Dunia Islam Memerlukan Paradigma Baru

Pada masa awal sejarahnya Islam ditekan. Di Mekah ditolak, sampai harus pindah ke Madinah. Di Madinah, kekuatan baru disusun. Perlahan membesar, sampai mampu melawan balik. Perlahan kekuatan ini membesar, sehingga mampu melumpuhkan kekuatan-kekuatan di sekitar Madinah, yang tadinya melawan, baik dalam koalisi dengan Mekah, mapun yang melawan secara mandiri. Pada akhirnya Mekah pun bisa ditaklukkan.
 
Pada masa berikutnya perang masih berlanjut. Kini perang sifatnya ofensif, untuk menaklukkan wilayah lain, atau pre-emptive, mengantisipasi kekuatan musuh sebelum mereka menyerang. Situasi ini berlanjut hingga Nabi Muhammad wafat. Wilayah kekuasaan Islam meluas hingga ke Syam, Palestina, Persia, dan Mesir.
 
Usai masa kekuasaan khulafaur rasyidin, dunia Islam memasuki fase kerajaan/imperium. Kekuasan semakin meluas, yang diraih dengan berbagai ekspedisi bersenjata, menaklukkan wilayah-wilayah, hingga ke Eropa. Kemudian penguasa imperium silih berganti, demikian pula pusat kekuasaannya. Ada beberapa periode di mana imperium Islam hadir dalam wujud kembar. Imperium terakhir yang wujud adalah kekhalifahan Turki Usmani. Di luar imperium itu tumbuh kerajaan-kerajaan kecil yang relatif independen, seperti kerajaan-kerajaan Islam Nusantara.
 
Pada masa berikutnya, dunia Islam memasuki fase penjajahan kolonial. Hampir semua wilayah di dunia Islam dikuasai oleh kolonial Eropa. Tadinya Turki menjadi bagian dari kolonial itu. Tapi pasca Perang Dunia I Turki melemah hingga praktis seluruh wilayah dunia Islam di bawah kekuasaan kolonial, yang nota bene bukan Islam.
 
Pasca Perang Dunia II, perjuangan kemerdekaan menguat. Muncullah negara-negara baru dalam format negara bangsa. Sebagian masih menjadikan Islam sebagai dasar negara, sebagian lagi merupakan negara sekuler. Ini berlangsung hingga sekarang.
 
Separo dari sejarah Islam di masa kenabian adalah masa di mana umat Islam berada di bawah tekanan, tanpa kemampuan untuk melawan. Ajaran dalam periode ini (makiyah) fokus pada pembangunan fondasi iman (akidah). Pada periode berikutnya (madaniyah), mulai dibangun fondasi syariat (hukum), menopang suatu sistem komunitas yang sudah mengarah pada bentuk negara.
 
Ada satu aspek penting dalam ajaran pada periode madaniyah ini yang hingga saat ini memberi warna pada sejarah Islam, yaitu ajaran untuk melawan, dan berjuang secara fisik. Ajaran ini disebut jihad.
 
Usai kepemimpinan Nabi Muhammad, ajaran ini terus bersifat implementatif. Inilah yang menjadi sumber energi yang menggerakkan berbagai penaklukan. Ada kalanya juga ajaran ini dipakai dalam berperang dengan sesama Islam sendiri. Pada kasus itu, pihak lawan dianggap sebagai kafir yang layak diperangi.
 
Hingga ke masa perjuangan kemerdekaan, ajaran ini masih terus relevan. Semangat jihad dipakai dalam memperjuangkan kemerdekaan.
 
Bagaimana dengan masa setelah itu? Kini kekuasaan negara tidak lagi berdasarkan agama. Dua negara bisa berdiri, keduanya negara Islam. Keduanya bisa beradu dalam konflik kepentingan. Atau, negara tak lagi homogen berupa negara Islam. Saat ada konflik kepentingan, yang beradu bukan lagi Islam lawan non-Islam, melainkan bangsa lawan bangsa.
 
Bagaimana posisi ajaran jihad dalam dunia baru ini? Jihad fondasinya adalah Islam vs non Islam. Mukmin vs kafir. Tapi kini, siapa kafir itu? Indonesia, misalnya, bukan lagi negara Islam. Ini negara di mana Islam dan non-Islam berbaur di bawah satu payung negara. Masih relevankah jihad?
 
Secara faktual kita tidak lagi berada dalam ruang yang sama seperti di masa abad ke VII. Tidak ada lagi garis batas antara Islam dan non-Islam. Akibatnya, batas itu kita buat sendiri. Misalnya, Islam vs non-Islam dalam internal negara Indonesia. Itu garis batas yang dipaksakan ada, karena seharusnya kita tidak berkonflik dalam ruang ini. Atau, kita memberi label pada kekuatan lain, seperti Barat, sebagai kekuatan non Islam. Label ini rancu, karena Barat sendiri tidak melabeli diri mereka dengan label agama. Terlebih, di setiap negara yang dilabeli non muslim itu juga terdapat komponen muslim, meski porsinya masih minoritas.
 
Menurut saya dunia Islam perlu membangun sebuah paradigma berpikir baru. Kita tidak lagi dalam suasana penaklukan bersenjata atau kolonial. Kita juga diharapkan untuk membangun, ketimbang menaklukkan. Bagi saya fokus jihad kita tidak lagi mengarah pada kafir, tapi pada ketertinggalan dalam berbagai bidang: pendidikan, ekonomi, dan teknologi.
 
Energi kita tak perlu lagi kita arahkan untuk melawan pihak luar, tapi untuk melawan diri kita sendiri. Jihad melawan diri sendiri. Dalam hal ini non muslim bukan lagi musuh, tapi bisa kita gandeng sebagai mitra. Bahkan mereka bisa menjadi guru kita.
 
Untuk bisa melakukan itu, kita harus berhenti memandang mereka sebagai musuh. Ayat-ayat yang mengajarkan permusuhan kepada mereka harus kita lihat sebagai bagian dari sejarah masa lalu, bukan perintah untuk kita laksanakan sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *