Category Archives: Uncategorized

Macet Libur Panjang

tol

 

 

 

 

 

 

 

Kejadian berulang setiap libur akhir pekan panjang, jalan macet ke arah luar kota Jakarta. Imbasnya tentu sampai ke dalam kota. Tapi apa sebabnya? Itu masih misteri.
 
Sejak awal pekan saya sudah merencanakan untuk liburan ke Cirebon. Saya sudah antisipasi untuk berangkat lebih cepat, karena kalau petang pasti macet parah. Jam 11.20 lewat saya sudah keluar dari kantor menuju arah Cikarang. Sekitar jam 12 di Bekasi Barat sudah macet, meski tidak parah. Walhasil, jarang dari kantor ke rumah yang dalam kondisi lancar bisa ditempuh 1 jam, molor menjadi 1,5 jam. Saya langsung menjemput anak-anak ke sekolah.
 
Sekitar jam 1 siang dari pantauan Google Map sudah terlihat kemacetan di suatu titik menjelang simpang susun Karawang Timur. Saya buru-buru bersiap, dan jam 3 keluar dari rumah. Begitu masuk tol di simpang susun Cikarang Timur langsung berhadapan dengan kemacetan parah. Jalan merambat, 1 jam berlalu, belum juga tiba di Karawang Barat. Ketika akhirnya lolos dari kemacetan, waktu sudah menunjukkan pukul 5 petang. Jadi jarak tempuh kurang dari 20 km harus ditempuh dalam waktu 2 jam.
 
Ada apa di titik sumber kemacetan? Tidak ada apa-apa. Di situ hanya ada tempat istirahat kecil yang terlihat padat. Orang parkir sampai luber ke jalan. Tapi apa yang menyebabkan kemacetan? Tidak ada yang khusus.
 
Ada beberapa titik kemacetan sepanjang jalan tol ke arah timur dari Jakarta. Pertama di Bekasi Barat, setelah simpang susun Cikunir. Ada tikungan di situ, mirip dengan tikungan di Halim. Di situ selalu jadi titik pangkal kemacetan yang imbasnya akan sampai ke simpang susun Halim, terus merambat sampai ke Semanggi dan Tomang. Kemacetan di simpang susun Halim akan berimbas juga ke jalan tol dalam kota, hingga ke Kelapa Gading, Priok, Pluit, dan Bandara. Kalau sudah macet di Bekasi Barat, maka seluruh jalan utama Jakarta akan macet parah.
 
Titik kedua adalah gerbang tol Cikarang Utama. Ini kemacetan karena orang harus berhenti sejenak untuk mengambil kartu tol. Mesin pengeluar kartu lambat reaksinya, sehingga jadi biang kemacetan.
 
Titik ketiga, tempat istirahat sebelum Karawang Timur tadi.
 
Kondisi terparah dicapai ketika ekor kemacetan Karawang Timur sampai menyentuh Cikarang Utama, ekor Cikarang Utama menyentuh Bekasi Barat, dan imbas macet Bekasi Barat sampai ke Tomang di satu sisi, Kelapa Gading sampai bandara, di sisi lain.
 
Apa yang dilakukan polisi? Nyaris tidak ada. Biasanya mereka hanya memberi sedikit perhatian di Cikarang Utama. Di titik macet Karawang Timur tak terlihat polisi yang mengatur.
 
Kemacetan berulang ini terjadi karena kondisi jalan, seperti tikungan Bekasi Barat, dan gerbang tol Cikarang Utama. Tapi juga disebabkan oleh perilaku pengemudi. Parkir seenaknya di bahu jalan tol adalah sebab utama kemacetan. Saat macet, 2 jalur jalan dipenuhi truk yang akselerasinya rendah, sehingga memperparah kemacetan. Lalu kebiasan lain, “melihat kiri kanan”. Tanpa sadar orang membuat kemacetan dengan cara ini. Sangat sering terjadi kecelakaan di suatu arah jalan tol juga menyebabkan kemacetan di arah sebaliknya. Kenapa? Karena pengendara di arah sebaliknya meski tidak terhambat cenderung memperlambat kendaraan untuk melihat apa yang terjadi.
 
Periku lain adalah zigzag dan saling serobot. Kemarin selama jarak tempuh Cikarang-Karawang ada beberapa kali mobil bersirine memaksa lewat bahu jalan sebelah kanan, diikuti beberapa mobil yang berlagak seolah bagian dari rombongan.
 
Jadi, kenapa macet parah? Kita yang membuatnya. Perilaku kita dalam mengemudi membuat kita susah sendiri. Ditambah ketidakpedulian aparat. Titik-titik kemacetan seakan tidak pernah dianalisa dan dicarikan solusinya. Kita seperti terbiasa menganggap sesuatu sebagai bencana “langganan” tanpa tahu apa penyebabnya, dan bagaimana menyelesaikannya.
 

Anda Orang Indonesia, Bertindaklah sebagai Orang Indonesia

Ada yang nulis panjang lebar soal Anda muslim, bertindaklah selaku muslim. Intinya, kalau muslim ya haram memilih pemimpin non muslim. Ya terserah deeeeh.
 
Kalau saya mah lebih sederhana. Anda orang Indonesia, bertindaklah seperti orang Indonesia. Dalam memilih pemimpin panduan kita jelas, konstitusi. Dalam konstitusi kita setiap warga negara berkedudukan sama di depan hukum. Sama dalam hal hak dan kewajiban. Hak untuk memilih dan dipilih. Hak itu tidak dibedakan atas dasar suku, agama, ras, maupun golongan.
 
Saya orang Indonesia sekaligus seorang muslim. Mematuhi konstitusi tidak menjadikan saya ingkar terhadap Islam. Kalau Anda merasa dalam bernegara dan mematuhi konstitusi Anda harus melanggar syariat Islam, maka saya anjurkan Anda untuk mengubah konstitusi. Oh ya, golongan ini sebenarnya sudah berusaha untuk itu, melalui amandemen UUD, dengan mencoba memasukkan unsur-unsur 7 kata dari Piagam Jakarta. Hasilnya? Kagak laku. Artinya apa? Orang-orang muslim kebanyakan memang tidak butuh negara Islam, kok.
 
Jadi, bagaimana? Anda tidak punya pilihan lain. Patuh pada konstitusi, atau pindah ke negara dengan konstitusi berdasarkan syariat Islam. Asal tahu saja, kalau Anda misalnya pindah ke Saudi, boro-boro mereka mau terima.
 
Tapi apa salahnya kalau seorang muslim menginginkan pemimpin muslim juga? Tidak salah. Yang salah adalah menyalah-nyalahkan orang yang bersikap sebaliknya. Mau debat fiqh? Perdebatannya sudah berlangsung berabad-abad. Kubunya tetap ada 2. Yang membolehkan ada, yang melarang ada. Emang ada yang mebolehkan? Yaelaaah, baca napa?
 
Yang menganggap yang membolehkan itu sesat dan sebagainya itu sebenarnya adalah orang yang sama sekali tidak mengerti Islam. Orang yang pernah ngaji dengan benar akan tahu ushul fiqh. Orang yang pernah ngaji ushul fiqh akan tahu bahwa pendapat seseorang yang faqih tidak bisa menyalahkan pendapat faqih yang lain. Nah, kita, orang awam, tinggal ikut pada pendapat-pendapat itu. Bah, kalau kelasnya lulusan ITB mau nyalahin, addduuuuuh deh.
 
Jadi, kalau ada yang bilang seolah-olah memilih pemimpin dari kalangan non muslim adalah sikap yang tidak mencerminkan kemusliman, kira-kira dia sedang mengatakan bahwa kemusliman kita diragukan atau tidak sah. Lhaaaaa, emang situ siapa? Seorang mujtahid beneran tidak akan berkata seperti itu. Tapi kalau mujtahid karbitan lulusan pesantren kilat, bisa saja sih.
 
Saya orang Indonesia, saya mematuhi konstitusi. Banyak orang Indonesia, cari makan di Indonesia, tapi memimpikan jadi warga negara lain, atau berpikir seperti warga negara lain. Ini manusia salah kamar. Atau, ini manusia jenis benalu.

Emak Kedua

image

 

 

 

 

Namanya Rukaiyah. Aku selalu memanggilnya Ibu. Sejak dulu, sampai sekarang. Ibu hanya berbeda dalam satu hal dengan Emak: bahwa antara dia dan aku tak ada hubungan darah. Selebihnya, dia adalah Emak.

Ibu adalah guruku waktu aku sekolah di Madrasah Tsanawiyah. Dia mengajar Bahasa Inggris dan Matematika. Secara kebetulan dia menjadi wali kelasku sejak kelas satu sampai kelas tiga. Sejak mulai masuk sekolah, aku suka sekali dengan guru yang satu ini. Dia tidak galak, kata-katanya lembut. Terhadap anak yang paling nakal sekalipun suaranya tetap begitu. “Ehhhhhh, janganlah begitu………….” begitu kalimat dia saat menegur anak yang nakal. Karena dia lembut, tak ada anak yang melawan dengan kurang ajar kepadanya. Cara dia mengajar juga cukup baik. Penjelasan pada pelajaran Matematika cukup mudah dipahami.

Di luar soal itu, Ibu secara khusus sangat baik padaku. Dia selalu memberiku kue-kue, sisa kue yang disediakan untuk guru-guru. Pada saat penerimaan rapor semester pertama, aku juara kelas. Ibu menghadiahi aku dengan sejumlah buku dan alat tulis yang cukup untuk keperluanku semester berikutnya. Dan itu kemudian berlangsung setiap semester, sehingga orang tuaku tak perlu lagi membelikan semua itu.

Suatu hari saat aku kelas dua sekolah kami kedatangan tamu. Mereka adalah santri-santri dari Gontor. Mereka memamerkan kemampuan, berpidato dalam bahasa Arab dan Inggris. Aku langsung tertarik, dan berminat untuk sekolah di situ kalau aku tamat dari madrasah ini kelak. Minatku ini aku sampaikan ke Ibu pada suatu kesempatan. Dan dia langsung menyetujui. “Ibu lihat kamu pintar. Kalau belajar serius kamu pasti bisa.” katanya memberi semangat.

Niat itu aku sampaikan ke Ayah. Ayah langsung menolak. Alasannya, aku masih terlalu kecil untuk pergi jauh-jauh dari orang tua. Tapi ada alasan yang lebih penting lagi: Ayah tidak punya uang untuk membiayai. Ibu kecewa betul ketika mendengar laporanku tentang jawaban Ayah. “Tak apa. Ibu siap membantu biayanya.” kata Ibu. Aku sampaikan itu kepada Ayah. Tapi Ayah bergeming. “Kita tak boleh berharap terlalu banyak pada bantuan orang lain. Ayah juga tak mau berhutang budi banyak-banyak.” Itu keputusan akhir, aku tak berani melawannya.

Aku sangat sedih ketika itu. Sebenarnya aku punya cita-cita yang jarang aku bicarakan di rumah. Aku ingin sekolah ke luar negeri. Sesekali aku baca di koran, ada anak-anak pintar yang dikirim pemerintah untuk kuliah di luar negeri setamat mereka dari SMA. Aku ingin juga disekolahkan seperti itu. Untuk bisa seperti itu tentu aku harus bisa berbahasa Inggris. Pelajaran bahasa Inggris di sekolah tak cukup untuk membuatku bisa berbicara. Jawaban Ayah seakan lubang kubur bagi cita-citaku itu.

“Sudahlah. Tak harus ke Gontor kalau mau belajar bahasa Inggris. Kau ambil kursus saja.” kata Ibu menghibur.

“Tapi kursus juga mahal, Bu.”

“Biar Ibu yang bayar.” kata dia lagi.

Sejak itu aku ikut kursus. Ini tempat kursus terbaik di Pontianak waktu itu. Yang ikut kursus di situ hanya anak orang kaya. Tiga kali seminggu, malam hari, aku kursus. Dengan mengayuh sepeda ke pusat kota aku mendatangi tempat kursus. Aku satu-satunya yang naik sepeda. Yang lain naik motor, atau diantar dengan mobil. Dan tak semua yang ikut kursus itu pelajar. Orang yang sudah bekerja juga kursus di situ.

Sejak itu aku mulai bisa berbahasa Inggris. Dan sejak itu Ibu rutin memberiku uang. Tak hanya untuk kursus. Kalau dilihatnya sepatuku sudah bolong, dia beri aku uang untuk beli sepatu. Juga baju seragam.

Waktu tamat Madrasah (SMP) aku lulus dengan nilai terbaik. Waktu itu pemerintah kota melalui Dinas P dan K menetapkan bahwa anak yang lulus dengan nilai tertinggi di sekolahnya bisa masuk ke SMA Negeri tanpa tes. Tapi SMA tujuan sudah ditetapkan berdasarkan rayon. Nah, sekolahku yang bukan sekolah umum tak jelas apakah kena aturan itu atau tidak. Berbekal surat keterangan bahwa aku lulusan terbaik dari sekolah, bersama abangku, aku menghadap petugas di Kanwil P dan K menanyakan masalah itu. Atas pertanyaan kami, aturan itu diberlakukan buat aku. Istimewanya, aku tidak dikenakan rayon. Jadi aku boleh memilih mau masuk ke SMA Negeri mana saja yang aku suka.

Ibu menyuruhku masuk ke SMA1. Ini adalah SMA terbaik di kota kami. Tapi abangku, yang jadi wakil Ayah bagi kami, tidak setuju karena sekolah itu agak jauh dari rumah kami. “Nanti Ibu belikan sepeda.” kata Ibu memberi jalan. Tapi sekali lagi itupun tidak diterima. “Di situ kumpulan anak orang kaya. Nanti kamu ikut-ikutan terpengaruh, bergaya macam anak orang kaya.” bantah abangku. Akhirnya aku menyerah. Masuk ke SMA 2, di dekat rumah.

Bantuan Ibu tak pernah berhenti walau aku bukan lagi muridnya. Aku tetap ikut kursus bahasa Inggris. Keperluan untuk baju seragam, buku, dan bahkan uang jajan selalu diberi oleh Ibu. Waktu itu dititipkan ke keponakanku yang masih sekolah di madrasah itu. Sesekali aku juga bersilaturrahmi ke rumah Ibu. Saat keponakanku lulus, Ibu masih tetap memberi bantuan. Dia meminta aku datang ke rumahnya setiap awal bulan.

Kursus yang aku ikuti tidak sia-sia. Sejak masuk SMA aku tak pernah lagi bicara dalam bahasa Indonesia kepada guru bahasa Inggris di sekolah. Aku selalu berbahasa Inggris. Ibu sungguh senang dengan hasil itu.

Sejak di SMA aku sudah merencanakan untuk kuliah. Tak pernah aku bicarakan soal ini di rumah. Aku takut dipupuskan lagi. Aku berniat kuliah ke Jawa, ke UGM. Tentu minatku untuk kuliah ke luar negeri tetap aku pelihara dengan mencari-cari informasi tentang itu. Ibu seperti biasa mendukung. Saat niat itu mulai tercetus, Emak dan Ayah lagi-lagi melarang. Alasannya sama: tidak ada biaya. “Kalau kau kuliah di sini, semua abang-abang kau di sini. Emak kasih biaya hidup untuk semua. Kurang-kurangnya kita rasakan bersama. Kalau jauh begitu, khusus untuk kamu harus disediakan. Jadi terasa benar.” kata Emak. Alasan itu masuk akal, karena aku tahu betul kondisi Emak.

Tapi kali ini Abangku jadi pahlawan. Dia baru lulus sarjana saat aku kelas satu SMA. Sejak lulus SPG dia jadi guru, dan sambil kerja dia kuliah. Begitu jadi sarjana dia diterima jadi dosen di tempat dia kuliah. Kebetulan waktu masih kuliah dia menjadi mahasiswa teladan yang diundang ke Istana Presiden untuk perayaan Hari Kemerdekaan. Di situ dia bertemu dengan mahasiswa teladan dari seluruh Indonesia. Dia ingin aku lebih baik dari dia, kuliah di universitas yang lebih baik seperti mahasiwa yang dia temui ketika itu.

“Tenang, jak. Selama kamu bisa lulus ujian masuk PTN, mau ke Jawa juga aku siap bertanggung jawab.” kata abangku. Dia ingin aku masuk kedokteran, atau MIPA. Salah seorang teman dia di acara mahasiswa teladan tadi adalah mahasiswa Fisika dari UI. Dia ingin menjadikan aku seperti temannya itu.

Tamat SMA aku ikut tes Sipenmaru dengan pilihan jurusan Fisika FMIPA UGM. Aku ikut tes dari Pontianak saja, karena tak ada biaya kalau hanya untuk sekedar pergi tes ke Yogya. Menjelang kelulusan, aku menemukan iklan penerimaan calon mahasiswa program Overseas Fellowship Program (OFP) dari BPPT. Aku gunting iklan koran itu, aku bawa ke rumah Ibu.

“Ya sudah, kamu melamar saja.” kata Ibu.

“Tapi ini testnya di Jakarta. Harus naik pesawat. Sayang juga uangnya kalau sampai ikut tes lalu tak lulus.” kataku.

“Tak apa. Semua harus dicoba. Ibu akan sediakan biayanya.”

Setelah beberapa minggu mengirim lamaran, aku dipanggil tes tahap pertama. Aku berangkat ke Jakarta, dan menunggu di Jakarta sampai pengumuman Sipenmaru selesai. Karena tak ada keluarga di Jakarta, aku tinggal di asrama pelajar daerah. Sayang aku tak lulus tes di BPPT. Aku hanya diterima di UGM. Lalu aku berangkat ke Yogya untuk kuliah. Sungguh kecewa aku ketika itu. Dan aku juga merasa bersalah, karena gagal meski sudah dibantu sekian banyak oleh Ibu.

Tapi Ibu selalu membesarkan hatiku. Dan lagi-lagi dia selalu mengirimi aku uang, tanpa diminta sekalipun. Itu berlangsung hingga aku lulus kuliah.

Sejak dulu aku sering bertanya, mengapa Ibu demikian sayang padaku. Karena aku dari keluarga miskin? Madrasah itu memang sekolah anak-anak miskin. Jarang anak orang kaya sekolah di situ. Jadi, aku bukan satu-satunya yang miskin. Dan banyak juga anak-anak miskin lain yang pintar. Tapi perhatian Ibu kepadaku sungguh istimewa. Karena dia hendak menjadikan aku menantu? Itupun tak masuk akal, karena semua itu bermula saat aku dan anaknya masih kecil. Lalu, kenapa? Bagi aku akhirnya itu pertanyaan yang tak perlu aku ajukan.

Kini Ibu sudah tua, menikmati masa pensiun. Sesekali aku pulang ke Pontianak, untuk berkunjung dan mencium tangannya.

 

 

Ano Hito Wa Mo Inai

tohoku

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul tulisan ini adalah penggalan syair lagu “Aobajo Koiuta” yang dinyanyikan oleh Muneyuki Sato. Lagu ini adalah lagilu cinta, dengan latar belakang lansekap kota Sendai, kota yang oleh orang Jepang disebut Mori no Miyako. Banyak tempat-tempat yang menjadi simbol kota Sendai disebut dalam lagu ini. Judulnya memuat kata Aobajo, sebuah puri Samurai yang didirikan oleh Masamune Date, pendiri kota itu. Lalu ada Hirosegawa, nama sungai yang membelah kota. Kemudian ada Tanabata Matsuri, festival musim panas yang terkenal di kota Sendai.

Lagu ini adalah lagu sedih, bercerita tentang kisah cinta yang sudah berlalu. Di akhir suatu bait berulang kalimat, “Ano hito wa mo inai”, dia sudah tiada. Lagu ini terasa makin menyayat ketika saya mengenang peristiwa gempa 11 Maret 2011.

Hari itu saya sedang bekerja di kantor saya di Karawang. Teman saya saya yang masih kuliah di Tohoku University mengirim pesan lewat mailing list, bahwa baru terjadi gempa. Waktu itu sempat saya balas dengan bercanda. Bagi orang yang pernah tinggal di Jepang, gempa itu adalah hal yang biasa. Kemudian saya lamjutkan bekerja.

Tak lama kemudian saya diberi tahu oleh rekan kerja saya, orang Jepang, bahwa telah terjadi tsunami di Sendai dan daerah pesisir prefecture Miyagi. Wilayah Tohoku dihantam bencana besar, orang Jepang menyebutnya Tohoku daishinsai. Lalu saya melihat gambar video saat tsunami menghantam bandara Sendai. Pilu rasanya melihat bandara yang dulu sering saya gunakan, hanyut terendam air bah.

Segera saya telepon Sensei, pembimbing saya waktu kuliah dulu, tapi tak tersambung. Beberapa kawan Jepang saya juga tak bisa saya hubungi. Kawan-kawan mahasiswa Indonesia di sana pun tak ada yang bisa dihubungi. Beberapa ka berlalu, terasa hening. Bagaimana nasib kawan-kawan di sana? Entahlah.

Siang menjelang sore baru ada kabar. Sebagian besar mahasiswa Indonesia di Sendai selamat, tak ada yang cidera, meski masih ada satu dua yang belum bisa dipastikan keberadaannya. Belakangan diketahui mereka sedang pulang ke Indonesia, dan ada juga yang sedang bepergian. Pihak KBRI Tokyo kemudian melakukan evakuasi, kemudian mengirim pulang para mahasiswa kita itu ke Jakarta. Kelak benerapa di antaranya kesulitan saat hendak kembali ke Jepang, karena tidak mengurus re-entry permit.

Sementara itu saya tetap tidak bisa menghubungi Sensei dan teman-teman Jepang saya. Kabar dari kawan-kawan yang pulang adalah bahwa kota Sendai tidak mengalami kerusakan yang parah. Gempa memang mengguncang. Tapi sepertinya Jepang sudah siap, belajar dari gempa Kobe tahun 1995 yang menghancurkan kota itu, banyak bangunan di Sendai yang diperbaiki standarnya sehingga lebih tahan gempa. Yang tidak bisa diantisipasi adalah tsunami. Akibat gempa dan tsunami, banyak pembangkit listrik dan saluran distribusi gas yang rusak. Kota tidak mengalami kerusakan berat, tapi pasokan energi terputus. Demikian pula pasokan barang kebutuhan. Orang harus antri di supermarket untuk membeli barang kebutuhan.

Kota-kota pesisir seperti Natori, Tagajo, dan Kesennuma luluh lantak diterjang tsunami. Kota-kota itu. Mendengar namanya saat itu langsung membuat air mata saya tumpah ruah. Bandara Sendai itu terletak di Natori. Ia luluh lantak. Di bandara itulah saya menyambut kedatangan istri saya pada kunjungannya yang pertama ke Sendai. Kami menikah beberapa hari sebelum saya berangkat untuk kuliah. Istri saya menyusul 3 bulan kemudian. Di bandara itulah dia mendarat, dan saya menjemputnya. Tempat kenangan itu musnah tersapu ombak.

Ada beberapa teman saya di Natori, hingga saat ini belum bisa saya ketahui keberadaannya. Kami juga pernah diundang oleh Walikota Tagajo bersama komunitas pelajar asing di Sendai. Banyak orang yang kami temui di sana, walau tidak berteman akrab. Kesennuma, kami pernah berlibur ke sana. Kota pelabuhan nelayan yang cantik. Banyak orang Indonesia yang bekerja di sana, sebagai awak kapal nelayan. Bagaimana nasib mereka?

Jepang berduka saat itu. Saya juga berduka. Dua minggu baru saya bisa mengontak kawan-kawan. Tak ada dari mereka yang jadi korban. Semua baik-baik saja. Tapi saya tetap merasakan duka, karena ada banyak orang yang dulu hanya saya kenal sekilas, tak bisa saya ketahui keadaannya. Mungkin ada di antara mereka yang sudah tiada. Ano hito wa mo inai.

Tapi di tengah duka itu, orang-orang Jepang menunjukkan ketabahannya. Mereka segera bangkit. Tindakan darurat segera diambil. Pembangunan kembali segera dimulai. Mereka tak berlama-lama meratap, segera bangkit dengan teriakan,”Ganbare, Tohoku!” Berjuanglah Tohoku! Yang mengguncang dunia adalah foto-foto korban yang tetap tertib antri mengambil makanan, meski mereka dalam keadaan kesusahan.

Dua tahun lalu saya berkunjung ke Sendai. Semua sudah pulih seperti sedia kala.

 

 

Mas Nur, Kristen yang Santun

Saya mengenal Mas Nur tahun 1989, waktu saya kuliah tingkat 2. Waktu itu di fakultas, oleh panitia Maulid saya diminta jadi ketua panitia. Acaranya waktu itu adalah seminar dakwah Islam menghadapi era informasi. Waktu itu sedang hangat-hangatnya orang membahas ramalan Alvin Toffler tentang revolusi informasi. Nah, siapa yang akan diundang? Pembicara utamanya adalah Alwi Dahlan, pakar komunikasi. Siapa dia? Saya pun tak tahu betul. Tapi ada yang membisiki, beliau ini teman dekat Pak Koesnadi, Rektor UGM. Jadi kalau mau mengundang lebih baik lewat Pak Koes.

Berkah pertama yang saya rasakan dengan menjadi ketua panitia adalah berkenalan dengan Pak Koes. Kalau mengenang beliau selalu saya tak bisa menahan air mata. Tentang Pak Koes nanti akan saya bahas dalam tulisan tersendiri. Singkat kata, saya berkunjung ke rumah dinas rektor untuk bertemu Pak Koes. Memakai sarung, berbaju koko, dan berpeci, Pak Koes menemui saya. “Kami mau mengundang Pak Alwi, Pak,” kata saya, lalu saya jelaskan proposal seminar. Pak Koes kemudian meraih pesawat telepon, langsung menelepon Pak Alwi. Ampuh! Pak Alwi langsung setuju untuk hadir. Saat berpamitan Pak Koes berpesan,”Untuk komunikasi selanjutnya silakan berhubungan dengan Mbak Tri, sekretaris saya.”

Mbak Tri sekretaris Pak Koes itu sungguh orang yang sangat ramah dan baik. Dia tidak sendiri. Ada Mbak Cuk dan Mas Nur. Ketiganya sungguh orang yang sangat baik hati. Saya kira tidak hanya saya yang akan bersaksi demikian. Seluruh mahasiswa yang aktif di senat maupun UKM UGM dan berurusan dengan kantor rektor pada zaman itu akan bersaksi sama soal mereka.

Salah satu fasilitas yang saya dapat waktu itu adalah memakai telepon untuk menelepon Pak Alwi. Zaman itu belum ada HP. Kalau menelepon interlokal ke Jakarta, pada siang hari, cukup untuk membuat stress. Bicara beberapa menit saja sudah puluhan ribu habis, padahal anggaran panitia tidak seberapa. Nah, adanya izin memakai telepon di kantor rektor itu sungguh berkah yang luar biasa. Beberapa kali saya datang, meminjam telepon, dan selalu diizinkan Mbak Tri dengan senyum ramah. Sejak itu hubungan dengan trio staf rektor itu menjadi sangat akrab. Hubungan terus berlanjut sampai rektor berganti dari Pak Koes ke Pak Adnan.

Pada masa itu kampus UGM belum punya mesjid. Ada mesjid Mardhiyah di dekat RS Sarjito, tapi itu masjid milik masyarakat, tidak di bawah organisasi UGM. Kami menyelenggarakan salat jumat dan tarawih di Gelanggang Mahasiswa. Meski bukan mesjid, dulu tempat ini favorit bagi anak-anak muda Yogya. Jamaah tarawih kami setiap Ramadan selalu memenuhi aula, bahkan tumpah ruah ke boulevard di pintu masuk kampus. Meski Gelanggang boleh dipakai, tetap saja ada keinginan untuk membangun mesjid.

Panitia pembangunan mesjid dibentuk. Pak Koes jadi ketua. Kami dari Jamaah Shalahuddin, unit kerohanian Islam UGM waktu itu diminta membantu. Saya ikut serta jadi panitia, walau tak jelas juga apa kerja yang dibebankan. Rencana pengumpulan dana disusun. Calon lokasi pembangunan mesjid adalah bagian barat kampus yang saat itu masih berupa kuburan Cina. Waktu itu kabarnya Sultan sudah menyetujui untuk memindah makan itu dan menghibahkan tanahnya untuk UGM.

Suatu hari berhembus kabar burung, katanya pihak Kristen juga ingin mendapat jatah tanah di kampus, untuk mendirikan gereja. Sebagai aktivis muslim saya dan teman-teman tak rela. Masak mesjid kita mesti berdampingan dengan gereja. Waktu itu sebenarnya hati kecil saya sempat berbisik, emang apa salahnya? Tapi semangat kawan-kawan untuk menolak gereja itu membuat saya mengabaikan bisikan kecil itu.

Kami segera meminta waktu rektor untuk menanyakan masalah ini. Pada hari yang dijanjikan kami pergi. Sambil menunggu giliran, kami berbincang akrab dengan Mas Nur. Kami bahaslah soal rencana pembangunan gereja ini. “Ini akan mengganggu syiar dan dakwah Islam di kampus. Nanti kampus akan jadi ajang Kristenisasi,” kata kami bersemangat. Mas Nur tampak manggut-manggut mendengar penjelasan kami. Mbak Tri mendengarkan dari jauh.

Tak lama setelah itu Mas Nur pamit keluar ruangan, ke toilet, Mbak Tri mendatangi kami. “Mas-mas iki piye to? Mas Nur itu Kristeeeeen…..” katanya. Gubraaaak, Eh, zaman itu kalau jatuh bunyinya masih gedebuuuuuk, belum gubrak. Muka kami langsung merah padam. Tidak ada yang menyangka Mas Nur itu Kristen. Lha namannya Nur. Santun dan lembutnya, masya Allah. Kalau kami sapa dengan salam dia menjawab dengan sopan. Matik aku.

Tak lama kemudian Mas Nur kembali, tetap mengajak kami berbincang dengan ramah. Tapi kami semua sudah salah tingkah. Kemudian kami diundang masuk ke ruang rektor. Rektor menegaskan bahwa kabar tadi tidak benar. Kami berpamitan, lega. Di luar Mas Nur tetap melepas kami pergi dari kantor rektor dengan senyum yang ramah. Setelah itu pun sikap dia tak pernah berubah.

Kini saya mencoba merenung, apa yang ada di benak Mas Nur melihat kami waktu itu? Mungkin ia menahan marah. Ia sadar sebagai minoritas ia harus bersabar menghadapi bigot seperti kami. Atau, dengan kasih yang diajarkan Tuhannya, ia justru mendoakan agar kami diberi petunjuk ke jalan terang.