Category Archives: Sains Populer

Sihir

magic-trick
Saya penggemar cerita Harry Potter. Semua seri buku tersebut saya baca, dan saya ingat cerita di setiap seri. Semua filmnya saya tonton. Tentu saja saya menganggapnya sebagai cerita fiksi belaka.
 
Sihir itu tidak nyata, dan tidak pernah nyata. Saya yakin akan banyak orang yang membantah pernyataan ini. Mereka terbiasa mendengar cerita-cerita yang tidak bisa dijelaskan oleh akal. Ya, hanya mendengar, mempercayai, dan meneruskannya. Sebagian sangat besar dari cerita-cerita ajaib yang pernah kita dengar, kita dapatkan bukan dari orang yang menyaksikannya langsung. Itulah salah satu sebab kenapa hoax bisa begitu cepat menyebar di internet. Karena orang-orang sudah terbiasa meneruskan cerita yang tidak masuk akal.
 
Bagaimana dengan orang-orang yang sudah menyaksikannya secara langsung? Apakah kita tidak bisa mempercayai mereka? Sebenarnya kita semua pernah menyaksikan sihir, secara langsung. Kita menyaksikannya di panggung sulap. Hanya saja sejak awal kita tahu bahnya yang kita saksikan itu tidak nyata. Adapun yang mengaku pernah menyaksikan sihir, ia sebenarnya korban sebuah trik sulap belaka. Sulap, magic, atau sihir, adalah realitas palsu yang dihadirkan dengan memanipulasi audiens.
 
Sihir atau magic sudah hadir sejak zaman dulu. Lebih tepatnya, sihir adalah bagian dari masa lalu ketika sangat banyak fenomena yang dilihat manusia tidak bisa ia jelaskan. Orang melihat pelangi, kemudian mengarang cerita bahwa itu adalah tangga bidadari yang sedang turun ke bumi. Ada jutaan cerita semacam itu.
 
Manusia berhadapan dengan alam yang maha besar. Mereka percaya bahwa ada sosok maha besar, maha berkuasa, serba maha, yang menciptakan dan mengatur alam ini. Sosok itu juga mengatur bagaimana manusia harus berperilaku. Bila aturannya dituruti, maka ia akan senang. Kalau tidak, ia akan murka. Ia bisa menciptakan kejadian-kejadian luar biasa untuk memberkati manusia yang ia kehendaki, atau untuk menyiksa manusia yang tidak ia sukai. Itulah Tuhan.
 
Karena terbiasa percaya penjelasan-penjelasan supranatural itu, orang mudah percaya kepada sihir.
 
Ketika sains berkembang, secara perlahan sihir menyingkir dari kehidupan manusia. Yang tersisa hanyalah sihir di panggung hiburan. Zaman dulu orang berobat ke dukun, diobati dengan cara-cara sihir. Kini kita umumnya berobat ke dokter, diobati dengan metode ilmiah yang telah diuji sebelumnya.
 
Tentu saja masih ada orang yang percaya dengan sihir. Malah masih banyak. Sebanyak orang yang masih percaya pada dukun, atau sering kali disebut pengobatan alternatif. Sepertinya tidak mungkin kepercayaan kepada sihir itu dibuang sama sekali, selama orang masih beriman kepada kitab suci. Kitab-kitab suci agama memuat cerita-cerita tentang sihir. Tidak mempercayai sihir sama artinya tidak mempercayai sebagian isi kitab suci. Itu bisa berarti tidak beriman kepada kitab suci itu secara keseluruhan.
 
Jadi, apa boleh buat. Selama Anda beriman kepada kitab suci, Anda memang harus percaya kepada cerita-cerita magis, seperti awan yang digiring malaikat, atau setan yang dilempar dengan komet. Pada saat yang sama Anda mungkit bisa percaya bahwa sekolah Hoghwart itu nyata.
 
sumber foto: ktwop dot com

Pseudoscience

pseudo

 

 

 

 

 
Pseudoscience adalah seperangkat kepercayaan atau mitos yang dipercayai atau dianggap berbasis pada data atau fakta sains, tapi sebenarnya bukan. Para penyebar cerita pseudoscience biasanya menggunakan jargon-jargon sains, tapi secara salah.
 
Pernah lihat gambar organ dalam manusia ditumpuk pada gambar telapak kaki di kedai pijat refleksi? Itu salah satu bentuk pseudoscience. Gambar itu memberi kesan seolah titik-titik di telapak kaki itu berhubungan dengan gambar-gambar organ tadi. Padahal tidak. Tidak ada hubungan secara otot atau saraf.
 
Para peramal astrologi juga memakai gambar-gambar rasi bintang. Tapi ramalan mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan planet-planet maupun galaksi. Kemudian ada berbagai cerita spekulatif tentang Segitiga Bermuda, itupun termasuk bagian dari pseudoscience.
 
Tidak jarang para penulis pseudoscience ini mengutip hasil riset dari jurnal untuk membenarkan bualan mereka. Hasil risetnya benar ada, tapi pemaknaannya serampangan. Bahkan ada di antara mereka yang melakukan “riset” sendiri, tapi ngawur.
 
Salah seorang pseudoscientist yang terkenal adalah orang Jepang bernama Masaru Emoto. Ia memiliki gelar doktor, sehingga cukup untuk meyakinkan banyak orang. Padahal gelar doktornya itu sama sekali tidak terkait dengan tema “riset” yang ia promosikan.
 
Emoto menyebarkan informasi soal keajaiban air dari kristal-kristal air yang ia buat dan ia foto. Menurut Emoto, kristal-kristal air akan tumbuh dengan cantik bila dibuat dalam lingkungan tertentu, yaitu bila diperdengarkan doa-doa dan pujian.
 
Sudah banyak kritik atas cara-cara eksperimen Emoto. Yang dia lakukan adalah pencocok-cocokan. Bahkan berupa rekayasa pembodohan.Tapi buku-buku dan seminarnya laris. Ia juga pernah datang ke Indonesia.
 
Termasuk dalam kategori pseudoscience ini adalah pencocokan ayat-ayat suci dengan sains, dalam hal Quran dilakukan oleh Maurice Bucaille. Tidak hanya orang Islam yang suka begini, orang Kristen pun melakukannya. Ada fakta sains yang dipaksakan cocok, atau ayat yang dipelintir maknanya agar cocok dengan sains. Ada pula fakta sains palsu yang diciptakan mengikuti ayat-ayat yang ada. Jumlahnya sangat banyak. Buku-buku pseudoscience jenis ini banyak diterbitkan, dengan penulis dari kelas kaki lima sampai seorang ilmuwan asli.
 
Mengapa orang menyukai pseudoscience? Sains yang sebenarnya sering kali terlalu rumit untuk dipahami. Pseudoscience lebih menggairahkan. Mungkin ini terkait dengan imajinasi mistis masa kecil kita. Kita umumnya dibesarkan dengan kepercayaan-kepercayaan mistis, dan hasilnya membuat kita sulit melepaskan diri darinya. Maka cerita soal mistisnya Segitiga Bermuda sangat mudah kita teria tanpa periksa.
 
Agama berpengaruh mirip dengan mistisme pada kebanyakan orang. Saya menemukan begitu banyak orang mengklaim bahwa ayat-ayat Quran sudah terbukti cocok dengan sains, padahal ia sama sekali tidak paham dengan apa yang ia bicarakan. Ia beriman seperti orang yang percaya pada demit, lelembut, dan sejenisnya.
 
Hal lain, khusus menyangkut tubuh dan kehidupan manusia, termasuk soal kesadaran dan pikiran, memang masih banyak sisi yang menjadi misteri. Walau sebenarnya banyak juga yang sudah berhasil dikuak misterinya. Cuma sekali lagi, the real science is much too complicated. Maka orang lebih suka mencari sesuatu yang mudah, dan membuat mereka nyaman. Kalau “terbukti” kitab suci yang kita imani sesuai sains, tentu membahagiakan, bukan?
 
Nah, bagaimana mendeteksi pseudoscience dalam suatu topik? Ini agak rumit, karena banyak tulisan pseudoscience yang sangat meyakinkan. Ya itu tadi, ditulis oleh ilmuwan beneran. Cara termudahnya adalah dengan mencari sumber informasi dari situs-situs terpercaya seperti majalah sains, website universitas, atau lembaga riset. Atau, untuk deteksi awal, tulis saja kata kunci topik tersebut ditambah kata pseudoscience. Nanti akan keluar artikel-artikel yang sifatnya membongkar pseudoscience itu.
 
 

 

 

Adam dan Hawa Berbahasa Apa?

adam


Coba Anda cari jawaban atas pertanyaan itu di Google, apa yang Anda temukan? Kalangan Judeo-Kristian menganggap bahwa bahasa yang dipakai Adam adalah bahasa Ibrani. Alasannya merujuk pada nama-nama yang dipakai saat itu, seperti Hawa, yang merupakan bahasa Ibrani. Berdasarkan alasan itu muncullah anggapan bahwa bahasa Ibrani adalah induk bahasa manusia, sebagaimana Adam adalah induk semua manusia.
 
Bagaimana dengan Islam? Saya belum menemukan bahasan yang memadai dari para ulama tentang hal ini. Tapi tak sulit untuk menduga bahwa umat Islam pun akan berpikir dengan cara yang sama seperti orang-orang Yahudi dan Kristen. Jadi, ada di kalangan umat Islam yang mengklaim bahwa Adam berbahasa Arab, yang diajarkan langsung oleh Allah.
 
Apa kata sains? Sains tidak menganggap manusia berasal dari Adam. Sains tidak menganggap Adam itu wujud sebagai tokoh sejarah, melainkan hanya sebagai legenda tradisional Yahudi. Sains berteori bahwa manusia modern adalah produk evolusi dari berbagai jenis manusia purba yang tersebar di muka bumi. Ada pula yang berpendapat bahwa terjadi migrasi besar-besaran dari Afrika sekitar 50 ribu tahun yang lalu, ke berbagai tempat di bumi. Mereka menggantikan manusia-manusia purba yang telah punah.
 
Tapi bukankah ada istilah “Adam dan Hawa genetik” dalam sains? Ya, beberapa peneliti berpendapat bahwa mengatakan bahwa secara genetik seluruh manusia yang ada saat ini bersumber pada satu orang manusia laki-laki dan satu perempuan. Mereka diperkirakan hidup sekitar 135 ribu tahun yang lalu. Nah, bukankah itu sesuai dengan ajaran kitab suci? Banyak kalangan khususnya Kristen yang bergembira dengan hal ini. Tidak perlu heran, baik di Islam maupun Kristen banyak penggemar gathukan.
 
Faktanya, yang disebut Adam dan Hawa genetis itu bukanlah manusia pertama yang hidup di bumi. Keduanya hidup terpisah, tidak kenal satu sama lain. Tentu saja tidak pernah bersenggama sebagai pasangan. Dalam pengertian genetis, keduanya hanyalah satu dari ribuan manusia yang hidup pada zaman itu yang secara genetis tersambung dengan manusia modern.
 
Kembali ke soal bahasa, para ilmuwan membangun teori perkembangan bahasa yang paralel dengan teori evolusi. Bahwa manusia mengembangkan kemampuan bahasanya seiring dengan berkebangnya fisik manusia, termasuk perkembangan otak, sistem saraf, dan organ lain seperti mulut dan tenggorokan. Ada yang menganggap bahasa itu berkembang secara berkesinambungan, ada pula yang menganggapnya terputus. Diperkirakan pada suatu periode terjadi “lompatan” pada perkembangan fisik manusia secara tidak berkesinambungan, di mana kemampuan pada periode berikutnya jauh lebih baik dari periode sebelumnya.
 
Manusia diperkirakan mulai menciptakan bahasa dari ekspresi sederhana yang secara refelek terlontar saat ia merasa kesakitan atau marah. Bunyi-bunyi itu kemudian berkembang menjadi bunyi yang lebih berbentuk, yang kemudian dipakai bersama. Ada pula teori yang mengatakan bahwa bahasa dibentuk dari peniruan terhadap bunyi-bunyi hewan. Selain itu ada pula yang beranggapan bahwa bahasa tercipta dari hubungan antara ibu dan anak.
 
Ada begitu banyak teori perkembangan bahasa. Yang jelas kita ketahui bahasa verbal itu kita pelajari dari interaksi antar manusia. Seseorang yang sejak bayi hidup sendiri tidak akan punya bahasa verbal. Hal itu bisa kita simpulkan dari pertumbuhan kemampuan berbahasa anak-anak kita. Atau, bisa kita lihat bagaimana orang tuna rungu yang tidak punya kemampuan berbahasa verbal.
 
Jadi, Adam dan Hawa berbahasa apa? Jawabannya tergantung pada jenis jawaban apa yang Anda inginkan. Bila basisnya adalah iman, maka mereka berbahasa Ibrani, kalau Anda memilih iman Yahudi atau Kristen. Bagi yang beriman Islam, jawabannya (mungkin) bahasa Arab. Orang Buddha dan Hindu tidak mengenal Adam dan Hawa, jadi jawaban mereka kosong, alias tidak ada. Begitu pula dengan sains.
 
 

Matahari, Sumber Energi

image

Kenji sedang belajar tentang manfaat matahari bagi bumi. Apa manfaatnya? Untuk mengeringkan baju. Lalu untuk apa lagi? Untuk mengeringkan ikan asin. Lalu? Untuk mengeringkan….

Lalu saya ajak Kenji melihat foto Abang dan Kakak waktu kecil, ketika mereka masih tinggal di Jepang. Ada foto mereka di dekat salju. Mengapa ada tempat dingin dan bersalju?

Bumi kita ini sedikit miring pada posisinya terhadap matahari, dengan kemiringan 23,5 derajat. Pada waktu tertentu (Oktober-Februari) bumi bagian utara berposisi condong menjauh dari matahari, sehingga cahaya matahari yang sampai ke bagian itu lebih sedikit. Karena itu cuaca di bagian utara lebih dingin. Sebaliknya pada bulan April sampai Juli, bumi bagian selatan yang akan kekurangan cahaya.

Jadi, manfaat utama matahari yang jarang kita rasakan sebagai manusia tropis adalah bahwa matahari menghangatkan permukaan bumi. Bila intensitas cahaya matahari berkurang dari yang kita nikmati sekarang, permukaan bumi ini akan membeku. Bila intensitasnya bertambah, permukaan bumi akan mendidih.

Lalu apa lagi? Untuk menghasilkan vitamin D. Apakah sinar matahari membawa vitamin D? Tidak. Sinar matahari membawa energi. Saat mengenai kulit, khususnya sinar ultraviolet matahari akan menyediakan energi yang cukup bagi prohormon di kulit kita untuk melakukan reaksi kimia, yang menghasilkan vitamin D. Ingat, vitamin D hanya bisa diperoleh dengan cara ini, bukan melalui makanan.

Dengan cara yang mirip, matahari memicu reaksi kimia pada tumbuhan dan makhluk hidup lain untuk menghasilkan berbagai bahan kimia serta energi yang mereka perlukan untuk hidup. Proses ini disebut fotosintesis.

Tumbuhan dan bakteri sungguh cerdas dalam memanfaatkan sinar matahari. Mereka punya antena penangkap cahaya yang biasa disebut light harvesting complex (LHC). LHC ini memiliki struktur yang membuat tumbuhan dan bakteri mampu menangkap cahaya. Ada struktur yang dinamis, bisa mengatur arahnya sesuai arah sinar datang, sehingga bisa mengumpulkan sinar. Bahkan mereka juga punya semacam baterai untuk menyimpan energi cahaya yang ditangkap itu.

Energi matahari juga bisa kita tangkap untuk menghasilkan listrik. Alat penangkapnya disebut sel surya. Ia terdiri dari photovoltaic cell yang terbuat dari semikonduktor. Di jalan-jalan kita bisa temukan lampu-lampu tang memakai sel surya sebagai sumber listriknya.

Jadi matahari menyediakan energi panas, dan energi cahaya yang sangat bermanfaat bagi bumi. Tanpa sinar matahari yang cukup tidak akan ada kehidupan di bumi.

Mengapa tak Boleh Menatap Matahari?

Mata kita memiliki keterbatasan. Bila intensitas cahaya terlalu rendah, maka kita tidak bisa melihat. Demikian pula sebaliknya, bila intensitas cahaya terlalu tinggi, kita juga tidak bisa melihat. Batas kemampuan kita melihat digambarkan pada gambar berikut.
batasmata
Matahari adalah sumber cahaya yang sangat kuat, melebihi batas kemampuan mata kita. Karena itu kita tidak bisa melihat matahari secara langsung, kecuali pada saat terbit atau saat terbenam. Pada waktu-waktu lain sinar matahari sangat kuat. Cahaya yang berlebihan hanya akan memberi kita gambaran kabur saja.
 
Tidak hanya itu. Matahari mengandung sinar ultraviolet dan infrared. Keduanya punya daya rusak. Ingatlah pada pengalaman saat kita berjemur terlalu lama, apa yang terjadi? Kulit kita terbakar, atau biasa dikenal dengan istilah sunburn. Itulah yang akan terjadi pada mata kita ketika kita menatap langsung matahari dalam waktu tertentu. Sel-sel pada kornea mata bagian terluar yang transparan akan hancur, seperti terbakarnya kulit kita. Akibatnya akan dirasakan kemudian, kita akan merasakan perih pada mata seperti tergores amplas. Gejala ini disebut photokeratitis.
 
Bila mata dipaksa untuk terus melihat, maka yang berikutnya akan rusak adalah retina, yang merupakan “layar” di dalam mata, di mana bayangan terbentuk, kemudian dikirimkan datanya ke otak. Gejala ini disebut solar retinopathy.
 
Semakin lama kita melihat matahari kerusakan yang ditimbulkannya akan makin parah. Puncaknya adalah kebutaan.
 
Kaca mata hitam adalah filter yang berfungsi sebagai penurun intensitas cahaya. Sebagian cahaya yang lewat pada filter akan diserap, hanya sebagian yang diteruskan. Besar porsi serapan tergantung pada jenis bahan dan ketebalannya. Efek ini sama dengan yang terjadi saat matahari terbit atau tenggelam. Saat itu cahaya matahari merambat melewati lapisan udara yang jauh lebih tebal dibanding dengan saat siang hari, sehingga cahaya yang sampai ke kita lemah saja. Itulah sebabnya kenapa kita bisa melihat matahari pada saat itu. Jadi, kaca mata hitam sebenarnya bukan sekedar untuk bergaya. Ia berfungsi mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk ke mata, menghindarkan kita dari kesilauan, dan mencegah kerusakan mata. Tapi ingat, dengan kaca mata hitam pun menatap matahari secara langsung tetap tidak dianjurkan.