Emak Mengajari Aku Memasak

dapur

Pagi hari, lepas sembahyang subuh. Masih agak gelap di luar sana. Demikian pula di rumah kami. Satu-satunya sumber cahaya adalah pelita yang sengaja dibiarkan menyala selama kami tidur. Berbekal pelita itu Emak mengajakku ke dapur. Berdua kami menuju ke tungku.

Tungku terletak di salah satu sudut dapur. Terbuat dari kayu, berbentuk meja, lantainya dilapisi dengan tanah liat yang sudah mengeras. Abu bekas pembakaran kayu berserak di atasnya. Di bagian tengah, memanjang dari kiri ke kanan terletak dua batang besi dipasang berjajar, disangga oleh bongkahan tanah liat kering. Emak menarik tanganku mendekat ke tungku.

“Coba kau tuang sedikit minyak tanah pelita tu ke atas abu.” perintahnya.

Aku paham maksud Emak, karena aku sudah sering melihat Emak melakukannya. Kutuang beberapa tetes minyak tanah dari pelita ke atas abu tungku, persis di antara dua batang besi sejajar tadi, lalu aku sulut tetesan itu dengan api dari pelita, api kecil menyala di situ. Emak memberiku beberapa serpihan kayu bakar, aku susun di dekat nyala api kecil itu. Perlahan kulihat lidah api menjilati dan membakar serpihan kayu itu. Lalu aku tambahkan kayu-kayu yang lebih besar, tersusun rapi, memberi ruang pada api tungku untuk tumbuh. Kulihat asap kecil mengepul dari tumpukan kayu yang mulai terbakar itu.

“Ingat, jangan tumpukkan kayu lalu kau tumpahkan minyak banyak-banyak. Berbahaya. Rumah kita bisa terbakar nanti. Lagipula dengan cara begitu belum tentu api bisa menyala dengan baik. Bagus dengan cara begini, dari kecil api menyala jadi besar.” nasihat Emak. Aku mengangguk.

“Sambil menunggu api menyala, kau siapkan periuk dan basuh beras.” perintah Emak lagi.

Periuk kami terbuat dari besi, lingkaran mulutnya hampir sebesar dua jengkal tanganku. Seluruh permukaannya baik di dalam maupun di luarnya berwarna hitam. Aku membayangkan periuk ini dulu tak begini warnanya. Ia menjadi hitam setelah terbakar di atas tungku kami selama bertahun-tahun. Tak tahu aku kapan periuk ini mulai menghuni dapur kami. Sejak aku mulai bisa mengingat, kulihat Emak sudah memakai periuk ini. Kuisi periuk dengan beras, lalu aku basuh berasnya. Kutambahkan air, lalu kubawa periuk ke tungku, di mana api sudah menyala besar. Semua kulakukan di bawah bimbingan Emak.

Begitulah, hari itu aku diajari Emak memasak nasi. Sejak beberapa hari sebelumnya Emak memintaku untuk mulai belajar memasak.

“Kau harus pandai masak. Sekarang tak ada lagi kakak-kakak kau. Kalau kau tak masak nanti kau kelaparan.” Begitu kata Emak.

Di rumah kami sekarang memang tinggal kami bertiga. Aku, Ayah, dan Emak. Perubahan ini terasa agak mendadak. Tak pernah kubayangkan akan begini jadinya. Sejak lebih dari setahun yang lalu Emak membangun rumah di kota. De yang dulu numpang di rumah orang selama sekolahnya sekarang jadi penghuni utama rumah itu. Dia sudah tamat SPG, bekerja sebagai guru sambil kuliah. Emak mengumpulkan uang hasil berjualan kain, juga tabungan dari hasil kebun kelapa dan kopi kami. Punya rumah di kota memang mimpi Emak sejak lama. Ia ingin anak-anaknya bisa sekolah ke kota tanpa harus menumpang di rumah orang. Emak yang cukup sering ke kota untuk membeli barang dagangan juga memerlukan tempat singgah.

Sejak sebelum rumah di kota jadi Neng yang tamat SD pindah ke kota untuk melanjutkan sekolah. Beberapa bulan setelah rumah itu jadi Teh, kakak perempuanku menikah lalu pindah ke kampong suaminya. Kemudian Is, abangku tamat dan melanjutkan juga. Ada tiga anak laki-laki di rumah, kata Emak tak patut bila tak ada perempuan yang mengurus. Khususnya, De amatlah sibuk. Pagi-pagi dia pergi mengajar, sore dia kuliah sampai malam. Tak ada waktu dia untuk mencuci pakaian. Bagi Emak sudah waktunya De diurusi. Jadi diputuskanlah Cik, kakakku satu-satunya yang belum menikah untuk pindah ke kota mengurus rumah.

Ditinggal pergi oleh empat orang sekaligus dalam rentang waktu yang tak terlalu lama membuat rumah kami tiba-tiba terasa sepi. Bukan cuma itu, aku sekarang harus bisa masak. Biasanya tugasku hanya membantu menimba air, mengepel lantai, atau pergi memetik daun paku dan pucuk ubi untuk sayur. Kini aku harus bisa masak. Benar kata Emak, kalau aku tak pandai masak, nanti aku kelaparan. Ayah bekerja di kebun sejak pagi. Emak, kalau tak sedang membantu Ayah bekerja di kebun, pastilah sedang pergi menjajakan dagangannya. Saat aku pulang ke rumah, memang tak ada orang. Jadi aku harus masak sendiri kalau tak ingin kelaparan. Aku kelas lima waktu itu.

Mula-mula Emak mengajari aku masakan sederhana, goreng telur. Di belakang rumah kami ada beberapa petarangan ayam, tempat ayam-ayam kami meletakkan telur-telurnya. Kalau perlu telur kami tinggal mengambil di belakang rumah. Emak mengajari aku mengupas dan mengiris bawang merah, Kemudian kami menggoreng telur. Senang rasanya melihat telur yang tadinya cair mulai membeku dalam kuali panas. Emak juga mengajari aku membuat sambal belacan. Kemudian Emak mengajariku banyak jenis masakan. Daun paku yang kami petik dari semak-semak, kami tumis dengan belacan dan bawang merah. Kadang Emak memasukkan irisan cabe rawit.

Aku sungguh menikmati ketika aku masak masakanku sendiri untuk pertama kali tanpa bimbingan Emak. Aku membuat telur goreng, dan sambal. Telur yang kucampur dengan irisan bawang putih dan garam, sungguh lezat ketika sudah matang. Sambal kubuat hanya dengan gilingan cabe rawit dan garam, ditambah bawang merah sebutir. Berpeluh-peluh aku makan nasi panas dengan lauk itu.

Dari yang mudah, aku mulai belajar masakan sulit. Kalau Ayah membeli ikan laut, atau kalau aku dapat ikan gabus atau ikan puyu, Emak mengajari aku menyianginya. Kemudian ikan itu dibumbui dengan garam dan kunyit yang digiling halus. Ikan itu kami masak asam pedas atau digoreng. Masakan paling sulit adalah sayur lemak. Masakan ini memerlukan santan. Jadi aku harus ke kebun, mencari kelapa kering, mengupas kulitnya, mencungkil isinya. Itu belum seberapa. Aku harus memarut isi kelapa itu. Ini pekerjaan paling menjengkelkan. Sering tanganku sampai berdarah tersenggol mata parut. Setelah itu memeras santan, barulah aku bisa mulai memasak.

Masakan paling lezat di rumah kami adalah gulai. Seringnya kami masak gulai ayam. Kalau kepingin makan daging ayam, kami tinggal menangkap ayam di halaman. Emak tak pernah menjual ayam maupun telur. Semua untuk dimakan. Gulai ayam buatan Emak sedap benar. Sesekali Ayah membeli daging rusa, kalau kebetulan ada pemburu yang dapat rusa. Ada Pak Cik Wahid orang kampung kami yang suka berburu. Kalau dia dapat rusa, dia pasti mengirimkannya ke Ayah. Ada juga pemburu yang pergi keluar masuk hutan untuk berburu. Kalau dapat rusa, dia akan mampir ke kampung terdekat untuk menjual hasil buruannya. Ayah juga selalu membelinya.

Gulai buatan Emak selalu menerbitkan air liur. Baunya sudah tercium sedap sejak Emak mulai masak. Aku selalu tak sabar menunggu Emak selesai masak. Santannya selalu kental, membuat rasa gurihnya terasa benar. Emak sengaja tak membuat gulai itu pedas-pedas, agar aku bisa menikmatinya.

Selain daging ayam dan rusa, kami juga suka masak gulai burung punai. Ada orang kampung yang rumahnya tak jauh dari rumah kami, yang kerjanya menangkap punai. Biasanya kami membeli empat lima ekor untuk dimakan. Rasanya mirip dengan daging ayam, tapi entahlah, mungkin karena ini burung liar, aku lebih suka sama punai.

Membuat gulai tentu susah. Tak semudah menggoreng telur. Karenanya, kalau masak gulai biasanya Emaklah yang memasak. Aku hanya membantu saja. Tapi berkali-kali membantu Emak masak gulai membuat aku yakin bahwa sebenarnya aku bisa masak sendiri gulai itu.

Ketrampilan memasak yang diajarkan Emak benar-benar terasa saat aku benar-benar sendiri di rumah. Hampir setiap bulan Emak pergi ke kota untuk membeli barang dagangan. Tak jarang Ayah pun ikut pegi. Jadi aku tinggal sendiri. Tentu akupun harus masak sendiri pula. Yang paling terasa adalah ketika Emak sakit. Dia harus dirawat di rumah sakit kota. Tak kusangka sakit Emak sungguh lama. Ada dua bulan lebih aku tinggal sendiri di rumah, menjaga rumah, bekerja kebun sepulang dari sekolah, dan masak serta makan sendiri. Itu terjadi waktu aku kelas enam, menjelang ujian akhir. Emak pulang dari kota, sembuh, hanya beberapa hari sebelum aku mengikuti ujian.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *