Category Archives: Sosial

Ahok dan Kerumitan Masalah Pelacuran

Debat antar calon Gubernur DKI memunculkan nama Alexis. Ini adalah tempat pelacuran kelas atas. Kenapa ini muncul dalam debat? Tentu saja dalam rangka menjatuhkan Ahok. Ahok pernah mengemukakan gagasan tentang legalisssi pelacuran. Ini sebenarnya gagasan biasa. Sebagaimana nanti akan kita bahas lebih detil, soal pelacursn adalah soal pilihan antara menyediakannya secara resmi dalam suatu ruang terbatas dengan harapan bisa dipantau dan dikontrol, atau menganggapnya tak ada. Ini sebenarnya gagasan biasa dalam penanganan masalah sosial. Cuma, bagi kalangan yang merasa paling bermoral, lebih tegasnya bagi umat Islam, gagasan ini dibuat personal. Seolah Ahok itu memang penggemar pelacuran, atau mau merusak moral bangsa dengan pelacuran.

Orang-orang sering berpikir dengan jalan pintas. Bagaimana menghilangkan pelacuran? Tutup rumah bordil atau lokalisasi. Bagi mereka, selama tidak ada tempat yang terang-terangan menyediakan pelacur, maka tidak ada pelacuran. Persis sama dengan orang yang menyembunyikan sampah di bawah karpet. Selama tak ada sampah terlihat, mereka boleh merasa tenang, menganggap sampah itu tak ada.

Belasan tahun yang lalu, lokalisasi Kramat Tunggak ditutup. Orang-orang senang. Terlebih di lahan itu dibangun Islamic Center. Ismail Yusanto, tokoh HTI itu, waktu itu berkomentar di depan saya,”Inilah bagusnya Sutiyoso.” Orang gampang terhibur, dan melupakan aspek lain kalau sudah begini. Artinya, kebijakan macam begini bisa jadi bedak tebal untuk menutupi borok yang lain.

Apakah dengan ditutupnya Kramat Tunggak lantas Jakarta jadi bebas pelacur? Tidak. Bahkan berkurang saja pun tidak. Menemukan tempat pelacuran di Jakarta itu lebih mudah dibanding menemukan penjual pisang goreng. Ada yang terang-terangan, pilih langsung pakai. Ada yang berkedok panti pijat atau salon.  Belum lagi penyediaan jasa pelacuran online, serta pelacuran yang sifatnya pribadi.

Kramat Tunggak ditutup, apakah pelacurnya lantas bertobat semua? Tidak. Mereka hanya berpindah warung, ke rumah-rumah di gang sempit, atau di pinggir rel kereta. Mereka beroperasi di kawasan pemukiman, disaksikan kehadirannya oleh anak-anak. Orang-orang bermoral tadi mengabaikan fakta ini. Bagi mereka yang penting tak ada lagi tempat pelacuran resmi.

inilah beda mereka dengan Ahok. Ahok adalah orang yang tak munafik. Ia mau mengakui fakta itu, mencoba mencari solusi terbaik. Salah satunya dengan melokalisir masalahnya, sehingga mudah dipantau dan dikontrol. Tapi itu tadi, kalangan moralis langsung menuduh dia macam-macam.

Mungkinkah pelacuran dihilangkan? “Nabi pun tak sanggup memberantasnya,” kata Ahok. Orang Islam marah lagi, menuduh Ahok melecehkan nabi. Padahal ia bicara tentang nabi dalam ajaran Kristen, yaitu Nabi Hosea. Tak ada sangkut pautnya dengan nabi Islam. Itu adalah ungkapan Ahok untuk menggambarkan rumitnya soal pelacuran. Senada dengan ungkapan bahwa pelacuran adalah profesi yang usianya sudah setua sejarah umat manusia. Artinya, di mana ada manusia, di situ ada pelacur.

Pelacuran adalah soal permintaan dan penawaran. Permintaan selalu ada. Selama masih ada laki-laki horny, pasti ada yang permintaan pelacur. Tidak ada satu agama pun, atau satu orang suci pun yang pernah hadir dan membuat pelacuran itu sirna di suatu wilayah.

Bagaimana dengan supply atau penawaran? Buatlah survey kecil, datangi rumah-rumah pijat, dan lakukan wawancara kepada para pemijat. Pofil umumnya adalah, usia antara 18-30, janda beranak atau tidak beranak. Menikah di usia muda, kemudian suaminya pergi entah ke mana. Cerita klise ini mungkin akan Anda dengar dari 40% responden. Lalu lakukan survey ke kampung-kampung di Pantura, atau ke Sukabumi. Dengan mudah kita akan temukan fakta pendukung soal kawin muda ini.

Belum lagi soal remaja di rumah tangga yang hancur, kemudian mencari tempat pelarian dengan melacur. Remaja yang terlibat narkoba, atau remaja hedonis yang menjual diri sekedar agar bisa selalu punya HP jenis paling mutakhir.

Semua itu adalah faktor supply bagi dunia pelacuran, yang tidak serta merta sirna dengan ditutupnya rumah bordil atau lokalisasi. Jadi, menutupnya sama sekali bukan solusi bagi masalah ini.

Masih ada sisi lain, yaitu korupsi. Mengapa Alxis tidak ditutup? Coba tanya balik kepada yang mengajukan pertanyaan itu, tahukah kamu ada berapa oknum berbintang yang jadi backing bisnis itu? Ada berapa petinggi imigrasi yang berperan mengamankan “izin kerja” bagi pelacur-pelacur asing yang bekerja di situ? Bahkan, mungkin, ada berapa petinggi organisasi agama yang harus dibungkam dengan uang supaya tidak rewel? Atau, lebih tegas lagi, kenapa sih sebelum ini, waktu Gubernur DKI muslim semua, tidak ada keributan publik menuntut penutupan Alexis? Ahok dicerca karena tidak menutup Alexis, padahal ia sudah menutup Kalijodo. Adalah yang bertanya, kenapa Foke dulu tidak menutup Kalijodo?

Jadi, berbagai keributan soal pelacuran ini jauh dari usaha mencari solusi. Ini hanya soal bagaimana menjatuhkan Ahok saja.

Hakikat Keyakinan

Keyakinan bukanlah fakta objektif. Karenanya setiap keyakinan pasti menimbulkan ketidakyakinan di pihak lain. Air laut itu asin. Itu adalah fakta objektif, bukan keyakinan. Maka tidak ada seorang pun yang akan membantahnya. Sedangkan keyakinan, pasti akan punya pembantah.

Sule punya keyakinan bahwa dirinya tampan. Sejumlah orang mungkin akan setuju. Tapi pasti ada orang lain yang tidak setuju bahwa Sule itu tampan. Itu adalah sesuatu yang alami. Nah, kalau ada yang tidak setuju soal ketampanan Sule itu adalah sesuatu yang alami, perlukah Sule atau siapapun yang setuju dengannya marah ketika ada orang lain yang menganggap bahwa Sule itu tidak tampan? Tidak perlu sebenarnya.

Itu sebenarnya berlaku pula untuk soal keyakinan tentang Tuhan dan agama, yang biasa kita sebut iman. Ada orang beriman pada Allah. Ada pula orang yang tidak beriman pada Allah. Allah yang diimani itu sendiri mengatakan bahwa ada orang yang tidak beriman pada Allah. Allah menyebutnya kafir. Artinya, kewujudan atau eksistensi orang yang tidak beriman pada Allah itu seharusnya diakui secara alami.

Kunsekuensinya, kalau ada orang beriman pada Allah, dan ia yakin bahwa Allah itu ada, seharusnya ia tak perlu merasa keyakinannya diusik ketika ada orang yang yakin bahwa Allah itu tidak ada. Kalau keyakinan orang lain itu dia anggap usikan terhadap keyakinannya, ia sebenarnya sedang membantah keterangan dari Tuhannya sendiri, yang mengatakan bahwa orang yang tidak beriman itu ada.

Demikian pula halnya soal nabi dan kitab suci. Anda menganggap nabi Anda itu adalah orang suci. Bagi orang lain, ia bukan orang suci. Pada saat yang sama, orang lain menganggap Yesus itu Tuhan. Anda tidak menganggapnya Tuhan. Anda marah kalau nabi Anda tidak dianggap orang suci, tapi Anda terus menerus merapalkan keyakinan Anda bahwa Yesus itu bukan Tuhan. Anda sehat?

Anda yakin bahwa kitab suci Anda benar. Orang lain bahkan tidak menganggapnya kitab suci. Anda tidak perlu marah, karena sekali lagi, itu soal yang alami saja. Kalau semua orang sama dengan Anda, menganggap bahwa kitab suci itu benar, maka itu bukan lagi keyakinan, tapi fakta. Ingatlah, bahwa pada saat yang sama Anda juga tidak menganggap kitab suci mereka sebagai kitab suci. Kalau Anda merasa berhak marah pada orang, maka orang pun sebenarnya berhak marah terhadap Anda.

Hak orang lain untuk menyatakan keyakinannya, sama kuatnya dengan hakmu untuk menyatakan keyakinanmu. Artinya, kalau ia punya keyakinan yang bertentangan dengan keyakinanmu, ia tidak sedang menista keyakinanmu. Ia cuma sedang menunaikan haknya, sama seperti engkau sedang menunaikan hakmu. Kau dan dia harus berbagi ruang.

Bagi saya, tidak ada penistaan keyakinan. Yang ada hanyalah perbedaan keyakinan. Berbeda itu bukan menista. Karena itu, mari sama-sama ingat, bahwa ketika kita menyatakan keyakinan, boleh jadi itu akan menyinggung keyakinan orang lain. Karena itulah, amankan keyakinan Anda itu di ruang-ruang pribadi.

MUI, Coba Haramkan Rumah Sakit dan Sekolah Kristen

Memakai atrbut Natal, menurut fatwa MUI haram hukumnya. Adalah dalilnya? Dalil yang dipakai MUI adalah “dalil karet” seperti dalil soal meniru suatu kaum. Saya senut dalil karet, karena dalil ini sering dipakai  untuk mengharamkan banyak hal, tapi sementara itu banyak hal yang sebenarnya terkena dalil yang sama, tapi dinikmati oleh umat Islam.

Memakao atrbut Natal menurut MUI adalah sesuatu yang bisa merusak akidah. Bagaimana prosesnya? Melalui ikut-ikut dan tiru-tiru tadi. Mengikuti berbagai tradisi terkait Natal sama seperti ikut merayakan kelahiran Yesus, Sang Juru Selamat, Anak Tuhan. Dalam pandangan MUI, memakao atribut Natal itu adalah tanda persetujuan terhadap keyakinan bahwa Yesus itu adalah anak Tuhan. Nyambung? Menurut saya tidak. Bagi saya fatwa ini adalah produk nalar yang tidak nyambung.

Sebenarnya ada hal lain yang kalau logika yang sama dipakai, jauh lebih tepat dan lebih penting untuk diharamkan oleh MUI, karena potensi perusakan akidah padanya jauh lebih besar. Hal itu adalah rumah sakit dan sekolah Kristen. Kita semua tahu, pengurius MUI juga tahu, ada jutaan muslim Indonesia yang berobat di rumah sakit Kristen, dan menyekolahkan anak di sekolah Kristen.

Entah ada berapa banyak rumah sakit Kristen di Indonesia. Rumah sakit Kristen itu tidak hanya ada, tapi juga pelopor. Hampir di setiap kota akan kita temukan rumah sakit tua, rumah sakit Kristen. Rumah sakit itu sudah ada sebelum pemerintah sanggup mendirikan rumah sakit untuk rakyat.

Contohnya, Rumah Sakit St. Antonius, Pontianak. Waktu kecil saya mengenalnya sebagai Rumah Sakit Sungai Jawi. Hingga tahun 70-an, inilah satu-satunya tumpuan harapan orang se-provinsi. Ke sanalah mereka datang untuk berobat.

Banyak cerita miring soal rumah sakit Kristen ini yang beredar di kalangan umat Islam. Rumah sakit Kristen diamggap sebagai pusat Kristenisasi. Melalui pelayanan kesehatan ajaran Kristen disebarkan. Orang miskin diberi layanan gratis, dengan syarat harus mau masuk Kristen. Konon banyak yang pindah agama karena ini. Orang-orang yang sedang sekarat didatangi, dibaptis secara paksa, agar ia mati dalam keadaan Kristen.

Benarkah? Entahlah. Saya tidak pernah menyaksikan, juga tidak pernah mendengar cerita ini dalam keluarga saya. Padahal dulu banyak keluarga saya yang berobat ke rumah sakit Kristen. Termasuk di antaranya yang berobat gratis. Tidak pernah ada cerita mereka ditawari masuk Kristen.

Sekolah Kristen juga sama, ada di hampir setiap kota. Lebih hebat lagi, banyak dari sekolah ini yang merupakan sekolah unggulan. Banyak orang muslim menyekolahkan anaknya di sekolah Kristen dengan pertimbangan itu, mencari sekolah yang bagus.

Nah, rumah sakit dan sekolah Kristen tentu jauh lebih merusak akidah ketimbang topi Santa Klaus yang dipakai pada perayaan Natal. Di setiap ruang rawat rumah sakit terpampang salib. Di sekolah-sekolah malah diajarkan pelajaran agama Kristen kepada anak-anak muslim.

Kenapa MUI diam saja? Kenapa tidak ada fatwa haram berobat di rumah sakit Kristen, dan sekolah di sekolah Kristen? Dari kalangan umat sebenarnya sudah banyak tuntutan agar MUI mengeluarkan fatwa. Saya ingat betul kegelisahan almarhum Husen Umar, aktivis Dewan Dakwah yang juga seorang politikus. Di tahun 90-an dalam sebuah perbincangan dengan saya, ia mengatakan telah mendorong MUI untuk mengeluarkan fatwa.

Entah mengapa fatwa tidak keluar. Alih-alih berfatwa, para politikus Islam melakukan manuver politik. Dirumuskanlah UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam UU itu ada pasal yang mewajibkan sekolah-sekolah untuk memberikan pelajaran agama sesuai dengan agama peserta didik. Sasaran tembaknya jelas sekolah Kristen. Dengan begitu sekolah-sekolah Kristen akan dipaksa menyediakan guru agama Islam di sekolah mereka. Hal ini ditolak oleh pihak Kristen.

Bagi saya ini manuver konyol. Orang Islam meminjam tangan negara untuk mengatur urusan internal agama lain. Ini memang biasa dilakukan politikus Islam.  Herannya, kenapa tidak ada fatwa haram? Mungkin karena MUI sadar bahwa Indonesia kekuarangan sekolah dan rumah sakit. Tentu juga mereka sadar bahwa umat Islam, meskipun mayoritas, yang jumlahnya mencapai 200 juta orang, tidak sanggup membangun banyak sekolah dan rumah sakit dalam jumlah memadai untuk menutupi kekurangan itu.

Seharusnya MUI itu malu. Mereka rewel benar pada soal tetek bengek atribut Natal. Tapi mereka tidak punya daya upaya untuk menolak sesuatu yang jauh lebih mendangkalkan akidah, terjadi di depan mereka. Atau, mungkin saja, fatwa haram atribut Natal itu adalah cara mereka mencari kepuasan atas hal yang tak sanggup mereka lakukan, yaitu memfatwa haram rumah sakit dan sekolah Kristen tadi.

Kecanduan Hoax Agama

Ada orang yang memposting berita di wall saya, tentang ilmuwan Yahudi yang katanya masuk Islam setelah menemukan fakta bahwa penetapan masa iddah punya latar belakang ilmiah. Dengan sekali klik di Google segera saya temukan bahwa berita ini hoax. Kemudian posting itu saya jadikan bahan olok-olok. Tak lama kemudian saya kena blokir.

Pemosting berita ini sejak beberapa hari yang lalu lumayan aktif berkomentar di posting saya. Isinya memang kebanyakan berusaha “mendakwahi” saya. Salah satunya, ketika saya menulis tentang anak-anak presiden, dia menasehati saya agar tidak melakukan ghibah dan fitnah terhadap anak-anak Soeharto. Posting hoax ini sepertinya sebuah usaha untuk “menyadarkan” saya.

Beberapa hal terkait sikap pemosting ini menarik perhatian saya. Pertama, ia tidak melakukan pelacakan soal kesahihan berita itu terlebih dahulu, padahal dengan pelacakan sederhana bisa segera ditemukan bahwa itu hoax. Atau, boleh jadi ia sudah pernah membaca bahwa berita ini hoax, tapi mengabaikannya. Kedua, ia segera memblokir saya setelah saya tunjukkan link yang menyatakan bahwa berita ini hoax.

Dua sikap di atas boleh jadi sikap dasar para penggemar hoax. Mereka tidak mencari tahu kesahihan berita, bahkan tidak peduli setelah tahu berita itu tidak sahih. Mereka hanya menikmati isi hoax, dan berharap orang lain juga ikut menikmatinya. Orang-orang ini sepertinya tidak mencari kebenaran, tapi sekedar mencari kenikmatan ketika konsep yang mereka anut cocok dengan “fakta”, meski “fakta” tersebut palsu.

Karakter ini mirip dengan pecandu narkotika. Para pecandu itu menikmati hal-hal yang semu. Mekanisme kenikmatan yang sahih adalah seseorang mendapatkan sesuatu seperti makanan, seks, atau hal lain yang dia sukai di alam nyata, kemudian ada hormon tertentu yang bekerja di otak, menghasilkan rasa nyaman. Dalam hal pecandu narkotika, dilakukan jalan pintas: hormon kenikmatan dihasilkan melalui obat kimiawi, sehingga tidak diperlukan kejadian di ruang nyata. Para pecandu hoax menadapatkan kenikmatan itu dari ruang nyata, tapi pemicunya adalah hal-hal yang tidak nyata, atau palsu.

Apa yang terjadi pada orang-orang ini? Mereka mempercayai serangkaian kesimpulan yang diperoleh bukan dari proses bernalar, melainkan proses yang bersifat pseudologis. Saya sebut psueudologis karena sekilas kelihatannya prosesnya seperti logis, hanya saja biasanya didasari oleh asumsi atau basis fakta yang tidak sahih.

Beberapa kesimpulan yang dianut secara luas di kalangan umat Islam antara lain adalah:
1. Quran sesuai dengan sains, syariat Islam memuat hal-hal yang secara ilmiah pun terbukti benar.
2. Agama-agama samawi semuanya memuat ajaran yang sama dengan ajaran Islam, namun diselewengkan oleh umatnya. Demikian pula, kitab-kitab suci terdahulu, isinya sama dengan Quran.

Orang-orang itu mencari fakta-fakta untuk mendukung kesimpulan yang mereka anut. Sayangnya, kebanyakan “fakta” pendukung itu palsu. Tapi itu tadi, sahih atau palsu tidak terlalu penting. Mereka tetap mendapat kenikmatan dari hal-hal yang mereka temukan.

Semangat 212++

Ada begitu banyak umat Islam yang kaget sendiri dengan aksi 411 dan 212. “Ternyata kita bisa kumpul bareng, rame-rame. Ternyata kita bisa bersatu.” Semangat itu kini sedang coba dipelihara. Ibarat api yang sudah menyala besar, jangan sampai mengecil lagi. Maka berbagai upaya dilakukan. Salat subuh berjamaah, tabligh akbar di Pulau Pramuka, dan seterusnya.

Ya, 212 itu luar biasa. Kok ada ya, orang mau jalan kaki dari Ciamis ker Jakarta? Ini demi Islam, Saudara! Hebat.

Riak kecil dari acara 212 adalah soal Sari Roti. Roti itu kini diboikot, karena dianggap tidak mendukung atau tidak bersimpati pada perjuangan umat. Ini pun menimbulkan kesadaran tersendiri. “Kok umat Islam ini bikin roti aja nggak sanggup? Roti yang dimakan tiap hari aja mesti buatan kafir Jepang. Bagaimana ini?”

Jadi, mari kita bikin roti. Roti buatan muslim, jelas halal. Pekerja pembuat roti, muslim semua. Yang menjual juga muslim semua. Masak sih nggak bisa laku, di tengah negara dengan 200an juta muslim? OK, let’s do it! Nama rotinya Maida. Yang membuat Muhammadiyah.

Akankah roti ini sukses menjadi roti nasional? Nah, di sini kita perlu belajar. Di titik ini semangat 212 sepertinya tidak cukup. Perlu semangat 212++. Atau malah 212+++++++++. Bagaimana berpartisipasi dalam acara 212? Datang saja. Dari Ciamis jalan kaki pun, syaratnya satu, datang saja. Jalan kaki saja, tidak memerlukan pikiran yang panjang betul. Tidak perlu ilmu yang banyak. Waktunya pun, katakanlah 7 atau 10 hari saja.

Berjualan roti itu berbeda, Saudara. Ini termasuk bisnis ritel. Bisnis eceran. Apa kunci suksesnya? Kunci utamanya, barangnya ada. Lho, kan sudah ada ini? Bukan itu maksudnya. Ada itu artinya saat siapapun, di manapun, kapan pun, hendak membeli, barangnya ada.

Saya kebetulan pernah bekerja di grup perusahaan obat nyamuk. Presiden direktur perusahaan kami yakin barang yang kami buat itu bagus, kualitas tinggi, dan aman. Saya juga merasakannya. Setidaknya, baunya tidak membuat sesak napas. Tapi ada satu masalah besar. Barangnya tidak tersedia. Setiap saya mau beli di mini Indomaret atau Alfamart dekat rumah, tidak ada. Kalaupun ada, variannya terbatas. Hanya aerosol yang ada, tipe liquid tidak. Padahal saya butuh keduanya.

Saya telepon presiden direktur. “Bagaimana ini? Saya mau beli, tapi barangnya tidak ada.” Kata dia,”Maaf, kita tidak cukup modal untuk membuat barang sejumlah yang cukup untuk hadir di semua toko.”

Ini tembok besar yang harus dilewati oleh pebisnis yang mau bermain di bisnis barang konsumsi (consumer’s good). Ia harus sanggup membuat barang dalam jumlah besar, untuk menjamin ketersediaan. Sudah dibuat dalam jumlah besar, eh, ternyata tidak laku. Bangkrut dalam sekejap.

Lihatlah Sari Roti, atau Indomie. Ke manapu kita pergi, kita bisa temukan. Di kampung terpencil, di tepi hutan sekali pun, ada. Bisa bayangkan jaringan dan sistem distribusinya?

Itu semua tidak bisa dicapai dengan kerja 7 ata 10 hari seperti orang jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta. Ini kerja besar, dengan modal besar, memerlukan banyak pikiran, dan perlu waktu lama. Jangan kira asal modal besar saja, dengan menjentikkan jari, semua bisa terlaksana.

Sari Roti ini mulai dijual tahun 1996. Sudah 20 tahun, ya. Saya ingat, tahun 1999, ketika sedang berlibur di rumah mertua di Setiabudi, Jakrta, saya pertama kali mendengar suara tet-tot bel sepeda penjual roti ini. Sejak itu setiap saya menginap di rumah mertua, saya mendengar suara ini. Suara yang menjadi begitu akrab di telinga, menjadi bagian dari kehidupan kita.

Sederhana? Sepertinya begitu. Tapi bagi yang paham bisnis ritel, ini kerja besar di bidang marketing dan logistik. Kerja besar itu dilanjutkan saat mini market mulai menjadi trend sejak 12 tahun yang lalu. Sari Roti masuk di setiap toko Alfamart dan Indomaret, membuatnya bisa dijangkau oleh siapa saja.

Nah, sanggupkah roti Maidah menjadi seperti itu? Dalam hal ini semangat bela Islam 212 saja sangat tidak cukup. Perlu modal besar, otak cerdas, kesabaran tinggi, oleh banyak orang. Seluruh hadirin 212 (istilah kerennya “Alumni 212”) berkumpul, berpikir bersama, bekerja keras dengan sabar selama 10 tahun, mungkin bisa mewujudkannya. Tapi mungkin itu pun belum cukup.

Itu baru urusan roti. Belum lagi urusan pendidikan, kesehatan, manufaktur, tekstil dan garmen, air bersih, tata kota, pariwisata, dan masih ada puluhan urusan lain. Ingatlah betapa, misalnya, umat Islam mengeluh soal Kristenisasi di jalur pendidikan, tapi tak berdaya membuat sekolah-sekolah berkualitas sebanyak yang dibuat oleh orang Kristen. Demikian pula halnya dengan rumah sakit.

Ini catatan kecil untuk mengingatkan bahwa aksi membela Islam itu adalah kerja yang jauh lebih besar dari aksi 212. Kalau Anda terperangah dengan aksi itu, maka mungkin Anda akan kena serangan jantung melihat skala kerja Sari Roti tadi.

Aksi 212 itu energinya adalah emosi. Umurnya tak panjang. Yang panjang umur itu komitmen. Nah, siapa yang punya komitmen untuk aksi 212+++++++++++?

Tarik napas, sruput kopi Anda, diiringi sepotong Sari Roti. Mari kita bekerja.