Ganko, Keras Kepala

22 March 2016 0 Comments

ganko

Kemarin saya berbincang santai dengan presdir. Topiknya tentang SDM perusahaan. Banyak keluhan dari orang Jepang soal rendahnya inisiatif dan motivasi karyawan. Saya ingin berkontribusi memperbaikinya. Presdir saya bilang,”Masalahnya memang tidak sepihak, ada di 2 pihak. Pihak manajemen, orang-orang Jepang juga bermasalah. Yang sering terjadi bukan komunikasi, tapi instruksi searah. Orang harus ikut apa mau kita (orang Jepang) saja,” kata dia.

“Ya, saya paham itu. Tapi kalau saya, sebagai karyawan saya berada dalam posisi tawar rendah. Tapi bagaimanapun situasi itu tidak boleh membuat saya berhenti bekerja dengan baik,” kata saya. Lalu saya ceritakan perngalaman waktu kuliah di Jepang dulu.

Pertama kali tiba di Jepang, waktu mulai kerja riset di kampus, Sensei saya bilang,”Kamu jangan bawa budaya tropismu ke sini, ya.” Ha? Maksudnya apa nih? “Ya, kan orang-orang tropis itu pemalas,” jelas Sensei. Aduh. Mau saya bantah, tapi saya batalkan. Percuma bertengkar, lebih baik saya unjuk kerja saja.

Hari-hari pertama kerja di bawah supervisi Sensei seperti neraka. Ia melihat saya dengan persepsi tadi, sehingga kesalahan kecil saja pun yang saya lakukan jadi masalah besar buat dia. Hal-hal kecil membuat dia marah, menceramahi saya dengan hal-hal dasar seperti memarahi anak kecil. Saya diam, dan minta maaf.

Ada satu hal lagi yang sering diomelkan Sensei, yaitu soal jam kerja. Ia meminta saya masuk ke kampus juga pada hari Sabtu, kalau bisa Minggu juga. Saya menolak. “Lihat itu orang-orang Cina, Korea, dan orang Jepang. Mereka kerja keras semua, Sabtu Minggu juga masuk. Kalau tidak begitu kamu tidak bisa jadi doktor,” omelnya. Saya tidak membantah, tapi tak pernah mematuhinya. Saya waktu itu pengantin baru, istri saya baru datang ikut saya ke Jepang. Sehari-hari dia terkurung sendiri di rumah. Kalau Sabtu Minggu saya mesti ke kampus juga, kasihan istri saya.

Tapi saya tetap bisa membuktikan pada Sensei bahwa saya bukan orang tropis yang pemalas. Beberapa bulan bekerja saya sudah menghasilkan data untuk dipakai Sensei presentasi di konferensi internasional. Satu set data berikutnya, saya sendiri yang pergi presentasi. Mulanya Sensei keberatan. “Kita tidak punya biaya untuk perjalanan kamu,” katanya.

“Tidak perlu khawatir, saya bisa usahakan dana sendiri,” jawab saya.

“Ha? Dari mana?”

“Ini ada foundation (zaidan) yang mau membiayai perjalanan peneliti muda. Sensei tinggal tanda tangan di sini saja,” kata saya menyodorkan formulir. Dia tercengang.

“Dari mana kamu tahu? Orang-orang Jepang saja tidak tahu hal seperti ini,” katanya takjub. Dalam hati saya bilang,”Saya tidak bodoh dan pemalas seperti orang Jepang, Sensei.”

Sejak itu Sensei mulai memuji saya saat memperkenalkan kalau ada kolega dia berkunjung. “Hasan kun wa yaru ki man-man,” katanya. Ia menyebut saya sebagai orang yang penuh semangat. Tidak hanya itu. Ia mulai membandingkan saya dengan anak-anak muda Jepang. “Anak-anak muda sekarang cengeng, lembek. Ditegur sedikit saja sudah ngambek. Kalau Hasan ini ganko (keras kepala), dimarahi macam apa pun, 5 menit kemudian dia bisa lapor dan diskusi sama saya seakan tidak terjadi apa-apa.”

Walhasil, meski dengan berbagai omelan sepanjang masa sekolah, saya bisa menyelesaikan program master. Sensei meminta saya melanjutkan ke program doktor. Tidak hanya itu. Dia menawari pekerjaaan sebagai peneliti tamu, sejak saya masih di tahun pertama program doktor.

Apa yang membuat saya bisa bertahan? Mimpi dan target. Mimpi saya menyelesaikan kuliah sampai doktor. Tanpa itu kepergian saya ke Jepang nyaris tak ada maknanya. Maka rintangan apapun yang saya hadapi, saya tahan. Saya tidak menyerah karena hal-hal sepele seperti soal perasaan atau harga diri. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Selesai.

Kita tidak pernah bisa memilih atasan. Yang bisa kita pilih adalah sikap kita terjadap atasan. Demotivasi karena atasan jelek? Lalu, siapa yang dirugikan? Kita. Atasan kita mungkin akan terus melejit karirnya. Sementara kita terkunci, bahkan terpuruk. Saya tak sudi begitu. Saya memilih untuk bekerja dengan baik, demi diri saya. Saya percaya kerja-kerja yang baik bisa memperbaiki lingkungan, termasuk atasan kita sendiri. Sensei saya “belajar” banyak dari interaksinya dengan saya. Di kemudian hari dia minta saya tetap bekerja dengan dia, merekomendasikan saya ke temannya, dan juga meminta saya mencarikan mahasiswa saat dia punya jatah untuk beasiswa.

Tapi saya juga tidak selalu tunduk diam, mengalah. Kalau memungkinkan saya akan melawan balik. Pernah saya membuat direktur atasan saya dipulangkan lebih cepat dari masa tugas, karena saya anggap dia tidak layak jadi atasan, dan saya tidak suka sama dia. Dalam hal ini bos saya punya prinsip dengan saya. “Atasan kita pasti punya atasan juga. Kita bisa memakai tangan atasan dia untuk menjewer dia,” katanya pada suatu perbincangan yang lain.

Di akhir perbincangan, presdir saya tidak keberatan ketika saya ajukan rencana untuk memberi motivasi kepada para karyawan di grup kami. Cuma dia mengingatkan,”Bagi saya kamu itu istimewa. Kamu benar-benar berbeda dari kebanyakan orang Indonesia. Jadi, jangan sampai frustrasi kalau nanti ternyata orang-orang itu tidak kunjung berubah.”

Saya paham soal itu. Tapi kalau tidak dicoba, mana kita tahu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *