Doa Politikus, Doa yang Menyesatkan

Pada suatu acara halal bi halal di rumahnya, Adhyaksa Dault bercerita. “Selama bulan Ramadan ini saya bertafakkur dan bermunajat kepada Allah. Ya Allah, saya ini sudah berbuat banyak untuk bangsa dan negara. Tapi rasanya tidak ada yang peduli pada saya. Alhamdulillah, tak lama kemudian Allah menjawab doa saya. Presiden menganugerahkan Bintang Mahaputra,” katanya.

Banyak orang berdoa agar hasratnya terkabul. Peliknya, hasrat manusia itu tak selalu baik. Ketika kemudian yang terjadi adalah hal yang sesuai atau dekat dengan hasrat tadi, orang akan merasa bahwa doanya dikabulkan Tuhan. Tak hanya bahagia, ia akan mengira bahwa hasratnya telah direstui Tuhan.

Dalam konteks ini doa telah menyesatkan manusia. Tadinya mungkin masih bimbang, apakah permohonan yang ia buat itu baik atau buruk. Tapi ketika doanya “dikabulkan”, maka ia menjadi yakin bahwa hasratnya sudah sesuai dengan kehendak Tuhan.

Cerita Adhyaksa di atas menjelaskan secara telanjang soal hasratnya untum selalu mendapat perhatian dan sorotan. Bukan kebetulan sebenarnya ketika ia mendapat Bintang Mahaputra, karena penghargaan ini memang biasa diumbar oleh presiden kepada para bekas menteri. Tapi Adhyaksa menerjemahkanny sebagai restu Tuhan atas hasratnya.

Bayangkan, seorang politikus berdoa agar ia menang dalam pilkada. Dengan sejumlah uang yang ia dapat dari berbagai cara korup, dan ia mainkan dengan cara kotor, ia akhirnya memenangkan pilkada. Ia menjadi semakin yakin bahwa hasratnya direstui Tuhan, dan cara-cara kotornya mendapat pembenaran.

Itulah sebabnya kenapa kita menemukan begitu banyak koruptor yang sangat rajin beribadah. Menurut saya mereka tidak berpura-pura taat beribadah. Mereka memang taat, dalam ibadah ritual. Mereka hanya mengalami diskoneksi antara zikir dan pikir.

Baik dan buruk dalam politik adalah wilayah pikir. Banyak praktek politik modern yang tidak pernah ada presedennya dalam sejarah nabi dan para sahabat. Dalam bahasa yang sering dipakai kaum agama, tidak ada dalilnya. Bagi mereka ini wilayah abu-abu. Dengan doa mereka bisa menarik sesuatu yang berada di wilayah hitam ke wilayah abu-abu, kemudian memutihkannya.

Seorang politikus tingkat kabupaten mati-matian berargumen kepada saya untuk membenarkan “gratifikasi” yang ia terima. “Ini adalah pemberian, bagi saya ini rezeki dari Allah,” katanya. Ia ingat Allah (zikir) saat menerima sesuatu, tapi pikirannya lalai dalam menjelaskan hubungan antara pemberian itu dengan posisi politik yang sedang ia duduki. Itukah yang saya sebut diskoneksi zikir-pikir tadi.

Alih-alih meluruskan, doa para politikus banyak menyesatkan diri mereka sendiri. Ingat, kita yang bukan politikus pun bisa seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *