Good Man at Work

men

Saya cukup sering menerima keluhan soal hubungan di tempat kerja. Ada atasan yang mengeluhkan bawahannya. Tapi tentu saja, sangat sering bawahan mengeluhkan atasan. Bahkan konon, sebab utama orang keluar dari suatu pekerjaan bukan karena beban pekerjaan, tapi karena hubungan dengan atasan. Saya tidak bisa memastikan kebenaran klaim itu. Tapi setidaknya saya tidak memungkiri bahwa ada banyak orang tidak tahan dengan pekerjaan karena hubungan yang buruk dengan atasan.

Siapakah kita di tempat kerja? Sesungguhnya tempat kerja hanyalah salah satu tempat kita melakukan interaksi sosial. Istimewanya, ini mungkin tempat interaksi sosial kita yang paling tinggi. Dalam lingkungan sosial orang akan menandai kita dari karakter yang kita tampilkan. Apakah kita orang yang ramah, supel, baik hati, pemurah? Atau kita orang yang arogan, bawel, usil, menyebalkan, dan seterusnya. Jadi, bagaimana karakter kita secara sosial boleh jadi akan ditentukan dengan karakter kita di tempat kerja tersebut.

Saya pernah punya banyak atasan, maupun bawahan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang baik. Karena itu saya sangat menghormati mereka, hingga sekarang. Tentu saja tak semua baik. Ada beberapa yang buruk. Menariknya, tak semua yang baik itu segera bisa kita pahami kebaikannya. Beberapa di antaranya memerlukan proses saling mengerti, yang memakan waktu agak lama. Sebaliknya, atasan yang buruk pun tidak melelu buruk di semua sisi. Ada sisi-sisi baik dia yang masih bisa saya kenang.

Bila kita gunakan cermin, maka akan seperti itulah orang melihat kita. Akan ada orang-orang yang segera mengenali kita sebagai orang baik. Ada yang butuh waktu untuk memahami kita. Tentu saja akan ada yang menganggap kita buruk, bahkan buruk secara total. Mereka membenci kita.

Perlu kita catat bahwa baik tidak identik dengan menyenangkan. Boleh jadi kita adalah orang yang menyenangkan bagi orang lain, tapi kita menyenangkan orang dengan keburukan-keburukan. Sebaliknya, banyak usaha kita untuk menghadirkan kebaikan, tapi itu membuat orang-orang tidak nyaman. Yang terbaik tentu saja bila kita bisa melakukan kebaikan-kebaikan yang membuat orang senang. Pada umumnya kebaikan memang akan menyenangkan. Tapi ketika kita berhadapan pada pilihan, melakukan tindakan baik atau sekedar tindakan menyenangkan, tentu prioritas kita adalah tindakan baik.

Nah, seperti apakah orang baik di tempat kerja? Beberapa langkah yang saya lakukan adalah sebagai berikut.

  1. Be friendly, but not personal. Saya selalu bersikap bersahabat dan ramah dengan siapa saja. Saya biasa menyapa orang, mengajak berbincang dan bercanda. Tapi saya membatasi diri untuk tidak ikut campur pada urusan pribadi orang.
  2. Berkompetisi, tapi tidak bermusuhan. Rekan kerja kita adalah sekaligus kompetitor kita. Jujur saja, tempat yang tersedia di posisi yang lebih tinggi sering kali harus kita perebutkan melalui persaingan dengan rekan kerja kita. Maka kita harus bersama, tapi juga bersaing. Mari lakukan persaingan yang sehat. Prinsipnya adalah lebih baik kita membuat nyala lilin kita lebih terang, bukan mematikan lilin lain di sekitar kita agar kita terlihat terang. Pada titik tertentu, kita tidak perlu sungkan mengakui saat kita memang kalah dalam persaingan.
  3. Melayani, bukan menjilat. Atasan adalah figur yang harus kita layani. Kita bekerja di bawahnya, menjalankan berbagai instruksi, mendukung agar apa yang ia programkan berjalan dengan lancar. Kita keluarkan segenap kemampuan kita untuk melayani. Tapi seperti prinsip nomor 1, ini layanan profesional. Kita berusaha menyenangkan atasan dengan kinerja profesional, bukan dengan sentuhan pribadi. Yang terakhir itu namanya menjilan.
  4. Mendidik, bukan menekan. Kepada bawahan kita punya kuasa. Tapi jangan pernah menggunaan kekuasaan itu untuk kesenangan atau kepentingan pribadi kita. Sesekali mungkin kita perlu bersikap tegas atau keras kepada bawahan. Namun itu harus dilakukan dalam rangka memperbaiki mereka. Bawahan adalah orang-orang yang akan membantu mengerjakan pekerjaan kita. Buat mereka jadi anggota tim yang produktif, bukan budak yang kita zalimi.
  5. Inspiratif, bukan arogan. Bila kita berprestasi, maka kita bisa mengajak orang untuk mengikuti jejak kita, tentu saja dengan tetap berbasis pada karakter mereka masing-masing. Namun menjadikan diri kita sebagai contoh bagi orang lain jangan sampai membuat kita menjadi sosok yang arogan. Kita boleh percaya diri, tapi tidak boleh sombong. Apa perbedaannya? Karakter utama pada kesombongan adalah merendahkan orang lain. Itu hal yang harus kita hindari.

Selamat mencoba.

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Good Man at Work”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *