Doa

Suatu siangi, setelah hampir 2 jam bicara di training dengan tema bagaimana mengubah hidup, saat sesi tanya jawab salah seorang peserta bertanya,”Kok Bapak tidak menyebutkan faktor doa sama sekali?”
 
Di sebuah training manajemen ini bisa dianggap sebuah pertanyaan gubrak. Tapi saya harus jawab dengan tepat. Kalau saya salah jawab, bisa-bisa materi training 2 jam tadi runtuh oleh 1 hal, iman kepada takdir. Bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Tuhan. Selesai.
 
Maka saya jawab.
 
“Coba sebutkan satu keinginan Anda. Sederhana saja, jangan yang rumit-rumit.”
 
“Saya ingin secangkir kopi.”
 
“Bagus. Sekarang berdoalah. Minta secangkir kopi sama Tuhan.”
 
Dia hendak membantah saya. Tapi saya teruskan. “Mau jawaban nggak atas pertanyaan tadi?”
 
“Mau.”
 
“Kalau gitu, lakukan apa yang saya minta.”
 
Dia berdoa. “Ya Tuhan, berilah aku secangkir kopi.”
 
“Dapat nggak kopinya?”
 
“Nggak dong.”
 
“Bagus. Bagaimana caranya agar dapat secangkir kopi? Anda ke belakang situ, di situ ada dispenser air panas, ada kopi sachet, ada cangkir. Anda ke sana, pergi buat kopi. Anda dapat secangkir kopi, bukan?”
 
“Iya.”
 
“Nah, kalau Anda ke belakang situ untuk buat kopi, perlukah Anda berdoa dulu untuk mendapat kopi?”
 
“Tidak.”
 
“OK, kita lanjutkan. Anda berdoa, minta naik gaji. Di awal tahun, ternyata gaji Anda naik. Apakah itu berarti doa Anda terkabul?”
 
“Iya.”
 
“Yakin, pasti Anda naik gaji karena Tuhan mengabulkan doa Anda?”
 
“Nggak juga.”
 
“Tepat sekali. Kita tidak pernah tahu doa kita terkabul atau tidak. Kita hanya membuat kesimpulan sepihak, bahwa Tuhan mengabulkan doa kita. Bagaimana sebenarnya? Bisa saja Tuhan punya maksud lain dengan menaikkan gajimu. Bisa saja Dia naikkan oleh sebab yang lain, bukan karena doamu. Iya kan?”
 
“Iya.”
 
“Artinya apa? Artinya, doa kita tidak mengubah apa-apa. Kalau pun ada sesuatu berubah sesuai harapan kita, kita tidak bisa memastikan bahwa itu terjadi karena doa kita.”
 
“Jadi, untuk apa berdoa?”
 
“Doa itu bukan remote control untuk menggerakkan Tuhan. Doa itu bukan untuk mengubah kehendak Tuhan. Doa itu adalah pernyataan bahwa diri kita ini lemah, dan karenanya sering salah. Doa itu pernyataan bahwa kita ini terbatas. Karena itu kita tidak bisa memastikan satu usaha kita akan membuat kita mencapai tujuan. Karena itu bila kita gagal, itu artinya kita perlu mencoba lagi. Gagal itu biasa, karena kita memang terbatas dan lemah. Tapi cara atau jalan yang bisa kita ambil untuk mencapai tujuan tidak terbatas. Kita hanya perlu mencobanya lagi dan lagi dan lagi. Sampai kita menemukan jalan yang tepat. Jadi doa itu untuk diri kita sendiri, untuk menguatkan kita. Untuk meyakinkan kita bahwa kita bisa. Kita hanya perlu melakukan saja. Kalau gagal, cari jalan yang lain.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *