Category Archives: Uncategorized

Dampak Positif Pembangunan Kilang Minyak di Indonesia

Kilang minyak adalah titik yang sangat penting dalam industri perminyakan, juga dalam soal kedaulatan energi nasional. Dalam industri minyak, dengan memiliki kilang artinya kita tidak hanya berhenti pada eksploitasi alam tanpa nilai tambah. Mengolah minyak mentah menjadi BBM beserta berbagai produk lain yang menyertainya bisa menghasilkan nilai tambah yang cukup besar.

Dalam hal kedaulatan energi, adanya kilang minyak di dalam negeri dengan jumlah memadai membuat ketergamtungan kita pada BBM impor bisa diputus. Kita tahu bahwa BBM adalah salah satu pilar penting pada dalam struktur energi nasional. Memastikan pilar penting ini kita kendalikan secara penuh adalah hal yang sangat strategis. Di samping itu, tentu saja, tidak mengimpor BBM berarti menghemat devisa.

Pertamina sebagai BUMN di bidang energi saat ini punya program untuk membangun 6 kilang minyak, yaitu di Balikpapan, Balongan, Cilacap, dan Dumai, melalui pogram RDMP, serta di Bontang dan Tuban melalui program NGRR. Ini sesuai dengan arahan pemerintah melalui Perpres No. 146 tahun 2005 tentang Pengembangan dan Pembangunan Kilang Minyak Dalam Negeri.

Di luar soal strategis yaitu swasembada BBM dan penghematan devisa tadi, pembangunan ini akan menyerap ratusan ribu tenaga kerja selama masa pembangunannya 7 tahun ke depan. Kilang Tuban saja, misalnya, akan meyerap setidaknya 50.000 tenaga kerja. Penyerapan ini diharapkan memberi kontribusi dalam menekan angkaengangguran yang tentu akan berdampak pada ekonomi nasional.

Itu masih ditambah lagi dengan bergulirnya kegiatan ekonomi pendukung selama masa pembangunan di sekitar titik-titik pembagunan. Industri kecil dan menengah akan terlibat dalam kegiatan ekonomi di lokasi pembangunan, seperti penyediaan katering, transportasi, logistik, warung makan, binatu, dan sebagainya. Bagi daerah setempat, kontrobusi ini tidak kecil. Terlebih, plaksanaan pembangunannya cukup lama, yaitu 7 tahun.

 

Kilang Minyak untuk Kedaulatan Energi

Setiap kali pemerintah menaikkan harga BBM selalu muncul pertanyaan awam, mengapa BBM jadi masalah di negeri ini? Bukankah kita ini negara penghasil minyak? Kenapa harga BBM di negara kita tidak bisa murah seperti di negara-negara Arab sana? Masih sangat banyak orang yang tidak paham bagaimana minyak mentah diproses sampai menjadi bahan bakar yang siap pakai.

Minyak mentah yang disedot dari perut bumi di berbagai sumur minyak terdiri dari berbagai jenis molekul hidrokarbon, pada dasarnya tidak bisa dipakai langsung. Minyak ini harus dipisahkan menjadi berbagai komponen, melalui proses penyulingan, atau refinery, yang dilakukan di kilang minyak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada proses penyulingan, minyak mentah dipanaskan. Minyak mentah terdiri dari berbagai komponen hidrokarbon, yang memiliki titik didih yang berbeda. Molekul-molekul dengan titik didih berbeda akan terpisah seperti digambarkan pada diagram di atas. Di bagian atas dihasilkan gas, antara lain dikenal sebagai LPG, yang biasa kita pakai sebagai bahan bakar. Bahan lain yang dihasilkan adalah naptha, yaitu bahan kimia dasar yang kemudian diolah menjagi berbagai produk petrokimia seperti plastik. Lalu ada pula berbagai jenis BBM, yaitu bensin, solar, dan minyak tanah. Bahan-bahan dengan molekul yang lebih berat menjadi pelumas dan aspal.

Indonesia memang penghasil minyak, yaitu minyak mentah tadi. Tapi kita boleh dibilang bukan penghasil BBM, karena kilang minyak kita sedikit. Yang kita lakukan adalah mengekspor minyak mentah, tapi pada saat yang sama kita mengimpor berbagai jenis produk BBM, yang dihasilkan dari berbagai kilang di luar negeri. Ibaratnya, kita menjual padi hasil panen di sawah, kemudian kita membeli beras.

Impor BBM kita memerlukan biaya besar. Karena harga yang mahal, selama ini pemerintah memberi subsidi, agar harga BBM tetap bisa terjangkau oleh orang banyak. Tapi lama-lama subsidi ini menjadi beban yang tak ringan, sehingga akhirnya pemerintah secara bertahap menguranginya.

Apakah kita tidak punya kilang penyulingan minyak? Punya. Pertamina, sebagai BUMN terbesar, dibebani tanggung jawab untuk mengelolanya. Artinya, Pertamina punya peran yang sangat strategis dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, karena yang dikelolanya adalah produk yang sangat vital bagi ekonomi bangsa. Masalahnya, kilang yang selama ini sudah ada masih sangat kurang.

Saat ini kilang yang kita miliki punya kapasitas terpasang sebesar 1050 MBPD (juta barrel per hari). Namun karena harus ada perawatan dan sebagainya, kapasitas operasinya hanya 850-900 MBPD. Padahal kebutuhan nasional kita adalah 1600 MBPD. Artinya, masih sangat kurang. Karena itu kita terus menerus tergantung pada pasokan BBM impor. Situasi ini kurang tepat bila dilihat dari sudut pandang kedaulatan dan kemandirian energi yang merupakan amanat Nawacita.

Untuk menyelesaikan masalah itu, Pertamina telah menyiapkan 4 proyek refinery, melalui program Refinery Development Master Plan (RDMP), yaitu di Balikpapan, Balongan, Cilacap, dan Dumai. Berdasarkan perhitungan, keempat kilang itu akan cukup untuk memenuhi kebutuhan 1600 MBPD tadi, pada tahun 2023.

Tapi ingat, selama proses pembangunan, ekonomi kita juga tumbuh. Artinya, kebutuhan bahan bakar juga akan tumbuh. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,5-5,8% per tahun, diperkirakan kebutuhan kita akan meningkat menjadi 2200 MBPD. Untuk menutup kebutuhan itu Pertamina juga telah menyiapkan proyek refinery New Grass Root Refinery (NGRR) di Tuban dan Bontang, masing-masing dengan kapasitas produksi 300 MBPD.

Dengan rencana ini, diharapkan kebutuhan tadi bisa terpenuhi, dan kita tak lagi tergantung pada BBM impor. Ini adalah langkah strategis untuk menjamin kedaulatan negara, khususnya di bidang energi.

 

 

 

 

 

 

Berbincang dengan Anak tentang Narkoba

Dialog dengan Ghifari, anak kedua saya,  berusia 11 tahun.

+ Ayah, narkotika itu apa?

– Narkotika itu tadinya obat.

+ Obat apa?

– Ini obat yang bisa mempengaruhi saraf manusia, membuat manusia kehilangan fungsi saraf tertentu. Misalnya membuat orang tidak merasakan sakit, atau tertidur kehilangan kesadaran.

+ Untuk apa obat kayak gitu?

– Kalau orang menderita sakit parah, ia diberi obat ini agar tidak merasakan sakit. Atau kalau mau dioperasi juga digunakan obat ini supaya tidak terasa waktu tubuhnya dilukai.

+ Lalu apa bahayanya?

– Obat ini tidak berbahaya kalau dipakai dalam jumlah terbatas. Misalnya orang dioperasi kan hanya sekali, tidak sering. Yang berbahaya itu adalah kalau obat ini disalah gunakan.

+ Salah guna itu apa?

– Penggunaan obat secara salah atau keliru. Tadinya dipakai hanya sekali, tapi ini dipakai terus menerus.

+ Apa jeleknya?

– Pertama, penyalahgunaan menyebabkan ketergantungan. Orang jadi terbiasa pakai obat ini, kalau tidak pakai ia akan merasa tidak nyaman. Jadi dia merasa harus pakai terus. Nah, padahal obat ini merusak saraf dan organ tubuh yang lain. Makin banyak dan lama orang memakainya makin banyak organ tubuhnya yang rusak. Jadi sangat berbahaya.

+ Kalau BNN itu apa? Kok ada Badan Narkotika?

– Karena ada penyalahgunaan obat, ada orang yang memanfaatkannya. Mereka membuat obat ini diam-diam, lalu menjualnya, bukan untuk kesehatan, tapi merusak orang. Tidak hanya obat penghilang sakit, mereka bikin obat yang aneh-aneh.

+ Aneh kayak gimana?

– Ada obat yang bikin orang senang terus, atau merasa lucu terus. Ada obat yang bikin orang merasa badannya ringan. Banyak lagi jenisnya.

+ Kok bisa gitu?

– Tubuh kita ini dikendalikan oleh berbagai macam hormon. Saat kamu merasa senang ada hormon yang bikin senang mengalir di otak kamu, mempengaruhi saraf. Demikian pula saat kamu merasa sedih, lucu, dan lain-lain. Orang-orang itu membuat obat-obat ini dan menjualnya untuk mendapatkan uang. Mereka bahkan mencoba menjualnya ke anak-anak seperti kamu. Nah, BNN itu bertugas mengawasi dan menindak orang-orang jahat ini. Di tangan orang jahat ini narkotika menjadi berlipat-lipat kejahatannya. Obatnya sendiri merusak. Tapi tidak hanya itu. Karena perdagangan obat menghasilkan uang dalam jumlah besar, orang-orang yang menjualnya tidak segan berbuat berbagai macam kejahatan lain untuk bisa terus menjual obat mereka.

+ Ooo, ngeri ya.

– Ya, mengerikan. Makanya jauhilah, jangan coba-coba.

Pekerjaan Keren

Apa yang Anda bayangkan tentang pekerjaan keren? Atau, apa yang dulu Anda bayangkan tentang pekerjaan keren? Seorang teman saya bercerita bahwa saat pulang ke Indonesia dan bekerja di industri manufaktur Jepang, ia sempat merasa kurang bersemangat. Kenapa? Ia bekerja di pabrik, memakai seragam yang sama dengan yang dipakai buruh. Padahal tadinya ia membayangkan akan bekerja pakai dasi, bahkan dengan setelan jas, di kantor mewah, di derah elit pusat bisnis. Apakah pekerjaan yang sesuai dengan gambaran itu? Salah satunya adalah petugas resepsionis hotel.

Waktu baru mulai bekerja di perusahaan, saya membuka lowongan untuk staf administrasi di kantor. Beberapa orang saya hubungi, kami buat janji untuk wawancara. Tapi sebagian dari mereka ada yang tidak datang wawancara. Kenapa? Kata staf saya, mungkin mereka enggan setelah mendatangi kantor kami. Kantor kami waktu itu memang tidak berada di daerah perkantoran elit Jakarta. Konon, banyak calon karyawan yang hanya mau bekerja di daerah elit tersebut. Tidak sedikit karyawan yang sudah bekerja lantas berhenti. Alasannya, pekerjaan mereka tidak keren.

Setiap orang punya impian atau bayangan tentang pekerjaan yang dia anggap keren. Hanya saja, ada bayangan yang sahih, ada yang tidak. Bayangan yang tidak sahih biasanya hanya berfokus pada hal-hal yang bersifat kulit luar, seperti soal-soal yang disebut kawan saya tadi. Sebaliknya, bayangan sahih berfokus pada hal-hal yang lebih substansial.

Bagaimana pekerjaan yang keren secara substansial?

Pertama, ia berbasis pada suatu keahlian dan keterampilan. Yang membuat pekerjaan itu keren adalah jalan yang ditempuh untuk mencapainya. kita membangun keahlian hingga layak untuk bekerja di tempat itu. Kita keren karena sudah menempuh jalan panjang untuk sampai di situ, lalu membuktikan bahwa kita memang layak. Apapun pekerjaan dan posisi kita, tidak akan keren bila kenyataannya bahwa kita sebenarnya bukan orang yang kompeten. Kita mendapat pekerjaan atau naik jabatan karena pengaruh orang tua, teman, atau hasil dari menjilat atasan.

Kedua, pada pekerjaan itu kita menjadi tumbuh dan berkembang. Kita tidak mati dan jadi fosil di situ. Keahlian kita bertambah. Tidak hanya itu, kita mampu menumbuhkan keahlian orang-orang di sekitar kita. Banyak orang yang merasa keren, kemudian lalai dengannya. Ia merasa sudah tidak perlu belajar lagi. Lebih parah lagi, ia merasa hanya dialah yang bisa, sehingga tidak membagi keahliannya untuk membantu orang lain berkembang.

Ketiga, kita menjadi orang yang bermanfaat pada pekerjaan tersebut. Pekerjaan kita menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, dan kita secara pribadi berkontribusi dalam menghasilkan manfaat tersebut. Tidak sedikit orang yang bekerja pada posisi mentereng, tapi sebenarnya ia hanya berkontribusi kecil saja dalam pekerjaan itu.

Keempat, kita menikmati pekerjaan kita. Sebenarnya, bila ketiga hal di atas terpenuhi dan kita sadari, kita akan menikmati pekerjaan kita. Tapi tidak sedikit orang yang mati-matian bertahan di suatu posisi padahal ia tidak mendapatkan 3 hal di atas. Ia hanya puas dengan merasa keren secara semu. Sebaliknya, tidak sedikit pula orang yang sebenarnya punya 3 hal di atas, tapi tidak menyadarinya. Ia punya keahlian yang bermanfaat, menginspirasi banyak orang, tapi ia tidak menyadarinya. Ia merasa hanya menjadi orang suruhan belaka. Akhirnya ia tidak menikmati pekerjaannya.

Keren atau tidaknya suatu pekerjaan yang sedang kita lakukan pada akhirnya kembali pada bagaimana kita memberinya makna. Keren itu ada di dalam diri kita, bukan sesuatu yang mesti kita bangun berdasarkan ukuran-ukuran yang ditetapkan orang lain. Pekerjaan kita akan menjadi keren kalau kita bisa mengembangkan sikap-sikap positif dalam bekerja.

Koesnadi Hardjasoemantri

Suatu pagi di tahun 2007, seorang teman menelepon saya. “Pak Koes meninggal dalam kecelakaan pesawat,” katanya memberi kabar. Tak kuasa saya menahan air mata. Saya menangis tersedu-sedu. Orang yang menjadi mahasiswa pada akhir dekade 80-an hingga 90-an pasti mengenal Koesnadi Hardjasoemantri, yang biasa dipanggil orang Pak Koes. Saya sendiri tak begitu intens bergaul dengan Pak Koes. Tapi rasanya begitu dekat dengan beliau. Kepergian beliau menyisakan sebuah kehampaan yang besar.

Saya mengenal Pak Koes saat baru belajar saja aktivis kampus. Saat jadi mahasiswa tahun ke 2, saya menjadi ketua panitia sebuah seminar. Kebetulan waktu itu kami hendak mengundang Pak Alwi Dahlan sebagai pembicara. Mengetahui beliau adalah sahabat Pak Koes, saya menghubungi Pak Koes yang waktu itu adalah Rektor UGM.

Saya saat itu seorang anak muda yang gampang gugup karena tak percaya diri. Bertemu dengan PD III di fakultas saja saya sudah gugup dan berkeringat dingin. Bagaimana nanti kalau bertemu Pak Koes? Pak Koes waktu itu baru saja menjadi berita besar, saat dia mengantarkan mahasiswa berdemo ke gedung DPRD. Orang besar beliau itu. Dan saya harus menemui orang besar itu. Bagaimana saya tak gugup?

Tapi ternyata menemui Pak Koes bukan perkara sulit. Saya hubungi sekretaris beliau, dan segera kami dua orang wakil panitia dapat jadwal menghadap. Jadwal yang sangat singkat, hanya beberapa menit, di tengah kesibukan Pak Koes. Tapi beberapa menit itu luar biasa penting bagi hidup saya. Pak Koes ternyata begitu sederhana. Jauh dari kesan pejabat tinggi. Bicaranya to the point, tak banyak basa-basi. Dan beliau sungguh bersahabat.

Singkat cerita, Pak Koes mau membantu meneleponkan Pak Alwi Dahlan. “Begitu cara yang benar kalau mau menghubungi orang tua, Dik.” kata Pak Koes menasehati kami. “Kalian ini anak-anak saya, Pak Alwi itu teman saya. Tak sopan kalau kalian langsung menghubungi beliau. Biar saya yang kulonuwun dulu, setelah itu baru kalian yang bicara langsung.”

Itulah salah satu prinsip Pak Koes. Di saat lain beliau bercerita bahwa ketika beliau mengantarkan mahasiswa bedemo ke DPRD, prinsipnya juga seperti itu. “Saya ingin anak-anak saya dihormati orang. Kalau mereka datang, langsung mengetuk pintu institusi negara, mereka mungkin akan diabaikan. Lalu mereka perlu membuat sesuatu untuk menarik perhatian, yang bisa-bisa itu tindakan anarkis. Kalau saya antar mereka, orang pasti akan membuka pintu sehingga anak-anak saya bisa masuk dengan sopan.”

Setelah pertemuan pertama itu saya beberapa kali bertemu Pak Koes. Di antaranya di rumah dinas beliau di Bulaksumur. Kebanyakan pagi-pagi, usai salat subuh. “Kalau lampu ruang tamu saya sudah menyala di subuh hari, itu artinya saya siap terima tamu. Demikian pula di malam hari.” Begitu kata beliau. Tanpa protokol, kami bisa langsung menemui beliau di rumah.

Setelah beliau tak jadi Rektor saya sempat beberapa kali lagi bertemu. Terutama dengan posisi beliau sebagai ketua panitia pembangunan mesjid kampus UGM. Beberapa pertemuan terjadi di rumah kediaman beliau di Timoho.

Pertemuan pertama saya dengan Pak Koes yang hanya beberapa menit itu luar biasa efeknya. Sejak itu saya jadi percaya diri. Tak pernah lagi saya gugup ketika bertemu dengan orang-orang besar. Tak cuma itu. Banyak pelajaran yang saya ambil dari beliau.

Salah satu nasehat beliau pada kami yang saat itu suka mengritik pemerintah adalah, bicaralah dengan sopan. “Ada perbedaan antara bicara keras dengan bicara kasar.” kata Pak Koes. “Bicara keras itu menyatakan ketimpangan secara apa adanya, tanpa ditutup-tutupi. Tapi tidak perlu menggunakan kata-kata kasar.”

Pak Koes di saat lain juga bercerita bahwa dengan berbagai kesibukan beliau masih mengajar dan  membimbing skripsi mahasiswa S1. Banyak orang, cerita Pak Koes, yang tak mau lagi mengajar/membimbing mahasiswa S1 kalau sudah profesor. Padahal justru profesor diperlukan untuk itu.

Kesederhanaan Pak Koes, sikap bersahabatnya, menurut saya semua bersumber pada satu hal: akal sehat. Bila kita pertimbangkan segala sesuatu dengan akal sehat, tak akan ada kesombongan, tak kan ada jarak antar manusia. Ya, karena kita ini semua hanya manusia.

Terima kasih, Pak Koes.