Hai Kaum Non-Muslim

18 April 2016 13 Comments

Tak perlu lagi saya sampaikan dalil-dalilnya, karena sudah banyak yang menyampaikan. Saya tegaskan saja bahwa kalian non-muslim tidak boleh jadi pemimpin. Kami orang muslim haram hukumnya mengangkat kalian jadi pemimpin. Jangan berdebat lagi soal alasannya. Pokoknya haram. Karena itulah yang tertulis di kitab suci kami.

Jadi, kalian tak boleh jadi presiden. Itu sudah jelas. Kalian juga tidak boleh jadi wakil presiden. Karena kalau presiden mati atau berhalangan, itu akan membuat kalian jadi presiden. Maka jadi wakil presiden tidak boleh bagi non-muslim. Jadi menteri juga tidak boleh. Kan menteri itu pemimpin juga. Jadi dirjen juga tidak boleh. Karena dirjen juga pemimpin. Direktur dan pejabat eselon juga tidak boleh. Karena direktur itu pemimpin sebuah direktorat, kan? Kasubdit juga tidak boleh, karena yang namanya kepala itu juga pemimpin. Artinya jadi kepala seksi juga tidak boleh.

Tentu saja non-muslim tidak boleh jadi gubernur, bupati, camat, dan lurah. Semua itu pemimpin. Kalian hanya boleh jadi pemimpin di daerah di mana kalian penghuni 100%, tidak ada muslim di situ. Kalau ada 1 orang muslim saja, maka kalian tidak boleh jadi pemimpin. Kalian semua akan membuat 1 orang muslim itu berdosa karena menjadikan kalian sebagai pemimpin.

Kalian hanya boleh jadi staf biasa. Oh ya, kalian boleh jadi tukang sapu, tapi tidak boleh jadi ketua regu tukang sapu. Karena ketua regu itu juga pemimpin.

Kalau di luar pemerintahan bagaimana? Kalian boleh jadi pengusaha. Tapi kami tidak mau jadi karyawan kalian. Karena kalau kami jadi karyawan, kalian otomatis jadi pemimpin kami. Jadi, kalian hanya boleh mempekerjakan karyawan non-muslim yang segolongan dengan kalian. Tapi ingat, kalau kalian lakukan itu, artinya kalian sudah bertindak diskriminatif terhadap kaum muslim. Kami tidak heran, karena seperti difirmankan Tuhan kami, kalian memang tidak akan pernah senang kepada kami. Kalian selalu punya tipu muslihat untuk menyingkirkan kami.

Jadi saya ulangi. Kalian bebas menjadi apapun, kecuali jadi pemimpin. Kalian boleh jadi dokter, tapi jangan jadi kepala rumah sakit. Jangan pula jadi kepala departemen atau seksi di rumah sakit. Kalian boleh jadi tentara dan polisi, tapi tidak boleh jadi komandan. Ah, jangan deh. Nanti kalian berkhianat kalau pegang senjata. Jadi dokter juga kalian harus diawasi secara ketat, karena bisa saja kalian sengaja membuat pasien muslim mati.

Kalian boleh sekolah, tapi tidak boleh jadi ketua kelas. Lagipula, untuk apa kalian sekolah? Kan kalian tidak boleh jadi pemimpin. Jadi tidak perlu sekolah tinggi.

Maafkan kami kalau kalian merasa tak nyaman. Kami tak membenci kalian. Ini semua hanya dalam rangka menjalankan perintah Tuhan kepada kami. Tidak ada maksud lain selain itu. Kami tidak memusuhi kalian, melainkan kalianlah yang selalu memusuhi kami.

Jadi begitulah. Ini satu aspek saja saya jelaskan tentang nasib kalian di bawah kepemimpinan Islam. Kalian bisa segera rasakan bahwa Islam itu rahmat bagi sekalian alam, termasuk bagi kalian. Kami sangat adil kepada kalian, karena kami memberi kebebasan seluas-luasnya kepada kalian, kecuali satu hal tadi, kalian tidak boleh jadi pemimpin. Bukankah kami adalah umat pembawa damai dan rahmat bagi kalian?

 

13 thoughts on “Hai Kaum Non-Muslim”

  1. Ini org mksdnya apa? Serampangan sekali mengejawantahkan islam! Ini org bkn org islam, islam tidak seperti jabaran manusia ini! Kalaupun ada manusia2 ini hanya segelintir di republik ini. Ya itu yg sdg kita sama2 kejar seperti tikus di poso…kasihan kalian…NKRI milik semua bangsa nusantara yg ber- BHINEKA TUNGGAL IKA…!

  2. thumbs up! mak jleb hehhe
    ketua piket mingguan di kelas gak boleh juga ya..:-) boleh jadi tukang hapus papan tulis aja kalo gitu hahhaa

  3. Hahaha lucu postingannya. Cara jitu menjelaskan bahwa mereka yg membaca kitab suci dengan cara seperti itu adalah org yg dangkal. Skrg kita tau ya siapa aja itu org org dangkal di negri ini. Mereka yg bicara mengenai agama seakan akan paling suci dan pintar ternyata yg plg dangkal.

  4. Mas sepertinya bisa membedakan antara ulil amri dan pimpinan perusahaan

    Ulil amri kita wajib memilihnya dan harus Muslim. Kalau bukan Muslim, maka terkena dosa lah yang memilihnya.

    Sedangkan pimpinan perusahaan, adalah pemimpin sebuah perusahaan, dimana kalau ada Muslim yang menjadi bawahan, maka tidak ada dosa bagi orang Muslim, seperti Nabi Muhammad SAW sendiri pernah bekerja sebentar demi beberapa butir kurma kepada orang Yahudi (walaupun pada akhirnya, orang Yahudi tadi masuk Islam). Begitu juga Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang bekerja kepada kaum kafir selama beberapa saat.

    Namun jika mas masih kekeh dengan argumentasi mas, silakan saja mungkin suatu saat nanti, di Indonesia mayoritas Islam hanya akan jadi rakyat jelata yang dipimpin oleh non Muslim, mulai dari presiden, gubernur, walikota, camat, lurah, rw, sampai rt, dimana hukum Islam tidak diterapkan, seperti akan dilakukan pelarangan Jilbab, azan tidak boleh pakai speaker, libur untuk umat Islam dibatasi hanya 1 hari libur Idul Fitri, mewajibkan menggunakan atribut non Muslim saat hari raya agama, sampai melarang solat dalam bekerja

    Jika sampai itu terjadi (semoga tidak terjadi), jangan menyesal, apabila Nabi Muhammad tidak mengenali mas & Allah tidak mau melihat mas, bahkan lebih parah, Allah murka kepada mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *