Category Archives: Sosial

Ralitas Bumi Datar

Ada sebuah buku berjudul “Matahari Mengelilingi Bumi”. Buku ini menjabarkan pandangan sekelompok orang tentang sistem tata surya, berbasis pada kitab suci yang mereka anut. Menurut pandangan mereka, bukan bumi yang berputar pada porosnya serta berevolusi mengelilingi matahari, melainkan mataharilah yang beredar mengelilingi bumi.

Demikian pula, ada sejumlah orang yang kukuh pada pandangan, bahwa bumi ini datar, bukan bulat seperti bola.

Benarkah kitab suci menuliskan hal itu? Ya. Sejauh yang sudah saya baca, seperti itulah isinya. Bumi ini terhampar, matahari bergerak, menyebabkan terjadinya siang dan malam. Seperti itulah yang tertulis

Ada sekelompok orang yang keberatan terjadap cara pandang seperti ini. Kata mereka, tidak tegas tertulis bahwa bumi ini datat, atau matahari bergerak. Mereka bahkan mencari-cari dan menemukan ayat yang mengatakan bahwa bumi itu bulat.

Orang-orang ini sebenarnya tidak sedang menafsir teks kitab suci mereka. Mereka sedang mencocokkan narasi kitab suci dengan pengetahuan mereka. Bagi saya sederhana saja. Kalau memang benar ada pernyataan dalam kitab suci bahwa bumi ini bulat, tentu manusia tidak perlu menunggu sampai abad pertengahan untuk sadar bahwa bumi ini bulat. Juga tidak perlu menunggu lama untuk paham bahwa matahari tidak mengelilingi bumi.

Kata mereka, itu karena narasi di kitab suci itu memang tersamar. Lho, bukankah ini kitab petunjuk? Kalau manusia tidak bisa menangkap pesan bahwa bumi ini bulat dari kitab suci, sampai ia menemukan informasinya dari sumber lain, maka kitab suci ini gagal memberi petunjuk pada manusia. Pesannya tidak jelas menyatakan bahwa bumi ini bulat. Pesan yang lebih jelas adalah bahwa bumi ini datar.

Lalu, kalau kitab suci mengatakan bahwa bumi ini datar, matahari mengelilingi bumi, apakah berarti bahwa kitab suci itu salah? Soal ini kita harus hati-hati. Benar-salah itu maknya sangat beragam. Kebenaran sangat sulit untuk didefinisikan. Jadi sebaiknya kita tidak memakai istilah benar-salah.

Saya lebih suka memakai istilah sesuai realitas dan tidak sesuai realitas. Apa itu realitas? Itu adalah keadaan di depan kita, yang bisa kita tangkap dengan panca indera, secara langsung, maupun dengan alat bantu. Kemudian dari yang kita tangkap itu kita bangun sebuah model.

Bagi orang zaman dulu, bumi datar itu adalah realitas. Mereka hanya sanggup melihat bumi dari permukaan bumi. Dari situ bumi memang terlihat datar. Demikian pula, sehari-hari mereka melihat bahwa bumi ini diam, dan matahari bergerak. Itulah realitas bagi manusia yang hidup beberapa abad yang lalu.

Sesuaikah narasi kitab suci dengan realitas? Ya, sesuai dengan realitas saat kitab suci itu dinarasikan. Di masa itu memang seperti itulah realitasnya. Jadi, memang cocok.

Tapi kan tidak cocok dengan realitas sekarang. Ya, tidak cocok. Kalau begitu, kitab suci itu salah, dong. Ingat, realitas itu tidak sama dengan kebenaran. Relitas itu berkembang. Sekarang kita memahami tata surya seperti ini, galaksi seperti ini. Seratus tahun lagi, manusia akan menemukan fakta-fakta baru, pemahaman mereka akan berubah lagi. Realitas selalu berubah.

Kalau kitab suci tidak sesuai dengan realitas sekarang, terima saja. Mustahil ada teks yang selalu cocok dengan realitas. Sekali lagi, mustahil, karena realitas selalu berubah, sedangkan narasi teks bersifat tetap. Bagaimana mungkin sesuatu yang tetap bisa selalu cocok dengan sesuatu yang terus berubah? Satu-satunya jalan adalah dengan melakukan pencocokan.

Kenapa orang sampai perlu melakukan pencocokan? Mereka sedang mencoba mengingkari bahwa kitab suci itu sedang berbicara pada orang-orang yang hidup pada masa ketika kitab suci itu dinarasikan. Sikap ini sungguh konyol.

Dalam menafsir, juga merumuskan hukum, jelas sekali orang melakukan transformasi teks. Ketika disebutkan sesuatu, itu merujuk pada sesuatu di zaman itu, di tempat itu. Ketika disebut gandum, misalnya, maksudnya adalah makanan pokok di situ, pada zaman itu. Untuk kita di sini pada zaman ini, narasi itu bisa kita ubah maknanya menjadi beras. Karena narasi itu sedang bicara pada orang di zaman itu, di tempat itu.

Tapi ketika bicara soal-soal begini, masih saja ada orang yang memaksakan, mesti cocok. Maka mereka melakukan pencocokan secara konyol.

Kotab suci memang bicara pada manusia yang sedang hidup pada zaman ketika ia dinarasikan. Bahkan kadang ia bicara dalam konteks yang sangat lokal, tentang suatu peristiwa. Di zaman itu seorang laki-laki boleh punya istri banyak. Bahkan boleh pula memelihara budak dan menidurinya. Karena itu narasi kitab suci hampir tidak pernah menyebut “istrimu” dalam bentuk tunggal, melainkan dalam bentuk jamak.

Masalahnya, kita tidak konsisten untuk mengakui bahwa narasi kitab suci itu sedang berbicara pada manusia masa lalu. Kita paksakan bahwa maknanya selalu abadi, bahkan universal. Bagi saya, tidak ada yang abadi. Karena, seperti realitas tadi, tata cara hidup kita juga terus berubah.

Kita harus legowo mengakui bahwa realitas yang digambarkan dalam kitab suci itu sudah usang, berbeda dengan realitas sekarang. Demikian pula, hukum-hukum yang diajarkannya, banyak yang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan kita. Bagi saya, itu pun layak kita tinggalkan.

Tidak Ada Ajaran Final

Seorang teman mengirim pesan WA, minta tolong menjawab pertanyaan anaknya. Ini anak cerdas istimewa. Berkali-kali ia mengajukan pertanyaan tentang doktrin maupun legenda yang diajarkan dalam pelajaran agama.

Pertanyaan yang diajukannya sekarang adalah,”Kenapa dulu menghancurkan berhala itu dianggap pahlawan, sedangkan sekarang kalau itu dilakukan bisa dianggap tindakan kriminal?”

Jawaban atas pertanyaan ini tidak sederhana. Kita harus menjawabnya denganmengurai sejarah peradaban manusia. Salah satu komponen penting dalam peradaban manusia adalah perang. Ya, perang. Suka atau tidak, sampai saat ini banyak hal dalam sejarah manusia diubah atau ditentukan dengan perang. Pahlawan dan orang-orang hebat juga banyak muncul di medan perang.

Sampai dua tiga abad yang lalu manusia masih menggunakan cara berperang yang dipraktekkan sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam bahasa sederhana bisa digambarkan sebagai the winner takes all, pemenang mengambil segalanya.

Di masa lalu, ketika suatu kelompok memenangkan perang, maka ia boleh berbuat apa saja terhadap kelompok lawan. Ia boleh membunuh semua orang yang tersisa, atau memperbudak mereka. Mereka boleh merampas semua milik lawan, atau menghancurkannya.

Satu hal lagi, zaman dulu perang sering berlangsung atas nama iman. Kepentingan untuk merebut wilayah, sering kali dibalut dengan kepentingan untuk menyebarkan ajaran agama, atau memuliakan nama Tuhan. Berhala, sesembahan, rumah ibadah, adalah bagian dari benda milik lawan. Maka ia boleh dihancurkan. Tindakan individu atau kelompok pasukan yang menghancurkannya adalah tindakan heroik. Benda-benda itu adalah simbol keberadaan lawan. Menghancurkannya adalah simbolisasi dari penghancuran lawan. Itu sama saja psikologinya dengan membakar bendera lawan.

Perlahan manusia belajar, khususnya dari kepedihan perang. Lalu mereka membuat sejumlah aturan. Salah satu tonggak penting dalam sejarah peradaban kita adalah Konvensi Jenewa. Dalam konvensi ini dirumuskan tata cara berperang, perlindungan terhadap penduduk sipil dan tawanan perang. Termasuk juga perlindungan terhadap harta benda (property) milik lawan.

Dalam konvensi ini tegas dipisahkan antara sipil dan militer. Perang tak lagi melibatkan semua orang seperti dulu, melainkan hanya oleh sekelompok orang bersenjata yang disebut tentara. Warga sipil tidak boleh diserang dan disakiti.
Perbudkaan sudah dihapuskan, sehingga tidak boleh ada lagi warga dari pihak yang kalah yang diperbudak.

Hal lain lagi adalah perubahan tata pergaulan. Hampir semua negara kini beragam. Meski masih ada satu dua negara yang mengaku berdasarkan agama, pada substansinya mereka bukan negara agama. Karena toh ada beberapa negara dengan identitas agama yang sama. Kalau itu negara agama, seharusnya mereka menjadi satu negara, bukan? Bahkan kerap pula terjadi perang antara 2 negara yang berdasarkan agama yang sama.

Perang kini adalah perang antar negara, tidak lagi membawa nama Tuhan. Artinya, simbol-simbol ketuhanan milik lawan, seperti rumah ibadah dan patung-patung juga tak boleh diusik.

Tapi bukankah ajaran agama masih menganggap hebat penghancur berhala itu? Itu adalah ajaran yang dirumuskan belasan abad lalu. Ajaran seperti itu sudah kita tinggalkan. Harus kita tinggalkan. Dalam keadaan perang maupun damai manusia tidak boleh mengusik rumah ibadah dan perlengkapan ibadah milik orang lain. Karena beragama adalah hak azasi yang harus dihormati.

Tapi, kalau ditinggalkan, bagaimana dengan ajaran tentang kesempurnaan agama? Tidak ada ajaran sempurna. Itu hanya klaim saat itu. Sebelumnya agama-agama yang lebih tua juga melakuka klaim serupa. Toh kemudian muncul ajaran agama baru.

Agama adalah tata cara hidup yang dirumuskan di masa lalu. Kini kita terus merumuskan tata cara hidup. Hanya saja kita tak lagi mengaitkan tata cara itu dengan nama Tuhan. Kita menyenutnya undang-undang dan hukum. Tata cara hidup kita terus berkembang. Suka atau tidak, sebenarnya kita sudah banyak meninggalkan ajaran agama. Hanya saja kita enggan mengakuinya terang-terangan.

Di masa depan perang harus ditiadakan. Bagi saya segenap aturan perang, termasuk Konvensi Jenewa itu adalah aturan konyol. Aneh sekali, dalam keadaan biasa kita tidak boleh membunuh dan merusak, tapi dalam perang itu dibolehkan.

Begitulah. Tata cara hidup manusia terus berkembang. Ajaran yang dirumuskan belasan abad lalu secara perlahan akan ditinggalkan. Yang tersisa mungkin hanya ritual-ritual untuk senang-senang.

Cina Tetangga Saya

Sangat banyak orang Indonesia yang menganggap orang Cina itu kaya semua. Juga sangat banyak yang mengira Cina itu kaya secara otomatis. Pokoknya kalau Cina, takdirnya kaya. Lebih parah lagi, tidak sedikit yang beranggapan bahwa Cina itu kaya karena mereka bisa menghalalkan segala cara dalam berbisnis. Kata orang, karena agama mereka membolehkan.

Di kampung saya, sebuah pulau kecil di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, ada beberapa keluarga Cina yang tinggal bersama kami. Mereka semua berdagang barang kebutuhan harian. Mereka tinggal di sana selama puluhan tahun, sama dengan warga kampung yang lain.

Hampir bersamaan dengan perginya saya dari kampung untuk melanjutkan sekolah di tahun 1981, sebagian dari keluarga-keluarga Cina ini pindah ke Jakarta. Mereka mencoba peruntungan, berdagang di Jakarta. Termasuk di antaranya keluarga teman sekelas saya, Ishak The (almarhum).

Sekitar 10 tahun kemudian, saat lulus kuliah saya bertemu lagi dengan Ishak. Ia bekerja sebagai staf akuntansi di sebuah perusahaan. Di usia muda ia sudah cukup berada di mata saya. Setidaknya ia sudah punya mobil.

Ishak mengajak saya ke rumah kakaknya, tempat ia tinggal. Meski tampak mentereng di luar, hidupnya biasa saja. Ia menempati kamar sempit di ruko kakaknya. Kakaknya juga tinggal di situ. Kakaknya sendiri mengelola toko sederhana. Toko itu lebih besar dari toko di kampung dulu, tapi bukan toko yang besar benar.

Beberapa tahun kemudian, saat saya sekolah di Jepang, sesekali saya bertemu Ishak. Dia makin sukses dan makin kaya. Tapi tidak istimewa, hanya kaya seperti umumnya karyawan perusahaan. Bukan orang yang kaya raya.

Ketika saya tinggal menetap di Bekasi, saya berkesempatan bertemu kembali dengan Cina kawan-kawan sekampung saya dulu. Ada yang jadi penguasaha, tapi banyak juga yang karyawan seperti saya. Bahkan ada yang belum berhasil. “Aku lagi susah, San. Usahaku bangkrut,” keluhnya pada saya.

Adakah yang istimewa? Tidak. Mereka hidup sama saja dengan saya. Sama-sama berjuang untuk hidup. Tidak lebih dan tidak kurang.

Ketika kami bertemu, saya merasakan kehangatan. “Aduh, Bang, aku rindu sama Nenek dan Datuk. Dulu sering benar aku main ke rumah Abang, sampai tertidur di sana,” kata Ana, tetangga saya. Kisah yang dia ceritakan itu terjadi saat saya sudah tidak tinggal di kampung lagi. Ana akrab dengan ayah dan emak saya.

Tidak adakah yang curang? Dari kampung saya setahu saya tidak ada. Tapi saya terkejut ketika suatu hari kawan cerita.

“San, kau masih ingat Budi kawan sekelas kita dulu?”

“Ya, kenapa?”

“Kan dia kena kasus, yang simulator itu.”

“Ha? Itu Budi kawan kita?”

Nah, kan, kalau Cina berbisnis pasti curang, kan? Haha. Tidak. Banyak yang jujur. Yang curang pun ada. Yang curang dari kalangan bukan Cina juga banyak. Itu partner in crime si Budi kan Djoko Susilo, orang Jawa.

Tapi kenapa di tempat-tempat mewah kita lihat banyak Cina? Mungkin kita sibuk melihat apa yang ingin kita lihat saja. Padahal orang lain juga banyak di situ.

Tapi secara rata-rata mereka memang banyak yang sukses dan kaya. Apa kuncinya? Mereka memang punya kultur yang mengajarkan orang untuk kerja keras dan jadi kaya. Coba perhatikan ucapan selamat tahun barunya. Gong itu emas, simbol kekayaan. Kaya memang ukuran keberhasilan hidup.

Kita sendiri suka malu-malu sama duit. Mengaku tak mengejar dunia, tapi kalau lihat orang lain kaya, mewek. Mengaku tak mengejar dunia itu sering jadi dalih agar kita tak usah bekerja keras.

Bagaimana Muslim Harus Bersikap?

Tadi saya lihat lagi ceramah Rizieq soal ayat di surat Al-Maidah. Dalam konteks kajian kitab, argumennya meyakinkan. Wali atau awliya’ artinya sangat banyak. Mulai dari teman dekat, pelindung, pengurus, pengelola, pengatur, dan masih banyak lagi. Makanya kita pakai istilah wali kota, wali murid, wali nikah, dan sebagainya. Semua berasal dari kata yang sama. Saya sepakat dengan penjelasan Rizieq soal ini.
 
Maka, mari terapkan itu dalam kehidupan Anda. Jangan berteman dengan Yahudi dan Nasrani. Kita sederhanakan sajalah. Kita bahas Nasrani atau Kristen saja, karena Yahudi tidak terlalu relevan.
 
Kalau orang Kristen itu tidak boleh jadi wali, dengan makna yang luas seperti yang dibahas Rizieq itu orang Kristen tidak boleh jadi presiden, gubernur, walikota, dan seterusnya. Juga tidak boleh jadi kepala polisi, kepala kantor, segala jenis kepala dan pimpinan.
 
Cukup? Belum. Tentu juga tidak boleh jadi pemimpin kita di kantor, di perusahaan. Eeee, jangan ngawur! Kalau kerja di perusahaan tidak ada ulama yang melarang. Eh, itu kata Rizieq. Coba cek lagi deh. Jadiin temen dekat aja nggak boleh, kata Rizieq. Lha, kalau temen dekat aja nggak boleh, masak boleh dijadikan bos?
 
Ingat, setahu saya Rizieq juga memang pernah menganjurkan orang-orang untuk berhenti bekerja dari perusahaan milik orang kafir. Bagian ini saya tidak mendengarnya langsung.
 
Tidak hanya itu. Menurut ayat yang ditafsirkan Rizieq, jangan kasih jalan sedikit pun kepada orang Yahudi dan Nasrani. Karena mereka itu saling menolong antar mereka, untuk menghancurkan umat Islam.
 
OK, anggaplah Rizieq itu benar. Itulah suruhan Quran. Itulah kehendak Allah. Bisa bayangkan kehidupan Anda akan seperti apa? Well, itulah yang coba dipraktekkan oleh sebagian muslim di Indonesia. Mereka tidak mau berteman dengan non muslim. Tidak mau berbisnis dengan mereka. Tidak mau belanja di toko mereka.
 
Tapi ketika saya bikin tulisan satire tentang pilot yang harus muslim juga, mereka memaki saya bodoh. Kata mereka, kalau pilot mah nggak apa-apa. Lho, menurut tafsir Rizieq tadi, yang ngurusi urusan beginian juga namanya wali. Pilot itu punya tugas sangat penting, menjaga keselamatan penumpang. Kalau dia Nasrani yang benci muslim, dia jatuhin aja pesawatnya, kan banyak muslim yang mati. Masak kita mau serahkan urusan ini ke orang kafir?
 
Nah, bingung, kan?
 
Singkat kata, kalau pemahaman seperti Rizieq itu mau dipakai, maka hidup menjadi mustahil. Tapi kenapa Rizieq masih hidup? Karena Rizieq juga tidak konsisten melaksanakan ajaran yang dia sebarkan. Dia naik pesawat nggak tanya pilotnya muslim atau kafir, kok.
 
Saya bukan ahli agama. Tapi saya tahu apa saja yang dibahas di Quran. Kesimpulan saya, kalau semua yang tertulis di Quran mau diterapkan, kita mustahil hidup dalam zaman modern ini.
 
Penjelasan detilnya sudah sering saya bahas. Setiap kali saya ungkap, orang marah. Baca Quran secara komprehensif, dong, kata mereka. Justru itu, kalau mau terapkan, coba terapkan secara komprehensif. Ketika saya bahas perbudakan, mereka marah. Katanya perbudakan sudah tidak ada. Memang. Tapi tidak ada satu pun ayat maupun hadist yang secara tegas mengharamkan perbudakan. Perbudakan diharamkan oleh produk pemikiran modern, yang sama sekali tidak merujuk pada Quran. Kalau mau total merujuk pada Quran, perbudakan itu masih boleh. Nah, yang nggak komprehensif itu siapa?
 
Jadi, bagaimana? Makanya saya memilih jalan sekuler. Yang masih cocok, silakan jalankan. Yang tidak, tinggalkan. Kata mereka kalau tidak kaffah, itu kafir. Emang siapa yang kaffah? Rizieq aja bisa kita buktikan tidak konsisten pada ajarannya sendiri, kok. Percayalah, tidak ada muslim kaffah di abad 21 ini. Yang ada cuma muslim sok kaffah.

Ahok dan Kerumitan Masalah Pelacuran

Debat antar calon Gubernur DKI memunculkan nama Alexis. Ini adalah tempat pelacuran kelas atas. Kenapa ini muncul dalam debat? Tentu saja dalam rangka menjatuhkan Ahok. Ahok pernah mengemukakan gagasan tentang legalisssi pelacuran. Ini sebenarnya gagasan biasa. Sebagaimana nanti akan kita bahas lebih detil, soal pelacursn adalah soal pilihan antara menyediakannya secara resmi dalam suatu ruang terbatas dengan harapan bisa dipantau dan dikontrol, atau menganggapnya tak ada. Ini sebenarnya gagasan biasa dalam penanganan masalah sosial. Cuma, bagi kalangan yang merasa paling bermoral, lebih tegasnya bagi umat Islam, gagasan ini dibuat personal. Seolah Ahok itu memang penggemar pelacuran, atau mau merusak moral bangsa dengan pelacuran.

Orang-orang sering berpikir dengan jalan pintas. Bagaimana menghilangkan pelacuran? Tutup rumah bordil atau lokalisasi. Bagi mereka, selama tidak ada tempat yang terang-terangan menyediakan pelacur, maka tidak ada pelacuran. Persis sama dengan orang yang menyembunyikan sampah di bawah karpet. Selama tak ada sampah terlihat, mereka boleh merasa tenang, menganggap sampah itu tak ada.

Belasan tahun yang lalu, lokalisasi Kramat Tunggak ditutup. Orang-orang senang. Terlebih di lahan itu dibangun Islamic Center. Ismail Yusanto, tokoh HTI itu, waktu itu berkomentar di depan saya,”Inilah bagusnya Sutiyoso.” Orang gampang terhibur, dan melupakan aspek lain kalau sudah begini. Artinya, kebijakan macam begini bisa jadi bedak tebal untuk menutupi borok yang lain.

Apakah dengan ditutupnya Kramat Tunggak lantas Jakarta jadi bebas pelacur? Tidak. Bahkan berkurang saja pun tidak. Menemukan tempat pelacuran di Jakarta itu lebih mudah dibanding menemukan penjual pisang goreng. Ada yang terang-terangan, pilih langsung pakai. Ada yang berkedok panti pijat atau salon.  Belum lagi penyediaan jasa pelacuran online, serta pelacuran yang sifatnya pribadi.

Kramat Tunggak ditutup, apakah pelacurnya lantas bertobat semua? Tidak. Mereka hanya berpindah warung, ke rumah-rumah di gang sempit, atau di pinggir rel kereta. Mereka beroperasi di kawasan pemukiman, disaksikan kehadirannya oleh anak-anak. Orang-orang bermoral tadi mengabaikan fakta ini. Bagi mereka yang penting tak ada lagi tempat pelacuran resmi.

inilah beda mereka dengan Ahok. Ahok adalah orang yang tak munafik. Ia mau mengakui fakta itu, mencoba mencari solusi terbaik. Salah satunya dengan melokalisir masalahnya, sehingga mudah dipantau dan dikontrol. Tapi itu tadi, kalangan moralis langsung menuduh dia macam-macam.

Mungkinkah pelacuran dihilangkan? “Nabi pun tak sanggup memberantasnya,” kata Ahok. Orang Islam marah lagi, menuduh Ahok melecehkan nabi. Padahal ia bicara tentang nabi dalam ajaran Kristen, yaitu Nabi Hosea. Tak ada sangkut pautnya dengan nabi Islam. Itu adalah ungkapan Ahok untuk menggambarkan rumitnya soal pelacuran. Senada dengan ungkapan bahwa pelacuran adalah profesi yang usianya sudah setua sejarah umat manusia. Artinya, di mana ada manusia, di situ ada pelacur.

Pelacuran adalah soal permintaan dan penawaran. Permintaan selalu ada. Selama masih ada laki-laki horny, pasti ada yang permintaan pelacur. Tidak ada satu agama pun, atau satu orang suci pun yang pernah hadir dan membuat pelacuran itu sirna di suatu wilayah.

Bagaimana dengan supply atau penawaran? Buatlah survey kecil, datangi rumah-rumah pijat, dan lakukan wawancara kepada para pemijat. Pofil umumnya adalah, usia antara 18-30, janda beranak atau tidak beranak. Menikah di usia muda, kemudian suaminya pergi entah ke mana. Cerita klise ini mungkin akan Anda dengar dari 40% responden. Lalu lakukan survey ke kampung-kampung di Pantura, atau ke Sukabumi. Dengan mudah kita akan temukan fakta pendukung soal kawin muda ini.

Belum lagi soal remaja di rumah tangga yang hancur, kemudian mencari tempat pelarian dengan melacur. Remaja yang terlibat narkoba, atau remaja hedonis yang menjual diri sekedar agar bisa selalu punya HP jenis paling mutakhir.

Semua itu adalah faktor supply bagi dunia pelacuran, yang tidak serta merta sirna dengan ditutupnya rumah bordil atau lokalisasi. Jadi, menutupnya sama sekali bukan solusi bagi masalah ini.

Masih ada sisi lain, yaitu korupsi. Mengapa Alxis tidak ditutup? Coba tanya balik kepada yang mengajukan pertanyaan itu, tahukah kamu ada berapa oknum berbintang yang jadi backing bisnis itu? Ada berapa petinggi imigrasi yang berperan mengamankan “izin kerja” bagi pelacur-pelacur asing yang bekerja di situ? Bahkan, mungkin, ada berapa petinggi organisasi agama yang harus dibungkam dengan uang supaya tidak rewel? Atau, lebih tegas lagi, kenapa sih sebelum ini, waktu Gubernur DKI muslim semua, tidak ada keributan publik menuntut penutupan Alexis? Ahok dicerca karena tidak menutup Alexis, padahal ia sudah menutup Kalijodo. Adalah yang bertanya, kenapa Foke dulu tidak menutup Kalijodo?

Jadi, berbagai keributan soal pelacuran ini jauh dari usaha mencari solusi. Ini hanya soal bagaimana menjatuhkan Ahok saja.