Hakikat Keyakinan

Keyakinan bukanlah fakta objektif. Karenanya setiap keyakinan pasti menimbulkan ketidakyakinan di pihak lain. Air laut itu asin. Itu adalah fakta objektif, bukan keyakinan. Maka tidak ada seorang pun yang akan membantahnya. Sedangkan keyakinan, pasti akan punya pembantah.

Sule punya keyakinan bahwa dirinya tampan. Sejumlah orang mungkin akan setuju. Tapi pasti ada orang lain yang tidak setuju bahwa Sule itu tampan. Itu adalah sesuatu yang alami. Nah, kalau ada yang tidak setuju soal ketampanan Sule itu adalah sesuatu yang alami, perlukah Sule atau siapapun yang setuju dengannya marah ketika ada orang lain yang menganggap bahwa Sule itu tidak tampan? Tidak perlu sebenarnya.

Itu sebenarnya berlaku pula untuk soal keyakinan tentang Tuhan dan agama, yang biasa kita sebut iman. Ada orang beriman pada Allah. Ada pula orang yang tidak beriman pada Allah. Allah yang diimani itu sendiri mengatakan bahwa ada orang yang tidak beriman pada Allah. Allah menyebutnya kafir. Artinya, kewujudan atau eksistensi orang yang tidak beriman pada Allah itu seharusnya diakui secara alami.

Kunsekuensinya, kalau ada orang beriman pada Allah, dan ia yakin bahwa Allah itu ada, seharusnya ia tak perlu merasa keyakinannya diusik ketika ada orang yang yakin bahwa Allah itu tidak ada. Kalau keyakinan orang lain itu dia anggap usikan terhadap keyakinannya, ia sebenarnya sedang membantah keterangan dari Tuhannya sendiri, yang mengatakan bahwa orang yang tidak beriman itu ada.

Demikian pula halnya soal nabi dan kitab suci. Anda menganggap nabi Anda itu adalah orang suci. Bagi orang lain, ia bukan orang suci. Pada saat yang sama, orang lain menganggap Yesus itu Tuhan. Anda tidak menganggapnya Tuhan. Anda marah kalau nabi Anda tidak dianggap orang suci, tapi Anda terus menerus merapalkan keyakinan Anda bahwa Yesus itu bukan Tuhan. Anda sehat?

Anda yakin bahwa kitab suci Anda benar. Orang lain bahkan tidak menganggapnya kitab suci. Anda tidak perlu marah, karena sekali lagi, itu soal yang alami saja. Kalau semua orang sama dengan Anda, menganggap bahwa kitab suci itu benar, maka itu bukan lagi keyakinan, tapi fakta. Ingatlah, bahwa pada saat yang sama Anda juga tidak menganggap kitab suci mereka sebagai kitab suci. Kalau Anda merasa berhak marah pada orang, maka orang pun sebenarnya berhak marah terhadap Anda.

Hak orang lain untuk menyatakan keyakinannya, sama kuatnya dengan hakmu untuk menyatakan keyakinanmu. Artinya, kalau ia punya keyakinan yang bertentangan dengan keyakinanmu, ia tidak sedang menista keyakinanmu. Ia cuma sedang menunaikan haknya, sama seperti engkau sedang menunaikan hakmu. Kau dan dia harus berbagi ruang.

Bagi saya, tidak ada penistaan keyakinan. Yang ada hanyalah perbedaan keyakinan. Berbeda itu bukan menista. Karena itu, mari sama-sama ingat, bahwa ketika kita menyatakan keyakinan, boleh jadi itu akan menyinggung keyakinan orang lain. Karena itulah, amankan keyakinan Anda itu di ruang-ruang pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *