Dampingi Anak-anak Kita Belajar

296461_4473784083496_2101638149_n
Sehari kemarin di beranda Facebook saya beredar posting tentang soal ulangan anak SD yang berisi kandungan tidak patut. Orang-orang membagikannya dengan peringatan,”Awasi anak-anak Anda saat belajar.” Maksudnya, materi pelajaran/ulangan tidak selalu sehat dan benar. Karena itu orang tua harus mengawasi.
 
Terus terang saya prihatin. Ada kesan, semoga saya salah, para orang tua hanya menyisihkan waktu untuk berada di dekat anaknya ketika mereka belajar saat ada persoalan seperti ini. Bahkan mungkin hanya pada periode yang sangat singkat saja, ketika isu ini hangat. Diksi yang dipakai sungguh mengerikan,”Awasi anak Anda saat mereka belajar.”
 
Bapak-bapak, Ibu-ibu, saat anak-anak kita belajar tugas kita bukan mengawasi, tapi mendampingi. Ada atau tidaknya masalah mengerikan seperti di atas, tugas itu tidak boleh kita lalaikan. Ada begitu banyak alasan kenapa itu harus dilakukan. Alasan paling utama adalah karena tugas mendidik anak adalah tugas kita, bukan tugas guru. Tugas itu tidak serta merta selesai atau tunai karena kita sudah menyekolahkan anak. Sekolah dan guru-guru hanya membantu kita dalam pendidikan. Kita bagian utamanya.
 
Anak-anak, khususnya usia dini, ketika belajar mereka tidak sekedar membangun pengetahuan, tapi membangun konsep tentang segala sesuatu. Konsep adalah sesuatu yang lebih besar dari pengetahuan. Konsep menyangkut pengetahuan, dan bagaimana seseorang bersikap terhadap hal itu. Misalnya, kita tahu bahwa Indonesia ini beragam dalam hal suku dan agama. Itu pengetahuan. Bagaimana kita bersikap terhadap keragaman, itu adalah sebuah konsep.
 
Nah, siapa yang kita harapkan berada di samping anak-anak kita, mengarahkan mereka saat mereka membangun konsep itu? Guru di sekolah? Atau guru les yang kita bayar? Sayang sekali kalau itu bukan kita.
 
Di sekolah guru-guru harus berhadapan dengan 30-40 murid sekaligus saat dia mengajar. Maka pendekatannya adalah massal. Guru tidak akan mengajar dengan mengenali audiensnya satu per satu. Ia tidak akan memberi sentuhan personal. Padahal anak-anak memerlukan itu untuk memahami sesuatu. Lebih mudah bagi anak-anak memahami sesuatu bila penjelasan dimulai dari hal yang sudah dia ketahui atau alami. Kita sebagai orang tua bisa melakukan itu.
 
Anak-anak sering terbentur pada diksi saat belajar. Soal ini tak banyak diperhatikan oleh guru-guru, karena pendekatannya yang bersifat massal tadi. Tadi malam Kenji anak saya menemukan kata yang tidak ia pahami tertulis di buku teks, yaitu kata melanda. Kata itu mungkin sudah berulang-ulang dikatakan gurunya tanpa ia pahami. Ayah, apa arti melanda? Di situlah kita perlu hadir mendampingi untuk menjelaskan.
 
Ada kalanya guru menjelaskan dengan cara yang salah, maka kita harus koreksi. Ada pula saatnya guru memberi soal yang salah, dan membingungkan. Padahal bagi anak, guru tidak mungkin salah. Kalau tidak diluruskan, kebingungan itu akan menjadi siksaan. Tadi malam Kenji mengerjakan tugas, ada sebuah bacaan singkat di situ. “Fitri tidak sengaja menumpahkan minuman di baju Anisa. Ia minta maaf.” Di bagian soal ada pertanyaan, “Mengapa Fitri minta maaf pada Aisyah?” Saat menemukan kesalahan seperti ini biasanya saya tuliskan catatan kecil di kertas PR anak saya, mengingatkan guru untuk lebih teliti.
 
Di luar masalah itu, mendampingi anak-anak kita belajar adalah cara untuk berkomunikasi dengan mereka. Di situ kita bisa menyelami pertumbuhan pengetahuan, wawasan, kesadaran, dan cara berpikir mereka. Kita juga bisa mengarahkan perkembangan hal-hal itu. Ada banyak orang tua yang tiba-tiba kaget oleh perkembangan anaknya. Tiba-tiba ia temukan anaknya pada keadaan berpikir atau berperilaku jauh dari sangkaannya selama ini. Kenapa? Karena tidak pernah berkomunikasi.
 
Ada lebih banyak lagi alasan kenapa mendampingi anak kita belajar sangat penting. Karena alasan-alasan itulah maka saya berkomitmen untuk sudah tiba di rumah paling lambat jam 7 malam, meski jarak antara kantor dan rumah tidak dekat. Setiap malam setidaknya 2 jam saya dampingi anak-anak saya belajar. Demikian pula selama akhir pekan saya dedikasikan waktu saya secara penuh untuk bersama mereka. Karena itulah saya jarang berkumpul dengan teman-teman usai jam kerja, atau di akhir pekan.
 
Ingat, anak-anak kita hanya tumbuh sekali. Hanya sekaranglah kesempatan kita untuk mendampingi mereka.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *