Dikotomi Teknologi Kampung dan Kampus

Rhenald Kasali mengunjungi montir hebat, yang membuat alat hebat. Karena ia tak paham teknologi, ia minta nasihat pada yang paham, ahli fisika dan ahli kimia. Sayangnya para ahli itu memberi penilaian yang tak sesuai harapan Rhenald. Mereka menyangsikan produk teknologi. Padahal menurut Rhenald produk teknologi ini unik, dan bisa mengubah dunia. Ia kemudian mendatangi pengusaha serta Menteri BUMN Dahlan Iskan, yang untungnya mau membantu pengembangan teknologi tadi. Rhenald kemudian memaparkan kekecewaannya terhadap pihak kampus.
 
Menurut pengalamannya, orang-orang kampus cenderung arogan. Mereka skeptis terhadap berbagai jenis teknologi kampung. Mereka hanya mau peduli pada teknologi keren, hasil kerja mereka sendiri. Mereka hanya peduli pada kerja-kerja untuk menghasilkan publikasi di jurnal ilmiah, bukan membangun teknologi. Sebagian dari mereka bahkan hanya mengerjakan penelitian untuk menambah penghasilan belaka. Itulah sebabnya, meski sadar diri tidak paham teknologi, Rhenald tidak mendengar nasihat para ahli yang ia mintai pendapat soal teknologi yang dihasilkan montir tadi. Ia lebih percaya pada pandangannya sendiri, yang nota bene bukan ahli dalam teknologi, bahwa produk yang ia lihat akan mengubah dunia.
 
Kenyataan di Kampus
 
Kenyataan di kampus sebenarnya tidak seragam. Penggambaran yang dilakukan oleh Rhenald menurut saya agak serampangan, sehingga hasilnya adalah dikotomi antara kampus dan kampung yang dilakukan secara provokatif, sehingga membuat pembaca memandang sinis pada dunia kampus. Agar lebih jelas, akan saya paparkan secara ringkas sudut pandang saya tentang kenyataan di kampus. Para peneliti di kampus kita, termasuk juga para peneliti di lembaga non-kampus seperti LIPI, BPPT dan lain-lain, umumnya adalah (maaf) peneliti abal-abal. Seperti yang digambarkan Rhenald, mereka hanya meneliti untuk keperluan menambah penghasilan dan nilai kum untuk kenaikan pangkat. Tema dan metode penelitiannya sering kali membuat yang paham soal riset akan mengerutkan kening. Tak jarang penelitian mereka adalah plagiat, atau reproduksi penelitian orang lain yang dilakukan secara serampangan. Publikasi mereka juga di jurnal abal-abal.
 
Sebenarnya di luar golongan itu ada sejumlah peneliti kita yang melakukan riset serius. Kalau kita mau menelusuri database publikasi ilmiah seperti SCORPUS atau Google Scholar, kita akan dengan mudah menemukan riset-riset mereka yang menjadi acuan peneliti lain secara internasional. Kok publikasi ilmiah lagi? Mana produk teknologinya? Bukankah yang diinginkan Rhenald adalah produk teknologi? Orang-orang yang mengharap teknologi dalam bentuk nyata memang akan mencibir pada publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah bukan teknologi, kata mereka. Banyak yang menganggapnya hanya tumpukan kertas sia-sia.
 
Tapi cobalah sebut satu produk teknologi yang dibangun tanpa publikasi ilmiah. Adakah? Tidak. Produk-produk teknologi yang menghidupi kita sekarang dibangun dengan ribuan tumpuk jurnal ilmiah! Tapi kenapa kita tak merasakan hadirnya teknologi dari kampus kita? Ada beberapa sebab. Pertama, sebagian besar hasil riset kita memang belum sampai pada taraf menghasilkan teknologi. Ibarat lukisan dinding dari ratusan potong puzzle, hasil riset kita baru mampu menghasilkan beberapa keeping bagian puzzle, belum mampu membentuk suatu wujud yang terlihat. Kalau ditanyakan lagi kenapa cuma bisa begitu, jawabannya akan panjang. Salah satu sebabnya adalah anggaran riset kita yang sangat kecil, hanya 0.08% dari GDP. Berharap ada teknologi yang dihasilkan dari dana riset cekak sama dengan berharap hasil panen mewah dari petani yang hanya bermodal sebuah cangkul.
 
Kedua, sebenarnya kalau dibilang tidak menghasilkan teknologi, tidak tepat juga. Seperti yang juga sedikit disinggung oleh Rhenald, kampus-kampus seperti ITB, UGM, UI, dan IPB, sekarang aktif memasarkan produk-produk riset mereka. Sebagian sudah jadi produk komersil. Kenapa kita tidak tahu? Dalam banyak hal kita memang tidak sadar akan hadirnya produk teknologi.
 
Perusahaan tempat saya bekerja, Toray, punya banyak teknologi yang hadir dalam kehidupan sehari-hari kita tanpa orang pernah tahu soal eksistensi perusahaan kami ini. Mengapa? Karena sebagian besar produk kami bukan berbentuk barang jadi (finished good), hanya merupakan bagian dari sebuah produk jadi. Demikian pula halnya dengan produk-produk riset kita.
 
Kalau produk riset kita hanya menghasilkan paper di jurnal, masih pentingkah? Tidakkah sebaiknya kita percaya saja pada teknologi kampung yang bisa dihasilkan tanpa tetek bengek metode ilmiah? Tidak demikian. Publikasi ilmiah adalah pergaulan, agar kita tidak kurang gaul. Kita merasa menemukan produk teknologi yang kita kira hebat. Namun ternyata produk itu sudah pernah ditemukan orang lain di belahan dunia lain, dan sudah diketahui pula kegagalannya. Atau, apa yang kita kira sesuatu yang hebat di balik temuan kita, ternyata hanyalah fatamorgana akibat kelalaian kita dalam melakukan observasi dan pengukuran. Mekanisme seleksi dan penilaian pada jurnal ilmiah secara sistematis akan mengurangi kesalahan-kesalahan itu secara maksimal.
 
Teknologi Kampung
 
Saya sudah banyak mendengar temuan-temuan hebat, yang oleh Rhenald disebut sebagai teknologi kampung. Bahkan sejak dulu, jauh sebelum saya berkecimpung dalam dunia riset. Ada bermacam jenisnya. Alat pemicu hujan, pasta penguat konduktor, pupuk hebat, serta blue energy yang pernah bikin heboh kantor kepresidenan tempo hari. Semua berawal dari cerita yang sama seperti yang disampaikan Rhenald. Ada karya hebat yang kurang perhatian. Kemudian ada yang mencoba membantu. Apakah produk teknologi kampung yang hadir di tengah kita saat ini? Maaf, mungkin saya lalai, tapi saya tidak menemukannya.
 
Teknologi kampung itu kebanyakan hanya berhenti pada cerita seperti yang dikisahkan Rhenald. Hampir tidak ada yang menjadi produk sahih. Mengapa bisa begitu? Sepanjang yang bisa saya amati, teknologi kampung itu kebanyakan adalah produk dari cara berfikir instan, yang mengira riset akan secara instan menghasilkan produk yang menyelesaikan masalah. Beberapa di antaranya memang punya manfaat yang bisa langsung dirasakan, seperti produk herbal yang diceritakan Rhenald. Tapi ingat, produk teknologi sebenarnya bukan sekedar produk yang bisa kita rasakan manfaatnya, tapi juga harus dipastikan tidak ada efek sampingan yang merugikan. Sebenarnya riset untuk memastikan tidak adanya efek sampingan ini dalam banyak kasus lebih panjang ketimbang riset untuk menghasilkan produk itu sendiri.
 
Saya memahami skeptisme para ahli yang dibawa Rhenald untuk memeriksa produk montir tadi dalam konteks ini. Mereka wajib skeptis dan berhati-hati. Karena mereka bukan orang awam teknologi, mereka tahu bahwa teknologi tidak instan sifatnya. Lalu apakah bengkel-bengkel kampung, inovator kampung mustahil menghasilkan teknologi? Tidak mustahil. Hanya saja kita perlu hati-hati dan arif dalam menilai dan mempromosikannya. Jangan sampai kita terlanjur mempromosikan sesuatu yang kelak akan merugikan masyarakat. Juga sebaiknya tidak memprovokasi masyakarat untuk melecehkan sesuatu (dalam hal ini kampus) karena kita ingin mempromosikan sesuatu yang lain.
 

One thought on “Dikotomi Teknologi Kampung dan Kampus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *