Cina Tetangga Saya

Sangat banyak orang Indonesia yang menganggap orang Cina itu kaya semua. Juga sangat banyak yang mengira Cina itu kaya secara otomatis. Pokoknya kalau Cina, takdirnya kaya. Lebih parah lagi, tidak sedikit yang beranggapan bahwa Cina itu kaya karena mereka bisa menghalalkan segala cara dalam berbisnis. Kata orang, karena agama mereka membolehkan.

Di kampung saya, sebuah pulau kecil di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, ada beberapa keluarga Cina yang tinggal bersama kami. Mereka semua berdagang barang kebutuhan harian. Mereka tinggal di sana selama puluhan tahun, sama dengan warga kampung yang lain.

Hampir bersamaan dengan perginya saya dari kampung untuk melanjutkan sekolah di tahun 1981, sebagian dari keluarga-keluarga Cina ini pindah ke Jakarta. Mereka mencoba peruntungan, berdagang di Jakarta. Termasuk di antaranya keluarga teman sekelas saya, Ishak The (almarhum).

Sekitar 10 tahun kemudian, saat lulus kuliah saya bertemu lagi dengan Ishak. Ia bekerja sebagai staf akuntansi di sebuah perusahaan. Di usia muda ia sudah cukup berada di mata saya. Setidaknya ia sudah punya mobil.

Ishak mengajak saya ke rumah kakaknya, tempat ia tinggal. Meski tampak mentereng di luar, hidupnya biasa saja. Ia menempati kamar sempit di ruko kakaknya. Kakaknya juga tinggal di situ. Kakaknya sendiri mengelola toko sederhana. Toko itu lebih besar dari toko di kampung dulu, tapi bukan toko yang besar benar.

Beberapa tahun kemudian, saat saya sekolah di Jepang, sesekali saya bertemu Ishak. Dia makin sukses dan makin kaya. Tapi tidak istimewa, hanya kaya seperti umumnya karyawan perusahaan. Bukan orang yang kaya raya.

Ketika saya tinggal menetap di Bekasi, saya berkesempatan bertemu kembali dengan Cina kawan-kawan sekampung saya dulu. Ada yang jadi penguasaha, tapi banyak juga yang karyawan seperti saya. Bahkan ada yang belum berhasil. “Aku lagi susah, San. Usahaku bangkrut,” keluhnya pada saya.

Adakah yang istimewa? Tidak. Mereka hidup sama saja dengan saya. Sama-sama berjuang untuk hidup. Tidak lebih dan tidak kurang.

Ketika kami bertemu, saya merasakan kehangatan. “Aduh, Bang, aku rindu sama Nenek dan Datuk. Dulu sering benar aku main ke rumah Abang, sampai tertidur di sana,” kata Ana, tetangga saya. Kisah yang dia ceritakan itu terjadi saat saya sudah tidak tinggal di kampung lagi. Ana akrab dengan ayah dan emak saya.

Tidak adakah yang curang? Dari kampung saya setahu saya tidak ada. Tapi saya terkejut ketika suatu hari kawan cerita.

“San, kau masih ingat Budi kawan sekelas kita dulu?”

“Ya, kenapa?”

“Kan dia kena kasus, yang simulator itu.”

“Ha? Itu Budi kawan kita?”

Nah, kan, kalau Cina berbisnis pasti curang, kan? Haha. Tidak. Banyak yang jujur. Yang curang pun ada. Yang curang dari kalangan bukan Cina juga banyak. Itu partner in crime si Budi kan Djoko Susilo, orang Jawa.

Tapi kenapa di tempat-tempat mewah kita lihat banyak Cina? Mungkin kita sibuk melihat apa yang ingin kita lihat saja. Padahal orang lain juga banyak di situ.

Tapi secara rata-rata mereka memang banyak yang sukses dan kaya. Apa kuncinya? Mereka memang punya kultur yang mengajarkan orang untuk kerja keras dan jadi kaya. Coba perhatikan ucapan selamat tahun barunya. Gong itu emas, simbol kekayaan. Kaya memang ukuran keberhasilan hidup.

Kita sendiri suka malu-malu sama duit. Mengaku tak mengejar dunia, tapi kalau lihat orang lain kaya, mewek. Mengaku tak mengejar dunia itu sering jadi dalih agar kita tak usah bekerja keras.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *