Galau-galau Cinta

broken

 

 

 

 

 

 

 

Bagi yang tidak merasakan, mungkin galau cinta bisa dianggap sekedar bahan untuk bercanda atau ejek-ejekan. Tapi masalah sepele ini bisa betul-betul merusak. Pendidikan terhadap anak-anak, bimbingan terhadap remaja, harus turut memperhatikan soal ini.
 
Ada beberapa kejadian fatal yang pernah saya lihat, soal asmara ini. Ada anak yang sangat cerdas dan cemerlang. Ia kuliah di jurusan bergengsi di sebuah perguruan tinggi ternama. Tentu orang tuanya bangga padanya.
 
Tapi pada suatu masa, anak itu jatuh cinta pada salah satu teman kuliahnya. Soal biasa, bukan? Soal biasa pula, cintanya ternyata ditolak. Biasanya ini hanya akan jadi cerita galau singkat, yang kelak jadi bahan olok-olok antar teman.
 
Tapi yang ini tidak biasa. Anak tadi mengalami kejutan mental yang luar biasa. Ia kemudian menjadi kehilangan semua kecemerlangannya. Ia tak lagi kuliah, mengunci diri di kamar. Kemudian mulai bicara sendiri. Saya menyaksikan sendiri keadaannya, setelah ia parah. Bahkan, kabarnya ia pergi dari rumah, tak tahu sekarang berada di mana.
 
Bukan sedikit contoh yang demikian itu. Pernah pula saya menyaksikan seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang pemuda, tapi ia bertepuk sebelah tangan. Akhirnya, ia pun menderita sakit jiwa.
 
Kalau pun tidak sampai gila, tidak sedikit remaja yang mengalami perubahan perilaku akibat asmara. Ada yang tadinya pendiam, tiba-tiba menjadi beringas. Ada pula yang sebaliknya, dari anak yang aktif dan ceria, tiba-tiba menjadi pendiam. Tidak sedikit yang merosot prestasi belajarnya gara-gara ini.
 
Apa masalahnya sehingga hal yang seharusnya sepele itu bisa demikian fatal? Bagi saya, mental itu sama dengan fisik. Fisik kita, sekali kena penyakit, akan menderita. Tapi dengan itu ia membangun ketangguhannya sendiri. Karena itu, anak sakit, itu soal biasa saja. Kuatkan tubuhnya, agar dia sembuh. Dia akan jadi lebih kuat.
 
Soal mental juga begitu. Anak-anak harus terbiasa gagal, atau tidak tercapai keinginannya. Ia harus belajar menerima, bahwa tak semua keinginan akan tercapai. Atau, lebih tajam lagi, ada keinginan yang harus diusahakan berulang-ulang, baru bisa tercapai.
 
Bagaimana cara mengajarkan hal itu pada anak? Pertama, jangan biasakan menuruti semua keinginannya. Penuhi permintaan anak berbasis pada kebutuhan. Meski kita bisa, kita mampu, tidak semua keinginan anak harus dituruti. Sering saya bersikap tega pada anak, menolak permintaannya, karena menurut saya tidak perlu dituruti. Dengan begitu anak belajar mengatasi rasa kecewanya.
 
Kedua, hadapkan anak kita pada berbagai kompetisi. Ia pasti akan gagal. Maka pada saat itu kita harus hadir, menguatkan dia. Dengan begitu ia akan belajar membangun kekuatan mental menghadapi kegagalan.
 
Ketiga, komunikasikan dengan baik hal-hal yang menyangkut perasaan asmaranya. Hal ini mungkin akan berat, karena anak remaja biasanya enggan membahas soal ini dengan orang tua. Kenapa? Banyak orang tua yang melarang anaknya pacaran. Padahal hasrat untuk suka pada lawan jenis itu alami. Ia muncul begitu saja. Kalau tidak terjadi komunikasi yang baik, anak akan menyimpan perasaannya sendiri. Ketika ia bermasalah dengan perasaan itu, kita sebagai orang tua sama sekali tidak tahu. Kalau kita tidak tahu, bagaimana kita bisa membantu?
 
Bagaimana membuat anak terbuka soal perasaan asmaranya? Ini bukan sesuatu yang bisa kita dapat dengan instant. Kita harus membangunnya dengan baik, sehingga tersedia ruang kepercayaan yang luas antara kita dengan anak. Anak harus diberi ruang senyaman mungkin, sehingga ia tidak takut, juga tidak malu untuk bercerita.
 
Anak perlu mendapat keyakinan bahwa kita tidak marah dengan perasan dia. Atau, mereka tidak dilecehkan atau diejek dengan perasaan itu. Ini betul-betul wilayah sensitif.
 
Keempat, sediakan pendampingan yang memadai saat anak kita mengalami krisis asmara. Kita harus sanggup mendeteksinya, menggali informasi mengenai keadaanya, tapi harus hati-hati, jangan sampai menciderai ruang pribadinya.
 
Kita bahkan perlu mendeteksi, kapan kita perlu mendapat bantuan atau pendampingan dari psikolog. Nah, soal ini kadang juga jadi hambatan bagi orang tua. Tidak sedikit yang malu konsultasi dengan psikolog, karena kalau konsultasi seakan anaknya sakit mental. Sakit mental dianggap penyakit memalukan. Padahal, tidak semua konsultasi ke psikolog berarti anak kita sakit. Bahkan, kalau pun sakit, sama saja dengan sakit fisik. Sakit bisa disembuhkan, bukan sesuatu yang hina.
 
Rumit? Iya. Tapi sekali lagi, semua itu mudah saja, kalau kita biasa hadir di tengah anak-anak kita.
sumber foto: rawstory

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *