Category Archives: Uncategorized

Berbincang dengan Anak tentang Narkoba

Dialog dengan Ghifari, anak kedua saya,  berusia 11 tahun.

+ Ayah, narkotika itu apa?

– Narkotika itu tadinya obat.

+ Obat apa?

– Ini obat yang bisa mempengaruhi saraf manusia, membuat manusia kehilangan fungsi saraf tertentu. Misalnya membuat orang tidak merasakan sakit, atau tertidur kehilangan kesadaran.

+ Untuk apa obat kayak gitu?

– Kalau orang menderita sakit parah, ia diberi obat ini agar tidak merasakan sakit. Atau kalau mau dioperasi juga digunakan obat ini supaya tidak terasa waktu tubuhnya dilukai.

+ Lalu apa bahayanya?

– Obat ini tidak berbahaya kalau dipakai dalam jumlah terbatas. Misalnya orang dioperasi kan hanya sekali, tidak sering. Yang berbahaya itu adalah kalau obat ini disalah gunakan.

+ Salah guna itu apa?

– Penggunaan obat secara salah atau keliru. Tadinya dipakai hanya sekali, tapi ini dipakai terus menerus.

+ Apa jeleknya?

– Pertama, penyalahgunaan menyebabkan ketergantungan. Orang jadi terbiasa pakai obat ini, kalau tidak pakai ia akan merasa tidak nyaman. Jadi dia merasa harus pakai terus. Nah, padahal obat ini merusak saraf dan organ tubuh yang lain. Makin banyak dan lama orang memakainya makin banyak organ tubuhnya yang rusak. Jadi sangat berbahaya.

+ Kalau BNN itu apa? Kok ada Badan Narkotika?

– Karena ada penyalahgunaan obat, ada orang yang memanfaatkannya. Mereka membuat obat ini diam-diam, lalu menjualnya, bukan untuk kesehatan, tapi merusak orang. Tidak hanya obat penghilang sakit, mereka bikin obat yang aneh-aneh.

+ Aneh kayak gimana?

– Ada obat yang bikin orang senang terus, atau merasa lucu terus. Ada obat yang bikin orang merasa badannya ringan. Banyak lagi jenisnya.

+ Kok bisa gitu?

– Tubuh kita ini dikendalikan oleh berbagai macam hormon. Saat kamu merasa senang ada hormon yang bikin senang mengalir di otak kamu, mempengaruhi saraf. Demikian pula saat kamu merasa sedih, lucu, dan lain-lain. Orang-orang itu membuat obat-obat ini dan menjualnya untuk mendapatkan uang. Mereka bahkan mencoba menjualnya ke anak-anak seperti kamu. Nah, BNN itu bertugas mengawasi dan menindak orang-orang jahat ini. Di tangan orang jahat ini narkotika menjadi berlipat-lipat kejahatannya. Obatnya sendiri merusak. Tapi tidak hanya itu. Karena perdagangan obat menghasilkan uang dalam jumlah besar, orang-orang yang menjualnya tidak segan berbuat berbagai macam kejahatan lain untuk bisa terus menjual obat mereka.

+ Ooo, ngeri ya.

– Ya, mengerikan. Makanya jauhilah, jangan coba-coba.

Pekerjaan Keren

Apa yang Anda bayangkan tentang pekerjaan keren? Atau, apa yang dulu Anda bayangkan tentang pekerjaan keren? Seorang teman saya bercerita bahwa saat pulang ke Indonesia dan bekerja di industri manufaktur Jepang, ia sempat merasa kurang bersemangat. Kenapa? Ia bekerja di pabrik, memakai seragam yang sama dengan yang dipakai buruh. Padahal tadinya ia membayangkan akan bekerja pakai dasi, bahkan dengan setelan jas, di kantor mewah, di derah elit pusat bisnis. Apakah pekerjaan yang sesuai dengan gambaran itu? Salah satunya adalah petugas resepsionis hotel.

Waktu baru mulai bekerja di perusahaan, saya membuka lowongan untuk staf administrasi di kantor. Beberapa orang saya hubungi, kami buat janji untuk wawancara. Tapi sebagian dari mereka ada yang tidak datang wawancara. Kenapa? Kata staf saya, mungkin mereka enggan setelah mendatangi kantor kami. Kantor kami waktu itu memang tidak berada di daerah perkantoran elit Jakarta. Konon, banyak calon karyawan yang hanya mau bekerja di daerah elit tersebut. Tidak sedikit karyawan yang sudah bekerja lantas berhenti. Alasannya, pekerjaan mereka tidak keren.

Setiap orang punya impian atau bayangan tentang pekerjaan yang dia anggap keren. Hanya saja, ada bayangan yang sahih, ada yang tidak. Bayangan yang tidak sahih biasanya hanya berfokus pada hal-hal yang bersifat kulit luar, seperti soal-soal yang disebut kawan saya tadi. Sebaliknya, bayangan sahih berfokus pada hal-hal yang lebih substansial.

Bagaimana pekerjaan yang keren secara substansial?

Pertama, ia berbasis pada suatu keahlian dan keterampilan. Yang membuat pekerjaan itu keren adalah jalan yang ditempuh untuk mencapainya. kita membangun keahlian hingga layak untuk bekerja di tempat itu. Kita keren karena sudah menempuh jalan panjang untuk sampai di situ, lalu membuktikan bahwa kita memang layak. Apapun pekerjaan dan posisi kita, tidak akan keren bila kenyataannya bahwa kita sebenarnya bukan orang yang kompeten. Kita mendapat pekerjaan atau naik jabatan karena pengaruh orang tua, teman, atau hasil dari menjilat atasan.

Kedua, pada pekerjaan itu kita menjadi tumbuh dan berkembang. Kita tidak mati dan jadi fosil di situ. Keahlian kita bertambah. Tidak hanya itu, kita mampu menumbuhkan keahlian orang-orang di sekitar kita. Banyak orang yang merasa keren, kemudian lalai dengannya. Ia merasa sudah tidak perlu belajar lagi. Lebih parah lagi, ia merasa hanya dialah yang bisa, sehingga tidak membagi keahliannya untuk membantu orang lain berkembang.

Ketiga, kita menjadi orang yang bermanfaat pada pekerjaan tersebut. Pekerjaan kita menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, dan kita secara pribadi berkontribusi dalam menghasilkan manfaat tersebut. Tidak sedikit orang yang bekerja pada posisi mentereng, tapi sebenarnya ia hanya berkontribusi kecil saja dalam pekerjaan itu.

Keempat, kita menikmati pekerjaan kita. Sebenarnya, bila ketiga hal di atas terpenuhi dan kita sadari, kita akan menikmati pekerjaan kita. Tapi tidak sedikit orang yang mati-matian bertahan di suatu posisi padahal ia tidak mendapatkan 3 hal di atas. Ia hanya puas dengan merasa keren secara semu. Sebaliknya, tidak sedikit pula orang yang sebenarnya punya 3 hal di atas, tapi tidak menyadarinya. Ia punya keahlian yang bermanfaat, menginspirasi banyak orang, tapi ia tidak menyadarinya. Ia merasa hanya menjadi orang suruhan belaka. Akhirnya ia tidak menikmati pekerjaannya.

Keren atau tidaknya suatu pekerjaan yang sedang kita lakukan pada akhirnya kembali pada bagaimana kita memberinya makna. Keren itu ada di dalam diri kita, bukan sesuatu yang mesti kita bangun berdasarkan ukuran-ukuran yang ditetapkan orang lain. Pekerjaan kita akan menjadi keren kalau kita bisa mengembangkan sikap-sikap positif dalam bekerja.

Koesnadi Hardjasoemantri

Suatu pagi di tahun 2007, seorang teman menelepon saya. “Pak Koes meninggal dalam kecelakaan pesawat,” katanya memberi kabar. Tak kuasa saya menahan air mata. Saya menangis tersedu-sedu. Orang yang menjadi mahasiswa pada akhir dekade 80-an hingga 90-an pasti mengenal Koesnadi Hardjasoemantri, yang biasa dipanggil orang Pak Koes. Saya sendiri tak begitu intens bergaul dengan Pak Koes. Tapi rasanya begitu dekat dengan beliau. Kepergian beliau menyisakan sebuah kehampaan yang besar.

Saya mengenal Pak Koes saat baru belajar saja aktivis kampus. Saat jadi mahasiswa tahun ke 2, saya menjadi ketua panitia sebuah seminar. Kebetulan waktu itu kami hendak mengundang Pak Alwi Dahlan sebagai pembicara. Mengetahui beliau adalah sahabat Pak Koes, saya menghubungi Pak Koes yang waktu itu adalah Rektor UGM.

Saya saat itu seorang anak muda yang gampang gugup karena tak percaya diri. Bertemu dengan PD III di fakultas saja saya sudah gugup dan berkeringat dingin. Bagaimana nanti kalau bertemu Pak Koes? Pak Koes waktu itu baru saja menjadi berita besar, saat dia mengantarkan mahasiswa berdemo ke gedung DPRD. Orang besar beliau itu. Dan saya harus menemui orang besar itu. Bagaimana saya tak gugup?

Tapi ternyata menemui Pak Koes bukan perkara sulit. Saya hubungi sekretaris beliau, dan segera kami dua orang wakil panitia dapat jadwal menghadap. Jadwal yang sangat singkat, hanya beberapa menit, di tengah kesibukan Pak Koes. Tapi beberapa menit itu luar biasa penting bagi hidup saya. Pak Koes ternyata begitu sederhana. Jauh dari kesan pejabat tinggi. Bicaranya to the point, tak banyak basa-basi. Dan beliau sungguh bersahabat.

Singkat cerita, Pak Koes mau membantu meneleponkan Pak Alwi Dahlan. “Begitu cara yang benar kalau mau menghubungi orang tua, Dik.” kata Pak Koes menasehati kami. “Kalian ini anak-anak saya, Pak Alwi itu teman saya. Tak sopan kalau kalian langsung menghubungi beliau. Biar saya yang kulonuwun dulu, setelah itu baru kalian yang bicara langsung.”

Itulah salah satu prinsip Pak Koes. Di saat lain beliau bercerita bahwa ketika beliau mengantarkan mahasiswa bedemo ke DPRD, prinsipnya juga seperti itu. “Saya ingin anak-anak saya dihormati orang. Kalau mereka datang, langsung mengetuk pintu institusi negara, mereka mungkin akan diabaikan. Lalu mereka perlu membuat sesuatu untuk menarik perhatian, yang bisa-bisa itu tindakan anarkis. Kalau saya antar mereka, orang pasti akan membuka pintu sehingga anak-anak saya bisa masuk dengan sopan.”

Setelah pertemuan pertama itu saya beberapa kali bertemu Pak Koes. Di antaranya di rumah dinas beliau di Bulaksumur. Kebanyakan pagi-pagi, usai salat subuh. “Kalau lampu ruang tamu saya sudah menyala di subuh hari, itu artinya saya siap terima tamu. Demikian pula di malam hari.” Begitu kata beliau. Tanpa protokol, kami bisa langsung menemui beliau di rumah.

Setelah beliau tak jadi Rektor saya sempat beberapa kali lagi bertemu. Terutama dengan posisi beliau sebagai ketua panitia pembangunan mesjid kampus UGM. Beberapa pertemuan terjadi di rumah kediaman beliau di Timoho.

Pertemuan pertama saya dengan Pak Koes yang hanya beberapa menit itu luar biasa efeknya. Sejak itu saya jadi percaya diri. Tak pernah lagi saya gugup ketika bertemu dengan orang-orang besar. Tak cuma itu. Banyak pelajaran yang saya ambil dari beliau.

Salah satu nasehat beliau pada kami yang saat itu suka mengritik pemerintah adalah, bicaralah dengan sopan. “Ada perbedaan antara bicara keras dengan bicara kasar.” kata Pak Koes. “Bicara keras itu menyatakan ketimpangan secara apa adanya, tanpa ditutup-tutupi. Tapi tidak perlu menggunakan kata-kata kasar.”

Pak Koes di saat lain juga bercerita bahwa dengan berbagai kesibukan beliau masih mengajar dan  membimbing skripsi mahasiswa S1. Banyak orang, cerita Pak Koes, yang tak mau lagi mengajar/membimbing mahasiswa S1 kalau sudah profesor. Padahal justru profesor diperlukan untuk itu.

Kesederhanaan Pak Koes, sikap bersahabatnya, menurut saya semua bersumber pada satu hal: akal sehat. Bila kita pertimbangkan segala sesuatu dengan akal sehat, tak akan ada kesombongan, tak kan ada jarak antar manusia. Ya, karena kita ini semua hanya manusia.

Terima kasih, Pak Koes.

Macet Libur Panjang

tol

 

 

 

 

 

 

 

Kejadian berulang setiap libur akhir pekan panjang, jalan macet ke arah luar kota Jakarta. Imbasnya tentu sampai ke dalam kota. Tapi apa sebabnya? Itu masih misteri.
 
Sejak awal pekan saya sudah merencanakan untuk liburan ke Cirebon. Saya sudah antisipasi untuk berangkat lebih cepat, karena kalau petang pasti macet parah. Jam 11.20 lewat saya sudah keluar dari kantor menuju arah Cikarang. Sekitar jam 12 di Bekasi Barat sudah macet, meski tidak parah. Walhasil, jarang dari kantor ke rumah yang dalam kondisi lancar bisa ditempuh 1 jam, molor menjadi 1,5 jam. Saya langsung menjemput anak-anak ke sekolah.
 
Sekitar jam 1 siang dari pantauan Google Map sudah terlihat kemacetan di suatu titik menjelang simpang susun Karawang Timur. Saya buru-buru bersiap, dan jam 3 keluar dari rumah. Begitu masuk tol di simpang susun Cikarang Timur langsung berhadapan dengan kemacetan parah. Jalan merambat, 1 jam berlalu, belum juga tiba di Karawang Barat. Ketika akhirnya lolos dari kemacetan, waktu sudah menunjukkan pukul 5 petang. Jadi jarak tempuh kurang dari 20 km harus ditempuh dalam waktu 2 jam.
 
Ada apa di titik sumber kemacetan? Tidak ada apa-apa. Di situ hanya ada tempat istirahat kecil yang terlihat padat. Orang parkir sampai luber ke jalan. Tapi apa yang menyebabkan kemacetan? Tidak ada yang khusus.
 
Ada beberapa titik kemacetan sepanjang jalan tol ke arah timur dari Jakarta. Pertama di Bekasi Barat, setelah simpang susun Cikunir. Ada tikungan di situ, mirip dengan tikungan di Halim. Di situ selalu jadi titik pangkal kemacetan yang imbasnya akan sampai ke simpang susun Halim, terus merambat sampai ke Semanggi dan Tomang. Kemacetan di simpang susun Halim akan berimbas juga ke jalan tol dalam kota, hingga ke Kelapa Gading, Priok, Pluit, dan Bandara. Kalau sudah macet di Bekasi Barat, maka seluruh jalan utama Jakarta akan macet parah.
 
Titik kedua adalah gerbang tol Cikarang Utama. Ini kemacetan karena orang harus berhenti sejenak untuk mengambil kartu tol. Mesin pengeluar kartu lambat reaksinya, sehingga jadi biang kemacetan.
 
Titik ketiga, tempat istirahat sebelum Karawang Timur tadi.
 
Kondisi terparah dicapai ketika ekor kemacetan Karawang Timur sampai menyentuh Cikarang Utama, ekor Cikarang Utama menyentuh Bekasi Barat, dan imbas macet Bekasi Barat sampai ke Tomang di satu sisi, Kelapa Gading sampai bandara, di sisi lain.
 
Apa yang dilakukan polisi? Nyaris tidak ada. Biasanya mereka hanya memberi sedikit perhatian di Cikarang Utama. Di titik macet Karawang Timur tak terlihat polisi yang mengatur.
 
Kemacetan berulang ini terjadi karena kondisi jalan, seperti tikungan Bekasi Barat, dan gerbang tol Cikarang Utama. Tapi juga disebabkan oleh perilaku pengemudi. Parkir seenaknya di bahu jalan tol adalah sebab utama kemacetan. Saat macet, 2 jalur jalan dipenuhi truk yang akselerasinya rendah, sehingga memperparah kemacetan. Lalu kebiasan lain, “melihat kiri kanan”. Tanpa sadar orang membuat kemacetan dengan cara ini. Sangat sering terjadi kecelakaan di suatu arah jalan tol juga menyebabkan kemacetan di arah sebaliknya. Kenapa? Karena pengendara di arah sebaliknya meski tidak terhambat cenderung memperlambat kendaraan untuk melihat apa yang terjadi.
 
Periku lain adalah zigzag dan saling serobot. Kemarin selama jarak tempuh Cikarang-Karawang ada beberapa kali mobil bersirine memaksa lewat bahu jalan sebelah kanan, diikuti beberapa mobil yang berlagak seolah bagian dari rombongan.
 
Jadi, kenapa macet parah? Kita yang membuatnya. Perilaku kita dalam mengemudi membuat kita susah sendiri. Ditambah ketidakpedulian aparat. Titik-titik kemacetan seakan tidak pernah dianalisa dan dicarikan solusinya. Kita seperti terbiasa menganggap sesuatu sebagai bencana “langganan” tanpa tahu apa penyebabnya, dan bagaimana menyelesaikannya.
 

Anda Orang Indonesia, Bertindaklah sebagai Orang Indonesia

Ada yang nulis panjang lebar soal Anda muslim, bertindaklah selaku muslim. Intinya, kalau muslim ya haram memilih pemimpin non muslim. Ya terserah deeeeh.
 
Kalau saya mah lebih sederhana. Anda orang Indonesia, bertindaklah seperti orang Indonesia. Dalam memilih pemimpin panduan kita jelas, konstitusi. Dalam konstitusi kita setiap warga negara berkedudukan sama di depan hukum. Sama dalam hal hak dan kewajiban. Hak untuk memilih dan dipilih. Hak itu tidak dibedakan atas dasar suku, agama, ras, maupun golongan.
 
Saya orang Indonesia sekaligus seorang muslim. Mematuhi konstitusi tidak menjadikan saya ingkar terhadap Islam. Kalau Anda merasa dalam bernegara dan mematuhi konstitusi Anda harus melanggar syariat Islam, maka saya anjurkan Anda untuk mengubah konstitusi. Oh ya, golongan ini sebenarnya sudah berusaha untuk itu, melalui amandemen UUD, dengan mencoba memasukkan unsur-unsur 7 kata dari Piagam Jakarta. Hasilnya? Kagak laku. Artinya apa? Orang-orang muslim kebanyakan memang tidak butuh negara Islam, kok.
 
Jadi, bagaimana? Anda tidak punya pilihan lain. Patuh pada konstitusi, atau pindah ke negara dengan konstitusi berdasarkan syariat Islam. Asal tahu saja, kalau Anda misalnya pindah ke Saudi, boro-boro mereka mau terima.
 
Tapi apa salahnya kalau seorang muslim menginginkan pemimpin muslim juga? Tidak salah. Yang salah adalah menyalah-nyalahkan orang yang bersikap sebaliknya. Mau debat fiqh? Perdebatannya sudah berlangsung berabad-abad. Kubunya tetap ada 2. Yang membolehkan ada, yang melarang ada. Emang ada yang mebolehkan? Yaelaaah, baca napa?
 
Yang menganggap yang membolehkan itu sesat dan sebagainya itu sebenarnya adalah orang yang sama sekali tidak mengerti Islam. Orang yang pernah ngaji dengan benar akan tahu ushul fiqh. Orang yang pernah ngaji ushul fiqh akan tahu bahwa pendapat seseorang yang faqih tidak bisa menyalahkan pendapat faqih yang lain. Nah, kita, orang awam, tinggal ikut pada pendapat-pendapat itu. Bah, kalau kelasnya lulusan ITB mau nyalahin, addduuuuuh deh.
 
Jadi, kalau ada yang bilang seolah-olah memilih pemimpin dari kalangan non muslim adalah sikap yang tidak mencerminkan kemusliman, kira-kira dia sedang mengatakan bahwa kemusliman kita diragukan atau tidak sah. Lhaaaaa, emang situ siapa? Seorang mujtahid beneran tidak akan berkata seperti itu. Tapi kalau mujtahid karbitan lulusan pesantren kilat, bisa saja sih.
 
Saya orang Indonesia, saya mematuhi konstitusi. Banyak orang Indonesia, cari makan di Indonesia, tapi memimpikan jadi warga negara lain, atau berpikir seperti warga negara lain. Ini manusia salah kamar. Atau, ini manusia jenis benalu.