Dalil Cinta untuk Indonesia

Ada ustaz yang berkata, ah maaf, sebenarnya malu saya membahasnya. Dari sisi pemilihan diksi saja sudah tergambar kualitasnya. Tapi karena banyak yang membaginya, saya harus bahas.

Ia berkata, membela nasionalisme itu tak ada dalilnya. Adapun membela Islam ada dalilnya. Kita tentu akan berkerut kening membaca istilah “membela nasionalisme”. Tapi dengan sedikit berjongkok bolehlah dipahami bahwa maksudnya adalah tidak perlu bersikap nasionalis, karena tidak ada dalil yang mengajarkannya.

Apa makna nasionalis bagi Anda? Bagi saya, sebagai orang Indonesia, nasionalis artinya saya tinggal di bumi Indonesia ini, maka saya akan menjaganya agar aman, damai, bersih, sehat, tertib, dan makmur. Adakah dalil untuk hal-hal itu? Saya bukan ahli dalam berdalil. Sudah saya katakan bahwa saya ini bukan ahli apa-apa, hanya ahli dalam hal bukan-bukan. Maka saya cukup pakai akal saya saja.

Kalau saya punya rumah, maka saya tidak perlu dalil untuk tahu bahwa saya harus menjaga kebersihan dan keamanan rumah saya. Juga keindahannya. Kalau saya tinggal di suatu kampung maka hukumnya sama. Kalau saya berak di kali kampung saya, maka saya sedang memastikan bahwa besok lusa saya akan mandi atau minum air bercampur taik. Kalau saya membuat onar, maka cepat atau lambat akibatnya akan menimpa saya.

Kita tak perlu dalil untuk paham hal-hal sederhana seperti itu. Maka kita tidak perlu cari-cari dalil untuk cinta Indonesia. Kalau kita cari mungkin akan kita temukan dalil, dan mungkin pula akan ada yang membantahnya. Kita mafhum, yang paham soal dalil biasanya orang-orang pintar, di antaranya pintar berbantahan. Saya yang tak pintar ini tak perlu berdalil.

Jadi sekali lagi, saya tak perlu berdalil untuk cinta Indonesia.

Indonesia adalah rumah kita. Indonesia adalah kampung kita. Indonesia adalah negeri kita. Kita tak perlu dalil-dalil untuk menjaga, merawat, dan memakmurkannya. Karena menjaga Indonesia adalah menjaga diri kita, serta anak cucu kita.

Satu hal lagi. Indonesia ini hanyalah bagian dari kampung bumi. Bila kita mengotori atau merusak Indonesia, kita sedang merusak dan mengotori bumi kita. Seperti kita sedang memberaki air di bak mandi kita. Kita orang waras, tentu tak melakukannya, meski tak ada dalil yang melarangnya.

Orang-orang yang segala sesuatu dalam hidupnya harus berdasar dalil-dalil sepertinya adalah orang-orang yang tujuan hidupnya hanya untuk akhirat belaka. Well, semoga mereka segera pindah ke sana.

Ada satu hal lagi yang ingin saya tambahkan. Kenapa ada orang-orang yang kelihatannya begitu alergi dengan nasionalisme? Itu ada penjelasannya. Nasionalisme yang mereka benci sebenarnya adalah nasionalisme Arab. Itu adalah semangat kebangsaan Arab, yang tumbuh pada abad 18-19. Mereka sadar bahwa mereka sedang berada di bawah kekuasaan Turki Usmani. Turki bukanlah Arab, tapi mengapa kita mesti tunduk di bawah kekuasaan Turki, pikir mereka.

Dengan semangat itu, orang-orang Arab bergerak melawan Turki. Mereka memberontak. Faktor inilah yang kemudian membuat Turki babak belur dalam Perang Dunia I. Ini semakin melemahkan Turki, sehingga tak lama kemudian kekaisaran itu runtuh.

Membenci nasionalisme adalah perbuatan orang yang cinta pada kekhalifahan, yang dibangun oleh bangsa lain. Jangan heran. Orang-orang ini memang menginginkan sebuah negara khilafah, imperium besar, dengan Indonesia hanya menjadi salah satu provinsinya saja. Orang-orang ini sedang membangun kekuatan untuk mewujudkan mimpi mereka, menjadikan Indonesia bagian dari sebuah imperium besar. Seharusnya kita tak membiarkan mereka hidup dan cari makan di sini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *