Dota Kyanseru

dotanba
Kemarin saya diundang rapat oleh sebuah lembaga pemerintah, sebut saja A. Saya datang bersama 2 ekspat Jepang dan 2 staf nasional. Lembaga A tadi akan mempertemukan kami dengan lembaga B untuk membahas rencana pengembangan bisnis kami terkait dengan berbagai regulasi dan deregulasi yang dilakukan pemerintah.
 
Undangan rapat disampaikan cukup mendadak. Baru pagi kemarin diberitahukan. Ada beberapa agenda yang kami batalkan demi menghadiri rapat ini.
 
Rapat dijadwalkan jam 3 sore. Jam 2.45 kami sudah tiba. Seperti biasa kami disuruh menunggu. Tiba waktu jam 3 belum ada tanda-tanda akan dimulai. Jam 3.15 barulah tim dari lembaga A masuk. Mana tim B?
 
“Mohon maaf, tim dari lembaga B tidak bisa hadir. Mereka bla bla bla bla…”
 
Pembatalan mendadak seperti ini dalam bahasa Jepang disebut dota kyanseru. Kata ini berasal dari “dotanba kyanseru”. Dotanba adalah semacam altar rendah tempat membaringkan orang yang akan dihukum pancung. Kyanseru adalaj cancel, pembatalan.
 
Mengapa dipakai kata dotanba? Mungkin kata ini menggambarkan suasana ktitis dan tegang, saat ada keputusan atau tindakan yang harus diambil, seperti suasana saat akan menghukum mati orang.
 
Dotakyanseru adalah sesuati yang sangat dibenci dan memalukan dalam budaya Jepang. Ia menggambarkan betapa lemahnya manajemen atau kemampuan mengelola (kanri) pada seseorang atau organisasi. Ia juga mencerminkan kurangnya penghargaan kepada pihak lain. Bayangkan, kami yang sudah menyediakan waktu, membatalkan beberapa rencana internal karena memandang bahwa pertemuan ini penting, dihadapkan pada kenyataan bahwa semua itu sia-sia belaka. Emang lu pikir gue nganggur?
 
Yang membuat saya sedih adalah, budaya tinggi seperti tepat waktu, menepati janji, dan menghargai orang lain, sering kali kita pandang sebagai hanya budaya milik orang Jepang. Bukan milik kita. Kita tidak memiliki budaya itu, kita tidak perlu membangunnya.
 
Bukankah Islam mengajarkan untuk tepat waktu? Bukankah salat itu harus tepat waktu? Bukankah ketika berpuasa kita sahur dan berbuka tepat waktu? Bolehkah kita terlambat 1 menit saat sahur?
 
Bukankah Quran mengajarkan kita untuk menepati janji? Bukankah janji itu adalah hutang? Bukankah hormat pada orang lain juga ajaran utama dalam Islam?
 
Semua itu terasa begitu asing dalam praktek. Laku hidup kita begitu jauh dari nilai-nilai yang diajarkan pada kita. Islam kita hanya hadir di praktek-praktek ritual, tidak di perilaku sosial. Lebih parah lagi, Islam hanya hadir dalam jargon-jargon politik untuk berebut kekuasaan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *