Defensif

Waktu lebaran saya post sebuah foto tentang suasana saat mudik. Di tempat-tempat di mana terjadi kemacetan parah di sekitar Brebes, terdapat tumpukan sampah. Luar biasa joroknya. Dari sudut pandang ajaran Islam yang saya pahami, perilaku jorok, membuang sampah sembarangan itu melanggar prinsip Islam. Para pemudik itu, yang telah berpuasa hampir sebulan, masih gagal mengendalikan hawa nafsunya. Mereka gagal mengendalikan tangan dan perilaku, sehingga masih secara otomatis membuang sampah sembarangan. Maka, bagi saya, mereka gagal dalam berpuasa.
 
Kok sejauh itu? Ya, memang sejauh itu. Puasa itu bukan sekedar menahan lapar dan minum. Hakikatnya adalah mengendalikan diri dan perilaku. Tidak cuma makan minum, perkataan dan perbuatan dijaga. Maka bagi saya, kalau setelah puasa orang masih tidak tertib, jorok, tidak jujur, dan korup, maka mereka adalah orang yang gagal berpuasa.
 
Bagaimana respon orang-orang? Ada banyak orang yang marah. Ada yang bilang, kenapa hanya umat Islam saja yang dituding. Umat lain juga masih jorok, sama perilakunya dengan umat Islam. Jadi kalau menuding perilaku jorok itu seolah mengabaikan perilaku jorok umat lain. Itu sama saja dengan memojokkan dan menghina Islam.
 
Tidak tanggung-tanggung. Ada yang sampai mengunggah foto suasana jorok di Italia, untuk menunjukkan bahwa bahkan di negara non muslim yang sudah maju pun perilaku jorok masih sulit ditinggalkan.
 
Apa yang dilakukan orang-orang ini? Defensif. Untuk apa? Mempertahankan diri. Dari apa? Dari perubahan. Sudah pernah saya tulis bahwa perubahan itu menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan kepanikan. Kebiasaan buang sampah sembarangan itu sudah tertanam demikian dalam, sulit untuk mengubahnya. Ia bahkan sudah membangun mekanisme pertahanan diri terhadap perubahan. Mekanisme inilah yang mengeluarkan sikap defensif tadi.
 
Coba kita pikir dengan nalar. Menjaga kebersihan itu adalah perilaku menjalankan ajaran Islam. Perlukah itu tergantung pada perilaku umat lain? Tidak! Apakah kewajiban menjaga kebersihan itu menjadi gugur karena umat lain masih jorok juga? Tidak. Sebaliknya, umat Islam seharusnya jadi contoh dan pioneer, bukan? Kok malah menunggu umat lain?
 
Kita tahu bahwa argumen soal umat lain itu tidak ada isinya. Itu cuma cara untuk defensif, mengelak dari perubahan. Mengelak dari kebaikan. Ketahuilah bahwa sikap-sikap defensif inilah yang membuat banyak orang gagal berubah menjadi insan yang lebih baik lagi. Sikap defensif itu ibarat selimut hangat yang membuat kita tetap bermalas-malasan, enggan bangkit melakukan sesuatu yang lebih baik. Karena itu, ayat yang turun pada masa-masa awal dakwah nabi dulu berbunyi,”Ya ayyuhal mudatsir, qum fa anzir….” Hai orang yang berselimut, bangkitlah, dan berilah peringatan.
 
Perintah Quran, berhentilah bersikap defensif!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *