Emak dan Batik

image

Setiap kali aku membayangkan kembali sosok Emak, aku tak bisa melepaskannya dari kenangan tentang batik. Sosok Emak yang selalu terbayang olehku adalah sosok perempuan menjelang usia lima puluh. Rambut di kepalanya tak begitu lebat, sudah putih sebagian. Tak pernah aku lihat Emak memotong rambutnya. Apalagi mengritingnya. Dia selalu membiarkan rambutnya apa adanya. Emak hanya menyanggul rambulnya, membuat tumpukan berbentuk siput di bagian belakang kepalanya. Dan kami menyebutnya siput, bukan sanggul.

Siput sanggul, pasangannya tentulah kebaya. Ya, Emak memang selalu memakai kebaya. Dan pasangan untuk kebaya itu adalah sarung batik, atau kain batik panjang. Saat dia pergi undangan perkawinan tentu dia pakai kebaya dan batik. Tapi saat dia pergi bedagang kain keliling kampung dia juga memakai kebaya. Di rumah Emak juga pakai kebaya sederhana, yang sengaja dibuat untuk dipakai di rumah. Atau kebaya yang sudah tua dan tak layak lagi untuk dipakai pergi. Sesekali Emak memakai baju kaos selama di rumah. Tapi dia selalu memakai kain batik. Bahkan saat bekerja di ladang atau kebun, Emak selalu berpakaian seperti itu.

Tak pernah aku lihat Emak memakai rok, apalagi celana panjang. Di kampung kami memang begitu, perempuan memakai kain batik. Tapi perempuan yang lebih muda dari Emak banyak juga yang pakai rok. Kakak perempuanku yang paling tua selalu memakai rok. “Mengapa Emak tak pernah pakai rok?” tanyaku sesekali.

“Emak dah tua, tak pantas pakai rok.” jawab Emak selalu.

“Tapi itu Mak Nyah Cina semua pakai rok meski sudah tua.” bantahku. Mak Nyah adalah panggilan kami kepada ibu-ibu Cina yang tinggal di kampung kami.

“Nah, itulah.” jawab Emak. “Emak orang melayu, bukan Mak Nyah Cina.”

Saat Emak “tak berpakaian”, kain batik adalah satu-satunya yang melekat di tubuhnya. Emak biasanya mandi di perigi belakang rumah kami. Di kampung kami orang tak mandi telanjang. Emak selalu berkemban kain batik tua saat mandi. Usai mandi dia akan bersalin kain batik, bukan handuk. Di kampung kami tak memakai handuk. Nanti saat tidur malam hari Emak juga tetap memakai sarung batik.

Tapi soal batik bukan hanya sekedar soal selembar kain yang selalu melekat di tubuh Emak. Tapi juga soal hidup kami. Emak adalah seorang pedagang gendong. Ia berdagang kain, baju, bedak-gincu, dan obat-obatan berkeliling kampung. Sebuah buntalan kain batik berisi setumpuk pakaian dan kain-kain terpanggul di punggung Emak. Selembar lagi kain batik panjang membalut buntalan tadi dari luar, kedua ujungnya tersimpul di dada Emak, memastikan buntalan tadi menempel ketat di punggung Emak. Satu tangan Emak menjinjing keranjang berisi bedak-gincu dan obat-obatan. Satu tangan yang lain memegang payung pelindung dari terik sinar matahari. Dengan beban itu Emak berjalan keliling kampung, ke kampung tetangga. Lebih sering Emak berjalan tanpa alas kaki.

Aku sering menemani Emak berdagang. Kalau sedang tak sekolah hari minggu, atau kalau sedang libur. Kadang Emak sengaja menungguku pulang sekolah jam 10, baru pergi berdagang. Kalau aku ikut, aku yang menjinging keranjang Emak. Emak memerlukan aku sebagai tukang catat. Emak tak pernah sekolah, jadi dia tak bisa baca tulis. Tapi Emak pandai berhitung. Dan ingatannya sungguh tajam.

Emak hafal semua jenis barang dagangannya. Dia hafal berapa modal membeli barang itu, dan hafal pula berapa harga jualnya. Kalau aku sedang tak ikut pergi berdagang, Emak hafal siapa saja yang berbelanja hari ini. Orang tak belanja tunai, tapi berhutang. Malam hari setelah pulang ke rumah, nama-nama pengutang itu aku catat di sebuah buku. Demikian pula, siapa saja yang membayar cicilan hutang atau melunasi hutang hari itu. Emak sebetulnya ingat semua. Tapi dia memintaku mencatat. “Kalau Emak sakit atau tiba-tiba mati, nanti keluarga tak tahu siapa yang berhutang.” begitu alasan Emak.

Emak membeli barang dagangannya dari kota. Dari toko Cina atau Arab langganannya. Sesekali aku ikut ke kota menemani Emak belanja. Biasanya kami pergi 3-4 hari. Sehari untuk perjalanan pergi dengan kapal dari kampung ke kota. Sehari lagi untuk perjalanan pulang. Di kota kami hanya tinggal 1-2 hari. Toko-toko itu lebih cocok disebut gudang kain. Segala jenis kain ada di situ. Batik, pelikat, dan kain potongan. Ada juga toko-toko tempat Emak membeli baju-baju rok, atau kemeja untuk laki-laki, serta toko bedak-gincu dan obat-obatan.

Kalau Emak baru pulang dari kota, ruang tengah rumah kami dipenuhi tumpukan pakaian. Orang kampung yang berduit biasanya segera datang membeli tak lama setelah Emak pulang. Bau tumpukan kain itu sungguh khas. Bau itulah yang selalu tercium di toko-toko tempat Emak belanja.

Hampir separuh dagangan Emak adalah kain batik. Emak tak membeli selembar dua, tapi berkodi-kodi. Ada yang murah tapi cepat luntur. Ada yang halus dan mahal. Melipat dan menyusun kembali kain-kain itu setelah tamu-tamu pulang adalah pekerjaanku. Aku suka memperhatikan label tempelan di kain-kain batik itu. Yang paling banyak dibeli emak adalah batik Tjap Sen dan Danar Hadi.

Emak dan batik tak bisa dipisahkan. Dia selalu memakainya. Dan dia menghidupi kami dengannya. Dan Emak selalu menyimpan beberapa lembar kain batik panjang yang masih baru untuk persiapan menutup jenazah kalau ada orang meninggal. “Simpanlah 3-4 lembar batik panjang yang masih baru, jangan dipakai untuk keperluan lain di setiap rumah. Untuk menutup jenazah kita kalau kita mati.” begitu saran Emak.

One thought on “Emak dan Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *