Emak, Cina, dan Arab

Salah satu bagian dari buku baru saya “Emakku bukan Kartini” yang sebentar lagi terbit adalah verità tentang Emak bedagang. Ia membeli pakaian, obat, dan kosmetik, di kota, lalu menjualnya ke kampung, dengan menjajakannya keliling kampung. Waktu kecil saya sering ikut membantu Emak pergi berdagang. Hasil dari berdagang ini jauh lebih besar dari hasil kebun kelapa kami. Dari sinilah uang untuk biaya sekolah kami dihasilkan.

Mulanya ada orang berdagang, sesekali datang ke kampung kami. Ia menginap di rumah kami. Setelah berkali-kali orang itu datang, Emak memberanikan diri mengambil barang dagangannya, lalu menjajakannya. Waktu itu Emak masih mengasuh saya, sehingga tak terlalu serius dengan urusan dagang itu.

Ketika saya sudah agak besar, Emak memberanikan diri. Ia pergi ke kota, minta diperkenalkan kepada pedagang grosir di pasar. Emak membeli barang dagangan, tapi tidak kontan. Ia menitipkan gelang emas sebagai jaminan. Ia mendapat sejumlah barang, kemudian menjualnya ke kampung kami. Hasil penjualan itu disetorkan, lalu ia mendapat barang lagi. Begitu seterusnya.

Setelah berkali-kali, akhirnya jaminan tadi tak lagi diperlukan. Emak boleh mengambil barang dagangan, menjualnya, kemudian menyetor hasil penjualan, setela dipotong keuntungannya sendiri.

Salah satu toko tempat Emak belanja dulu pemiliknya orang Cina, namanya A Song. Saya sering ikut Emak belanja, dan mengenal A Song dengan cukup baik. Tokonya selalu ramai dikunjungi oleh ibu-ibu seperti Emak. Mereka juga berdagang, membeli barang dari A Song, tanpa pembayaran di muka.

A Song dan karyawannya selalu melayani dengan ramah. Setiap tamu yang datang ia sapa dan salami, dan disuguhi minuman. Kalau tiba waktu makan siang, A Song membelikan makanan. Emak biasanya belanja sangat lama, kadang sampai setengah hari.

Toko lain yang juga sering dikunjungi Emak milik orang Arab, namanya Husin. Sama seperti A Song, Ami Husin ini ramah. Ia selalu melayani Emak dengan senyum.

Ada lagi beberapa toko Cina yang dikunjungi Emak untuk membeli beberapa jenis barang lain. Semua sama, ramah, dan Emak tak perlu membeli kontan.

Apa yang mengikat orang-orang itu? Kepentingan dan keuntungan. Suku, agama, tak penting. Yang penting, sama-sama untung. Fondasinya adalah kepercayaan. Saling percaya dan menjaga kepercayaan itu, dan kita sama-sama untung.

Banyak orang membenci Cina. Ada juga yang benci Arab. Mereka memasang stigma bahwa Cina itu licik dan penipu. Tamak dan rakus, hanya mau untung sendiri. Pengalaman saya, tidak demikian. Ipar saya juga berdagang, punya toko. Ia punya begitu banyak kawan Cina, sampai dia fasih bahasa Teu Cew.

Bisnis itu soal uang. Kalau sama-sama menguntungkan, orang tak akan lihat dengan siapa dia berniaga. Tapi di atas soal itu, bisnis itu soal kepercayaan. Kalau orang sudah bisa dipercaya, apapun suku atau agamanya, tak penting lagi. Sebaliknya, kalau sudah culas dan menipu, jangankan saudara sesuku dan seagama, saudara kandung pun tak patut dijadikan mitra.

Saya menikmati keindahan hubungan yang dibangun atas dasar saling pecaya, saling menghormati, dan saling menguntungkan itu. Berkat itulah, kami bersaudara bisa sekolah, dan kemudian bekerja dengan layak. Hubungan itu membantu kami keluar dari kemiskinan.

Saya percaya hubungan seperti itu dapat dibangun di manapun, oleh siapapun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *