Darmawisata

“Anak-anak, besok kita akan pergi berdarmawisata,” kata Pak Kateng, guruku. Aku sungguh senang mendengarnya. Kata-kata itu persis seperti yang biasa kubaca dalam buku bacaan pelajaran bahasa Indonesia yang kami pakai di kelas. Dalam buku-buku pelajaran kami cerita tentang darmawisata selalu dimulai dengan kalimat itu. Lalu ada cerita tentang perjalanan ke tempat yang indah, naik bis atau kereta api.

Aku langsung jatuh ke dalam khayalan itu. Kubayangkan diriku pergi beramai-ramai, bersama kawan-kawan dan guru, membawa berbagai bekal, baik bis, pergi darmawisata. Sungguh menggairahkan. Tapi, nanti dulu. Mana ada bis atau kereta api di kampung kami. Kampung kami ini di pulau. Tak ada jalan raya yang menghubungkan kampung kami dengat kota, tempat bis berada. Jalan kampung kami hanya jalan tanah, sejajar dengan parit yang membelah kampung kami. Itupun berujung di kuala, ujung parit tadi. Setelah itu laut, selat yang memisahkan pulau kampung kami dengan pulau-pulau sekitarnya.

“Besok kita akan pergi ke hutan bakau di dekat kuala, naik sampan,” kata Pak Kateng melanjutkan. Nah, ini membuat diriku kembali berpijak ke bumi. Jadi besok kami akan pergi ke hutan bakau.

“Kalian harus membawa bekal. Nasi dan lauk, dibungkus pakai daun pisang. Jangan bawa rantang, nanti hilang. Jangan lupa, bawa air minum yang sudah dimasak.”

Aku tersenyum mendengar perintah terakhir itu. Tak kan ada murid yang mematuhinya. Tak ada orang masak air di kampung ini, kecuali kalau mereka hendak membuat air kopi. Hanya ayahku saja yang tak mau minum air mentah dari tempayan. Ia selalu minum air yang sudah dimasak, dan seringnya ia minum dalam keadaan panas.

Aku sebenarnya merasa agak aneh dengan darmawisata ini. Terdengar macam lagak saja bunyinya, darmawisata. Padahal kami bukan pergi naik bis macam anak-anak sekolah di kota. Cuma pergi ke hutan bakau saja. Tak patutlah diberi nama darmawisata. Tapi tak usahlah kupikir lagi. Yang penting aku pergi dengan kawan-kawan, pastilah ada yang menyenangkan.

Begitulah. Besok paginya, lepas sembahyang subuh aku makan pagi. Emak menyiapkan nasi panas dengan sambal teri dan telur dadar. Petang kemarin kulihat Emak pergi mengambil telur di petarang tempat ayam bertelur di belakang rumah kami. Itulah kini yang jadi telur dadar di hadapanku. Aku makan dengan lahap. Di depanku sudah tersedia 2 bungkus nasi, aku yakin isinya sama dengan yang kumakan ini. Lalu ada satu botol beling berisi air minum.

“Kau jangan lupa bawa tudung, pakai nanti di sana,” pesan Emak.

“Tak payahlah bawa tudung, Mak. Bukan panas dalam hutan bakau, tu,” bantahku. Memakai tudung bagi aku sungguh perkara yang mengganggu.

“Haissy, namanya tengah laut, pastilah panas. Nanti kering kepala kau.”

Percuma berdalil membantah Emak. Baiklah menurut saja, karena aku tak akan menang. Kubawa semua bekal, aku berpamitan pada Emak dan Ayah, lalu aku berangkat menuju sekolah.

Tiba di sekolah kutemui kawan-kawan sekelasku sudah berkumpul. Kami hanya 12 murid, 8 laki-laki, 4 perempuan. Semua membawa bekal yang hampir sama, nasi berbungkus daun pisang. Tempat minumnya rupa-rupa. Ada yang membawa botol macam aku, ada pula yang membawa jerigen kecil. Lagi-lagi aku nyaris tergelak sendiri mengingat bahwa yang mereka isikan ke tempat minum itu tentulah air mentah belaka.

Ada 4 sampan bertambat di tepi parit di depan sekolah. Setelah memeriksa kesiapan kami, Pak Kateng menyuruh kami naik ke sampan. “Anak-anak perempuan naik ke setiap sampan. Satu sampan satu murid perempuan. Yang besar badannya, Maila, Su, Rusli, Hamdan, jadi kepala sampan masing-masing. Yang lain boleh pilih mau naik sampan yang mana,” katanya memberi perintah. Kami menurut.

Beriringan sampan kami bergerak menyusuri parit kampung. Aku satu sampan dengan Maila, Nur, dan Ab. Sesekali kami berpapasan dengan orang kampung yang sedang berjalan di jalan kampung. Mereka heran melihat anak-anak sekolah bersampan bersama-sama.

“Nak, ke mana, Pak Kateng.”

“ini, membawa budak-budak ni belajar di hutan bakau.”

“Ai, ada-ada saja, belajar dalam hutan. Dah jemu belajar di kelas, kah?” tanya orang itu sambil bergelak. Pak Kateng pun ikut bergelak.

Kurang lebih setengah jam berkayuh, sampan-sampan kami tiba di kuala. Di depan sana tampak laut dengan air yang sedikit membiru. Laut di kampung kami tak luas benar. Kurang lebih dua kilo di depan sana sudah tampak tepi laut pada sisi lain, sisi pulau sebelah sana. Keluar dari kuala kami berbelok ke arah kiri. Perlahan kami menyusuri tepi laut. Di sisi kiri kami berjajar pohon-pohon bakau, tinggi menjulang. Di bagian bawah akar-akarnya bersilangan satu sama lain, seakan berebut ruang jalar.

Pak Kateng memungut buah bakau dengan sulurnya yang panjang yang terapung di permukaan air.

“Kalian tahu, apa ini?

“Buah bakau,” jawabku.

“Betul. Coba lihat bentuknya. Ada sulur panjang. Kalau jatuh dari pohoh, ia tegak, langsung menancap di lumpur. Di situ dia akan tumbuh. Sulur ini sekaligus menjadi pelampung, membuat buah bakau ini bisa hanyut jauh. Saat air surut, ia akan terdampar, lalu tumbuh di situ. Ia akan jadi pohon baru, jauh dari induknya. Begitulah cara pepohonan menyebarkan keturunan.”

Kami semua mendengar dengan seksama. Aku bukan pertama kali ini ke hutan bakau. Sudah beberapa kali aku pergi, ikut Ayah. Tapi pergi seperti ini, bersama kawan-kawan, ditambah panduan Pak Kateng, rasanya berbeda. Lebih asyik.

Pak Kateng menyuruh kami menambatkan sampan di suatu tempat. Lalu kami naik ke darat. Air laut sedang pasang. Di tepi laut sebagian akar bakau terendam air, tak berapa dalam, hanya satu dua jengkal. Kami dapat dengan jelas melihat ikan-ikan berkeliaran di antara akar bakau. Ada ikan berbentuk pipih, sisiknya berwarna perak, tapi ada pola berbentuk bulatan hitam di tengah badannya. Aku tahu, namanya ikan sumpit. Sesekali ikan-ikan itu menyemprotkan air ke arah daun bakau.

“Ikan sumpit itu menyemprotkan air ke daun dan batang bakau, kalau mengenai serangga, ia akan jatuh, lalu jadi mangsa ikan.”

Oh, begitu. Patutlah ia diberi nama ikan sumpit. Ia pandai menyumpit pakai air.

Pak Kateng membiarkan kami berkeliaran sesuka hati di tengah hutan bakau. Ab berteriak-teriak, menikmati pantulan saranya. Budak-budak berbadan besar beradu cepat memanjat pohon bakau. Budak-budak perempuan mulai mengumpulkan berbagai jenis siput yang merayap di akar dan batang bakau.

Aku turun tanah basah di bawah pohon bakau. Di situ bisa ditemukan kepah. Ayah pernah mengajari aku cara mencari kepah. Ada garis belahan kecil di permukaan tanah. Itu adalah mulut kepah yang sedikit terbuka. Koreklah sedikit ke bawah, maka kau akan mendapatkannya. Dalam sekejap aku sudah menemukan satu kepah bakau yang besar. Asyik aku berjalan ke sana ke mari mengumpulkan kepah. Dalam sekejap sudah kudapat belasan kepah. Melihat kepahku bertumpuk, Nur datang membawakan bakul kecil untuk menampungnya.

Puas kami bermain, Pak Kateng mengajak kami berkumpul. Kini sudah tengah hari, perut mulai lapar. Melihat kami membawa kepah dan siput, Rusli bergegas ke sampan, dan kembali dengan tungku. Sampan nelayan memang dilengkapi dengan tungku, terbuat dari blek bekas yang dipotong, kemudian separuhnya diisi tanah liat. Maila motong beberapa dahan bakau, kemudian membelahnya. Sigap dia menyalakan api di tungku. Lalu kami makan nasi bekal kami, dengan lauk bekal, ditambah kepah dan siput bakar. Sedap bukan main.

Lepas makan kami berenang di laut. Pak Kateng membiarkan kami bermain sesuka hati. Kami mengumpulkan kayu-kayu hanyut, mengikatnya dengan rotan hanyut yang kami temukan, menjadikannya rakit. Beberapa rakit terbentuk, lalu kami mengadakan perlombaan kayuh rakit.

Tak terasa waktu berlalu. Tahu-tahu matahari sudah tampak condong ke barat. Pak Kateng mengajak kami pulang. Sungguh menyenangkan. Tadinya aku sempat berkecil hati dengan darmawisata ini. Tapi ternyata ini adalah darmawisata yang hebat.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *