tertawa. “Iya, bahkan di Italia, Natal itu adalah hari raya dagang,” kata dia.

Siapa yang paling bersemangat dengan hari raya? Pedagang. Pedagang “tidak punya agama”. Apapun agama yang punya hari raya, pedagang ikut merayakan. Bagi mereka setiap perayaan adalah saat di mana orang mau belanja, dan belanja lebih. Maka, mereka memanfaatkan setiap hari raya. Tidak cuma itu, mereka berusaha membuat berbagai hari raya. Kalau perlu setiap hari adalah hari raya.

Di Jepang setiap bulan Desember pusat-pusat perbelanjaan penuh dengan hiasan Natal. Lagu-lagu bertema Natal berkumandang. Orang-orang membeli kue Natal, juga hadiah-hadiah Natal. Apakah mereka beragama Kristen? Tidak. Mereka hanya merayakannya untuk bersenang-senang. Para pedagang membuat mereka seperti itu.

Di Indonesia, obral lebaran sudah dimulai bahkan sejak sebelum bulan puasa. Iklan sirop memenuhi TV sejak menjelang puasa. Sepanjang bulan, pusat-pusat perbelanjaan menyediakan berbagai produk khusus, terkait tema puasa dan lebaran. Berbagai produk yang tadinya tidak ada, dibuat ada, demi puasa dan lebaran. Zaman dulu kita tidak kenal baju koko secara luas, kini rasanya aneh kalau lebaran tidak pakai baju koko. Tentu saja permintaan hijab pun akan meningkat. Di hari biasa banyak orang tidak pakai hijab. Saat puasa dan lebaran orang butuh mukena dan kerudung, sekalian sama baju muslim. Masak iya sih pergi taraweh pakai hot pants.

Hari Valentine pun sebenarnya tak jauh-jauh dari urusan ini. Seingat saya perayaan hari ini mulai marak pada dekade 80-an. Makin lama makin ramai dirayakan. Berbagai kegiatan dilakukan, mulai dari berkirim kartu, bunga, dan hadiah. Pasangan didorong untuk merayakannya dengan makan malam di restoran. Dan seterusnya. Intinya, orang didorong untuk belanja.

Jadi, apakah perayaan Hari Valentine ini dalam rangka perayaan agama tertentu? Tidak. Budaya? Ini juga tidak. Yang paling besar porsinya adalah perayaan dagang. Bagi para pedagang, tidak penting apa agamamu, juga tak penting apa yang kau rayakan. Yang penting kau belanjakan uangmu.

Nah, kita tidak banyak sadar soal hal ini. Kita tidak punya resistansi soal rekayasa pedagang ini. Terlebih bila menyangkut perayaan hari besar agama kita. Coba bayangkan, atau coba hitung, apakah pengeluaran konsuumsi Anda bertambah atau berkurang selama bulan puasa? Dipastikan bertambah. Data statistik setiap tahun menunjukkan bahwa permintaan terhadap barang-barang konsumsi meningkat menjelang dan selama bulan puasa, berlanjut hingga lebaran. Kok bisa? Bukankah seharusnya menurun? Kan selama puasa kita mengurangi makan, dan menahan nafsu? Ternyata tidak.

Coba perhatikan, acara-acara religi meningkat intensitasnya selama bulan puasa. Anda pikir acara itu disajikan gratis? Tidak. Semua mengejar iklan. Lalu mengapa orang mau beriklan? Ujungnya adalah, Anda akan merogoh kocek lebih dalam untuk belanja lagi.

Kenapa orang ribut dengan Valentine? Karena tidak bawa agama. Padahal isinya sama saja, hura-hura. Kecuali, kalaupun ada, acara yang konon menjurus pada hubungan seks di luar nikah. Apakah benar? Mungkin ada sekelompok remaja yang memang permisif terhadap hubungan seks. Tapi apakah ini terkait langsung dengan Hari Valentine, tidak ada kejelasan soal itu.

Bagi saya ada banyak hal lain yang perlu mendapat perhatian lebih daripada sekedar perayaan Valentine setahun sekali itu. Kebiasaan anak-anak nongkrong di mal, misalnya. Seorang tetangga mengeluh, anaknya sudah menuntut untuk disediakan uang jajan yang cukup untuk bisa nongkrong di Starbucks. Anak-anak pun sudah terbiasa menggenggam gawai, milik mereka sendiri. Tidak sedikit orang tua yang memaksakan diri membelikan gawai untuk anak-anaknya. Terhadap hal-hal begini mereka biasa saja, tidak memberikan perlawanan. Padahal ini berlangsung sepanjang tahun.

Tapi begitulah. Segala sesuatu yang berkaitan langsung dengan agama, sepertinya akan mendapat perhatian lebih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *