Dalil-dalil Bertentangan

Kalau kita melakukan perjalanan di dalam rimba dalil, maka kita akan temukan dalil-dalil bunyi teksnya bertentangan. Contohnya, di surat Al-Hujurat ada ayat yang menyampaikan bahwa manusia itu setara. Yang membedakannya di hadapan Allah hanyalah ketakwaan. Tapi pada saat yang sama di banyak tempat ada ayat yang menyatakan bahwa budak (malakul yamin) boleh digauli.
 
Di mana masalahnya? Kalau budak boleh digauli, maka itu artinya boleh memelihara budak. Kalau masih ada orang berstatus budak, bagaimana dengan prinsip kesetaraan tadi? Paradoks bukan?
 
Saya sering melempar thread soal budak ini, kemudian menjadi kontroversi. Memang saya sengaja. Pertama, karena banyak orang yang belum pernah mendengarnya, sehingga tidak tahu. Ada pula yang hanya mendengar sisi apologetiknya saja, bahwa Islam melarang perbudakan, padahal larangan itu tidak ada. Ekspose ini saya harapkan merangsang orang untuk menggali lebih jauh.
 
Tujuan kedua, mengeksplorasi pandangan orang-orang. Ada banyak yang berpandangan lucu. Misalnya, mereka mengatakan bahwa ayat-ayat perbudakan tetap diperlukan. Siapa tahu kelak terjadi lagi perbudakan, maka kita sudah siap dengan regulasinya. Itu sebuah nalar yang rusak.
 
Bagaimana pandangan saya sendiri? Bagi saya Quran itu selalu punya 2 sisi, yaitu universal dan lokal. Ayat di surat Al-Hujurat tadi adalah muatan universal. Ini akan berlaku sampai kapanpun. Adapun aturan-aturan tentang budak, itu adalah aturan yang sifatnya lokal, berlaku untuk orang-orang Arab yang hidup di abad ke 7. Perbudakan sudah ada sejak sebelum masa Islam, dan aturan-aturan itu diperlukan untuk mengatur masyarakat pada saat itu. Aturan itu sudah tidak berlaku sekarang, dan tidak boleh diberlakukan lagi di masa depan. Karena prinsip yang universal tadi berkonsekuensi bahwa perbudakan harus dihapuskan.
 
Sama halnya soal ayat-ayat hubungan Islam dengan Yahudi dan Nasrani. Ada ayat-ayat yang sifatnya bersahabat, ada yang terkesan bermusuhan. Bersahabat dan damai bagi saya adalah nilai universal, sedangkan yang terdengar seperti bermusuhan, itu adalah dalil yang temporer sifatnya. Di antaranya adalah ayat di Al-Baqarah 120,”Tidak ridha kaum Yahudi dan Nasrani kepadamu sampai kamu mengikuti millah mereka.” Ayat ini memakai narasi “anka”, berarti kamu (tunggal), menunjuk kepada Nabi seorang, bukan umat Islam. Artinya ayat ini hanya untuk Nabi, pada situasi saat itu saja.
 
Tapi saya tahu bahwa pandangan moderat ini sering ditentang oleh orang-orang skriptualis. Pandangan tentang budak tadi misalnya, mereka keberatan kalau saya katakan bahwa ayat itu berlaku situasional. Mereka takut terjadi seolah-olah ada ayat yang bisa dianulir manusia. Demikian pula halnya dengan ayat-ayat “permusuhan” tadi. Mereka tetap mengatakan bahwa ayat itu berlaku sampai sekarang. Bahkan kemudian mereka memakainya secara serampangan dalam konteks politik saat ini. Bagi saya itu keblinger.
 
Maka terhadap itu saya sering bombardir mereka dengan posting-posting sengak, sinis dan satire. Maka keluarlah tuduhan menghina Islam dan anti Islam itu. Tapi kalaupun tidak saya tulis posting satire itu, pandangan moderat tadi tetap akan dianggap sebagai ciri orang liberal. Artinya, apapun yang saya sampaikan akan dianggap salah juga. Makanya saya tidak peduli. Saya tuliskan apa saja yang saya ingin tulis, sesuai mood saya. Ada yang bisa mengambil benang merahnya secara baik, namun tidak sedikit yang hanya melihatnya sebagai permusuhan.
 
I am responsible for what I write, but I am not responsible for what you think about it.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *