Enam Kesalahan Persepsi tentang Bisnis

Ketika saya mendorong mahasiswa untuk bersiap memasuki dunia kerja dengan membekali diri dengan berbagai kompetensi, selalu ada saja yang berkomentar,”Ngapain cari kerja? Ciptakan dong lapangan kerja. Kita jadi pengusaha.”
 
Kedengarannya gagah, tapi pernyataan itu bolong besar. Ketika saya katakan “bekerja” tentu saja maksud saya juga meliputi bagian “bekerja mandiri”, salah satu bentuknya adalah jadi pengusaha. Kenapa harus dianggap berbeda?
 
Ini adalah kesalahan persepsi pertama soal berbisnis. Ada beberapa motivator seperti Bob Sadino atau Purdi Chandra yang terlalu bersemangat mendorong orang untuk berbisnis, sampai terbangun kesan bahwa berbisnis itu tidak perlu pintar, tidak perlu kompeten. Salah! Tidakkah lucu bahwa karyawan perusahaan harus kompeten, sementara pemilik perusahaan tidak perlu kompeten?
 
Faktanya seorang pengusaha sebenarnya dituntut untuk punya kompetensi lebih tinggi daripada kompetensi yang dibutuhkan oleh rata-rata karyawan. Tanpa kompetensi, maka bisnis akan hancur dalam 2 hari.
 
Kesalahan kedua, jadi pengusaha tidak punya atasan. Artinya ia tidak akan disuruh-suruh. Ia akan bebas bekerja sesuai kehendaknya. Salah!
 
Pengusaha itu tugasnya melayani. Melayani siapa? Pelanggan atau customer. Kalau kebutuhan pelanggan tidak terpenuhi, mereka akan berhenti membeli produk. Bisnis akan mati.
 
Saya selalu ingat cerita seorang pengusaha bandeng presto dari Semarang. Di awal usahanya, suatu hari jam 10 malam dia baru selesai memasak bandeng. Baru mau istirahat, cerita dia, datang telepon dari pelanggan penting, pesanan mendadak. Bagi dia pesanan itu tak mungkin ditolak. Maka ia bekerja lagi, memasak bandeng sampai jam 4 pagi. Kisah seperti ini biasa dituturkan oleh pengusaha sukses.
 
Kesalahan ketiga, pengusaha punya waktu bebas. Karena tidak disuruh-suruh, pengusaha bisa bebas mengatur waktu sesuka dia. Dia tidak punya jam kerja. Salah!
 
Kalau disebut tidak punya jam kerja, sebenarnya banyak pengusaha yang bekerja tak kenal waktu, nyaris 24 jam. Alih-alih punya banyak waktu luang, mereka justru selalu sempit dalam soal waktu. Yang punya waktu luang, terlihat santai, dan dijadikan referensi adalah pengusaha yang sudah mapan dan sukses. Itu namanya salah sampel. Kalau sudah sukses dan mencapai level tertentu, karyawan juga bisa punya waktu luang dan tidak terikat secara ketat pada jam kerja.
 
Kesalahan keempat, pengusaha selalu (lebih) kaya. Sekaya-kayanya karyawan, katanya, tetap lebih kaya pemilik perusahaan. Iya, itu kalau perusahaannya sukses. Kalau gagal, pemiliknya bangkrut total, karyawan masih tetap kaya. Karena karyawan memang tidak ikut menanggung resiko bisnis.
 
Banyak orang menganggap jadi pengusaha itu pasti kaya. Atau, kesuksesan itu identik dengan kekayaan. Padahal menjadi kaya itu hanyalah efek samping dari kesuksesan. Tidak semua pengusaha itu kaya, dan tidak semua orang kaya itu pengusaha.
 
Kesalahan kelima, pengusaha lebih mulia daripada karyawan. Karena pengusaha memberi kerja bagi karyawan. Salah!
 
Hubungan kerja bukanlah hubungan atas bawah, melainkan hubungan sejajar, karena kebutuhan bersama. Pengusaha butuh karyawan, karyawan membutuhkan kerja. Maka terjadilah akad kerja sama. Karyawan menyumbangkan tenaganya bagi bisnis pengusaha, dan pengusaha memberi imbalan. Pengusaha dapat memberhentikan karyawan, karyawan pun bebas untuk berhenti dari pekerjaannya. Jadi, ini hubungan sejajar.
 
Kemuliaan tidak terletak pada posisi seseorang melainkan apa yang ia lakukan dan bagaimana ia melakukannya. Pengusaha menjadi mulia kalau usahanya mendatangkan manfaat bagi banyak orang. Karyawan menjadi mulia bila kerjanya mendatangkan manfaat bagi banyak orang.
 
Kesalahan keenam, orang selalu bergerak dari domain karyawan ke domain pengusaha. Karena domain pengusaha itu adalah domain yang lebih tinggi dari domain karyawan. Salah!
 
Faktanya tidak sedikit orang yang berhenti jadi pengusaha, lalu memilih jadi karyawan. Banyak yang menemukan bahwa dia tidak sanggup jadi pengusaha, dan lebih cocok jadi karyawan. Ada pula karyawan yang menjadi pengusaha, lalu balik lagi menjadi karyawan. Semua itu terjadi secara alami, tidak perlu disesali atau dianggap sebagai kesalahan.
 
Sebenarnya tak ada keberatan saya pada semangat orang-orang yang ingin jadi pengusaha, atau yang ingin mendorong anak-anak muda agar jadi pengusaha. Saya hanya ingin meluruskan beberapa salah persepsi yang bisa berakibat buruk. Ada yang akibatnya berupua materi, seperti kebangkrutan instan. Ada juga yang akibatnya lebih ruhiyah sifatnya, seperti kepongahan, memandang rendah orang-orang yang yang bukan pengusaha.
 
Selebihnya, silakan pilih jalur yang mau Anda tempuh. Persiapkan diri untuk itu. Ketahuilah, persiapan untuk jadi pengusaha lebih berat ketimbang jadi karyawan. Takut? Tidak perlu! Go for it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *