Gumun Islami

Gumun  adalah sebuah kosa kata dalam bahasa Jawa. Artinya kagum atau heran. Dalam budaya Jawa ada ajaran “ojo gumun”. Maksudnya kurang lebih, jangan kagum/heran terhadap sesuatu sampai terpana, membuat kita jadi rendah diri, atau kehilangan kontrol. Gumun biasanya dialami orang yang berada pada situasi yang pertama kali ia hadapi, khususnya bila situasi itu sangat kontras dengan situasi yang biasa ia hadapi.

SUatu ketika berita tentang mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair membaca Quran dimuat di hampir semua media. Dan begitu banyak yang meneruskannya di laman Facebook, dengan berbagai komentar. Ada banyak komentar yang berharap Tony Blair mendapat hidayah dari bacaannya itu.

Meski tak sampai berlebihan, saya melihat excitement dalam menanggapi berita ini. Saya memahami, Tony melakukan hal itu dalam rangka tugas barunya, yang berkaitan dengan soal Timur Tengah. Itu tertulis secara gamblang di berita. Tapi bagi sebagian orang, berita itu bisa bermakna lain. Saya jadi teringat pada sebuah ceramah radio yang saya dengar sepuluhan tahun yang lalu. Seorang ustaz dengan bangga bercerita bahwa Hillary Clinton rajin membaca Quran, disertai dengan bumbu (harapan) bahwa dia akan mendapat hidayah, lalu masuk Islam. Hillary bukan seorang muslim hingga saat ini.

Masuk Islamnya seorang tokoh Barat, khususnya berkulit putih, sepertinya begitu menggairahkan banyak orang. Sangat sering hal ini menjadi berita. Bahkan banyak berita yang akhirnya terbukti bohong soal masuk Islamnya berbagai tokoh, seperti Michael Jackson, Neil Armstrong, dan lain-lain. Seakan dunia Islam menjadi lebih hebat dengan masuknya orang-orang tersebut. Bagi saya, hal semacam itu adalah gejala gumun. Banyak orang belum terbiasa melihat orang Barat beragama Islam, sehingga merasa hal itu sebagai sesuatu yang khusus. Atau, dunia Islam begitu kekurangan orang hebat, sehingga masuknya tokoh tertentu diharapkan bisa memperkaya dunia tersebut. Padahal orang keluar masuk suatu agama adalah persoalan yang sangat biasa. Semata persoalan pilihan pribadi. Tidak lebih dari itu. Pada saat sebagian orang masuk Islam, di saat yang lain ada juga yang keluar.

+++
Di lain waktu  saya membaca link yang dimuat seorang teman di laman Facebooknya. Ada artikel yang membahas “mukjizat air”. Dan seperti biasa, pembaca berdecak kagum, dan keluarlah puji-pujian kepada Allah Yang Maha Mengetahui. Saya baca sekilas artikel itu, saya langsung tahu bahwa itu tentang Masaru Emoto. Dia mengklaim bahwa kristal air akan mengambil bentuk yang berbeda, lebih cantik, kalau dibacakan doa.

Saya sudah lama membaca mengenai Emoto ini. Dia bahkan pernah datang ke Indonesia untuk mempromosikan bukunya. Tapi temuan Emoto sangat diragukan dari sudut pandang ilmiah. Eksperimen yang dilakukannya penuh dengan kecerobohan manusia. Intinya, dia melakukan proses pencocokan. Kesimpulan dibuat dulu, data menyesuaikan dengan kesimpulan.

Nasihat saya kepada teman saya tadi, kalau mau kagum dengan mukjizat air, bacalah hasil-hasil riset yang sahih tentang air. Ada begitu banyak riset tentang itu. Sederhana saja, tubuh kita ini lebih dari 80% kandungannya adalah air. Dari iklan Aqua saja kita bisa tahu kok tentang itu. Mau lebih rumit? Saya kebetulan pernah meneliti struktur bahan (molekul) yang eksistensinya ditopang oleh molekul air. Salah satunya adalah DNA. Struktur DNA pada makhluk hidup hanya bisa wujud pada kelembaban yang tinggi. Molekul air memenuhi lekuk-lekuk pada struktur spiral DNA. Bila kelembaban menurun, struktur DNA akan berubah. Bahkan pada kelembaban yang lebih rendah, struktur DNA akan mengalami disorder.

Pada riset yang pernah saya lakukan, saya malah mengurangi kelembaban pada sampel DNA dan mengamati sampai sejauh mana strukturnya masih bisa bertahan. Dalam hal ini kami tidak lagi berfikir tentang DNA sebagai komponen penyusun makhluk hidup, tapi kami melihat DNA sebagai molekul yang mungkin bisa dimanfaatkan dalam nano teknologi.

Tak hanya bahan hidup, beberapa mineral keluarga birnessite terbentuk dari atom-atom logam yang membentuk lapisan (layer), dan penyokong di antara lapisan-lapisan itu adalah molekul air. Pengaruh molekul air tersebut tidak hanya pada sifat struktur, tapi juga pada sifat elektrik dan magnetik bahan tersebut. Dan masih banyak lagi contoh mukjizat air dari berbagai riset sahih yang sudah dilakukan oleh para ilmuwan. Pada hal-hal itulah saya harapkan kita berdecak kagum.

+++
Pada lain ketika, ada yang mengirimkan video tentang citra ultrasonografi pada bayi dalam kandungan. Sang bayi terlihat gelisah, kemudian dibacakan ayat Quran, lalu bayi terlihat tenang. Dan seperti biasa, bertaburanlah puja puji pada Allah. Saya, seperti biasa, skeptis pada yang demikian ini. Orang bisa dengan mudah membuat video yang bisa menggiring kepada kesimpulan yang keliru. Tak sulit untuk mencari citra bayi yang sedang “gelisah”, lalu citra bayi yang “tenang”, kemudian menambahkan bacaan ayat Quran kemudian, bukan?

Kalaupun benar, tidak ada rekayasa palsu pada video itu, kita masih punya masalah soal definisi “gelisah” dan “tenang” itu. Apakah gelisah dalam observasi kita adalah gelisah pada diri bayi? Bisa jadi itu ekspresi yang bukan gelisah. Kita tidak bisa memastikan itu. Selain itu, ada masalah reproducibility. Dalam riset suatu gejala baru bisa disimpulkan polanya bila ada sejumlah sampel yang diuji, dan menunjukkan gejala yang sama. Dalam kasus video tadi, kita tak tahu berapa banyak sampel yang diuji. Bisa jadi yang kita lihat hanyalah sebuah kebetulan.

Tapi di luar soal itu, seperti saya nasihatkan kepada teman pengirim video tadi, kita sebenarnya bisa sangat kagum pada sesuatu yang ada di hadapan mata kita, kalau kita menyadarinya. Ya, pada teknologi ultrasonografi itu. Tidakkah luar biasa, bagaimana gelombang suara itu bisa diubah menjadi citra visual yang tampak oleh mata? Mengapa tak kagum pada hal itu, dan memilih untuk kagum pada hal yang mungkin merupakan sebuah kebohongan?

+++
Dua cerita terakhir yang saya tuliskan adalah bentuk gumun juga. Kebanyakan dari kita, dalam keseharian tidak bergaul dengan dunia sains. Ini semua salah kita. Dunia Islam saat ini boleh dibilang tersisih dari pergaulan sains. Lalu kita jadi mudah terpana dengan sains. Terlebih bila fakta-fakta sains itu membenarkan ajaran yang kita anut. Serta merta kita menelannya tanpa periksa. Dalam hal ini, kombinasi antara ketidak tahuan dan iman, menggiring orang pada kebodohan.

Saya menyebut gejala itu gumun islami, yaitu gumun yang melanda banyak orang Islam. Tapi sebenarnya ada gumun islami yang lebih sahih. Yaitu gumun terhadap fenomena alam yang kita pahami secara sahih, kemudian kita kaji dan periksa gejala itu hingga kita bisa memanfaatkannya untuk kehidupan. Allah Maha Kuasa, Allah Maha Tahu. Kita semua tahu itu. Tapi bagaimana kekuasaan dan pengetahuan Allah itu membuat hidup kita lebih baik, itulah yang lebih penting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *