Category Archives: Sains Populer

Apakah Tuhan itu Ada?

Jawaban atas pertanyaan itu tergantung pada apa yang kita maksud ada. Orang-orang beriman yakin Tuhan itu ada. Di mana? Dalam keyakinan mereka. Tuhan hadir dalam kesadaran, menjadi inspirasi bagi tindak tanduk mereka. Maka Tuhan itu ada.

Sebaliknya, bagi yang tidak beriman, Tuhan itu tidak ada. Tuhan tidak hadir dalam kesadaran mereka. Tuhan juga tidak menjadi motif maupun inspirasi bagi tindak tanduk mereka. Maka, Tuhan itu tiada.

Bisakah kita membuktikan keberadaan Tuhan secara objektif?

Tidak mungkin! Mau dibuktikan dengan apa? Dengan peralatan scientific? Tidak bisa. Kenapa tidak bisa? Apakah karena teknologi manusia belum cukup canggih untuk bisa mendeteksi keberadaan Tuhan? Bukan begitu. Sains tidak menjadikan Tuhan sebagai objek kajiannya. Maka sains tidak akan menghasilkan sesuatu yang akan menjawab pertanyaan soal eksistensi Tuhan. Jadi, teknologi manusia sebagai produk sains tidak akan pernah bisa mendeteksi atau membuktikan keberadaan Tuhan. Ibaratnya, vaksin kimiawi tidak akan pernah bisa membunuh virus komputer. Bukan karena vaksin itu kurang ampuh, tapi karena memang tidak dibuat untuk itu.

Prinsip itu berlaku sebaliknya; sains dan teknologi juga tidak bisa dipakai untuk membuktikan tiadanya Tuhan.

Jadi, Tuhan tidak bisa dibuktikan secara objektif. Lantas, adakah Tuhan? Jawabannya kembali ke paragraf pertama dan kedua di atas. Tuhan itu ada bagi yang mengimaninya, dan tiada bagi yang tidak mengimaninya.

Ada orang-orang yang mencoba menggunakan sains untuk menjelaskan keberadaan Tuhan. Kata mereka, alam ini sungguh teratur. Tidak mungkin keteraturan itu ada kalau tidak ada yang menciptakan dan mengaturnya.

Baiklah. Mari kita lihat keteraturan alam ini. Lihatlah misalnya soal awan dan hujan. Siapa yang mengaturnya? Apakah Tuhan? Mari kita cek. Air di muka bumi menguap, membumbung tinggi menjadi awan. Apa yang membuat air itu menguap? Utamanya adalah panas dari matahari. Awan kemudian mengalami berbagai kondisi termodinamik yang membuatnya mengembun menjadi air. Air yang berat ini kemudian menjadi lebih berat, kemudian turun menjadi hujan.

Kalau kita selidiki setiap penyebab sepanjang proses di atas maka kita akan temukan bahwa setiap keteraturan yang kita saksikan terjadi oleh suatu kondisi. Kalau ada kondisi A, akan terjadi B. Kalau ada konsidi C, maka akan terjadi D. Siapa yang menciptakan atau mengatur kondisi itu? Kondisi-kondisi lain. Begitu seterusnya. Keteraturan alam itu saling terkait satu sama lain, bahkan saling mempengaruhi.

Menariknya, manusia bisa ikut campur mengatur kondisinya. Manusia bisa membuat suatu kondisi, emngubah kondisi yang ada, sehingga tercapai kondisi yang diinginkan, lalu terjadilah yang diinginkan itu. Manusia misalnya bisa mengatur kondisi termodinamika di angkasa, sehingga bisa membuat hujan.

Manusia tahu bagaimana terjadinya pembuahan yang menghasilkan janin (pada hewan maupun manusia), dan bisa mengintervensi kondisi-kondisi sesuai keinginan, sehingga bisa mencegah atau membuat kehamilan. Dengan mengubah kondisi-konsidi, manusia bisa mengatur keturunan hewan-hewan, menciptakan jenis-jenis baru, yang sebelumnya tidak ada. Manusia juga bisa membuat bahan-bahan baru, dengan sifat sesuai yang mereka inginkan. Bahkan manusia menciptakan atom-atom baru, yang sebelumnya tidak wujud di alam ini.

Adakah yang mengatur keteraturan itu? Selama basisnya sains, maka keteraturan alam adalah produk dari kondisi-kondisi yang diciptakan oleh alam itu sendiri. Bukan oleh sesuatu yang lain. Lalu, dari mana datangnya kesimpulan bahwa keteraturan itu dikendalikan oleh Tuhan? Iman. Bila dasarnya iman, maka penjelasan ilmiah tadi tidak diperlukan. Pokoknya keteraturan itu dikendalikan oleh Tuhan. Titik.

Jadi, apakah Tuhan itu ada? Sak karepmu.

 

Gumun Islami

Gumun  adalah sebuah kosa kata dalam bahasa Jawa. Artinya kagum atau heran. Dalam budaya Jawa ada ajaran “ojo gumun”. Maksudnya kurang lebih, jangan kagum/heran terhadap sesuatu sampai terpana, membuat kita jadi rendah diri, atau kehilangan kontrol. Gumun biasanya dialami orang yang berada pada situasi yang pertama kali ia hadapi, khususnya bila situasi itu sangat kontras dengan situasi yang biasa ia hadapi.

SUatu ketika berita tentang mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair membaca Quran dimuat di hampir semua media. Dan begitu banyak yang meneruskannya di laman Facebook, dengan berbagai komentar. Ada banyak komentar yang berharap Tony Blair mendapat hidayah dari bacaannya itu.

Meski tak sampai berlebihan, saya melihat excitement dalam menanggapi berita ini. Saya memahami, Tony melakukan hal itu dalam rangka tugas barunya, yang berkaitan dengan soal Timur Tengah. Itu tertulis secara gamblang di berita. Tapi bagi sebagian orang, berita itu bisa bermakna lain. Saya jadi teringat pada sebuah ceramah radio yang saya dengar sepuluhan tahun yang lalu. Seorang ustaz dengan bangga bercerita bahwa Hillary Clinton rajin membaca Quran, disertai dengan bumbu (harapan) bahwa dia akan mendapat hidayah, lalu masuk Islam. Hillary bukan seorang muslim hingga saat ini.

Masuk Islamnya seorang tokoh Barat, khususnya berkulit putih, sepertinya begitu menggairahkan banyak orang. Sangat sering hal ini menjadi berita. Bahkan banyak berita yang akhirnya terbukti bohong soal masuk Islamnya berbagai tokoh, seperti Michael Jackson, Neil Armstrong, dan lain-lain. Seakan dunia Islam menjadi lebih hebat dengan masuknya orang-orang tersebut. Bagi saya, hal semacam itu adalah gejala gumun. Banyak orang belum terbiasa melihat orang Barat beragama Islam, sehingga merasa hal itu sebagai sesuatu yang khusus. Atau, dunia Islam begitu kekurangan orang hebat, sehingga masuknya tokoh tertentu diharapkan bisa memperkaya dunia tersebut. Padahal orang keluar masuk suatu agama adalah persoalan yang sangat biasa. Semata persoalan pilihan pribadi. Tidak lebih dari itu. Pada saat sebagian orang masuk Islam, di saat yang lain ada juga yang keluar.

+++
Di lain waktu  saya membaca link yang dimuat seorang teman di laman Facebooknya. Ada artikel yang membahas “mukjizat air”. Dan seperti biasa, pembaca berdecak kagum, dan keluarlah puji-pujian kepada Allah Yang Maha Mengetahui. Saya baca sekilas artikel itu, saya langsung tahu bahwa itu tentang Masaru Emoto. Dia mengklaim bahwa kristal air akan mengambil bentuk yang berbeda, lebih cantik, kalau dibacakan doa.

Saya sudah lama membaca mengenai Emoto ini. Dia bahkan pernah datang ke Indonesia untuk mempromosikan bukunya. Tapi temuan Emoto sangat diragukan dari sudut pandang ilmiah. Eksperimen yang dilakukannya penuh dengan kecerobohan manusia. Intinya, dia melakukan proses pencocokan. Kesimpulan dibuat dulu, data menyesuaikan dengan kesimpulan.

Nasihat saya kepada teman saya tadi, kalau mau kagum dengan mukjizat air, bacalah hasil-hasil riset yang sahih tentang air. Ada begitu banyak riset tentang itu. Sederhana saja, tubuh kita ini lebih dari 80% kandungannya adalah air. Dari iklan Aqua saja kita bisa tahu kok tentang itu. Mau lebih rumit? Saya kebetulan pernah meneliti struktur bahan (molekul) yang eksistensinya ditopang oleh molekul air. Salah satunya adalah DNA. Struktur DNA pada makhluk hidup hanya bisa wujud pada kelembaban yang tinggi. Molekul air memenuhi lekuk-lekuk pada struktur spiral DNA. Bila kelembaban menurun, struktur DNA akan berubah. Bahkan pada kelembaban yang lebih rendah, struktur DNA akan mengalami disorder.

Pada riset yang pernah saya lakukan, saya malah mengurangi kelembaban pada sampel DNA dan mengamati sampai sejauh mana strukturnya masih bisa bertahan. Dalam hal ini kami tidak lagi berfikir tentang DNA sebagai komponen penyusun makhluk hidup, tapi kami melihat DNA sebagai molekul yang mungkin bisa dimanfaatkan dalam nano teknologi.

Tak hanya bahan hidup, beberapa mineral keluarga birnessite terbentuk dari atom-atom logam yang membentuk lapisan (layer), dan penyokong di antara lapisan-lapisan itu adalah molekul air. Pengaruh molekul air tersebut tidak hanya pada sifat struktur, tapi juga pada sifat elektrik dan magnetik bahan tersebut. Dan masih banyak lagi contoh mukjizat air dari berbagai riset sahih yang sudah dilakukan oleh para ilmuwan. Pada hal-hal itulah saya harapkan kita berdecak kagum.

+++
Pada lain ketika, ada yang mengirimkan video tentang citra ultrasonografi pada bayi dalam kandungan. Sang bayi terlihat gelisah, kemudian dibacakan ayat Quran, lalu bayi terlihat tenang. Dan seperti biasa, bertaburanlah puja puji pada Allah. Saya, seperti biasa, skeptis pada yang demikian ini. Orang bisa dengan mudah membuat video yang bisa menggiring kepada kesimpulan yang keliru. Tak sulit untuk mencari citra bayi yang sedang “gelisah”, lalu citra bayi yang “tenang”, kemudian menambahkan bacaan ayat Quran kemudian, bukan?

Kalaupun benar, tidak ada rekayasa palsu pada video itu, kita masih punya masalah soal definisi “gelisah” dan “tenang” itu. Apakah gelisah dalam observasi kita adalah gelisah pada diri bayi? Bisa jadi itu ekspresi yang bukan gelisah. Kita tidak bisa memastikan itu. Selain itu, ada masalah reproducibility. Dalam riset suatu gejala baru bisa disimpulkan polanya bila ada sejumlah sampel yang diuji, dan menunjukkan gejala yang sama. Dalam kasus video tadi, kita tak tahu berapa banyak sampel yang diuji. Bisa jadi yang kita lihat hanyalah sebuah kebetulan.

Tapi di luar soal itu, seperti saya nasihatkan kepada teman pengirim video tadi, kita sebenarnya bisa sangat kagum pada sesuatu yang ada di hadapan mata kita, kalau kita menyadarinya. Ya, pada teknologi ultrasonografi itu. Tidakkah luar biasa, bagaimana gelombang suara itu bisa diubah menjadi citra visual yang tampak oleh mata? Mengapa tak kagum pada hal itu, dan memilih untuk kagum pada hal yang mungkin merupakan sebuah kebohongan?

+++
Dua cerita terakhir yang saya tuliskan adalah bentuk gumun juga. Kebanyakan dari kita, dalam keseharian tidak bergaul dengan dunia sains. Ini semua salah kita. Dunia Islam saat ini boleh dibilang tersisih dari pergaulan sains. Lalu kita jadi mudah terpana dengan sains. Terlebih bila fakta-fakta sains itu membenarkan ajaran yang kita anut. Serta merta kita menelannya tanpa periksa. Dalam hal ini, kombinasi antara ketidak tahuan dan iman, menggiring orang pada kebodohan.

Saya menyebut gejala itu gumun islami, yaitu gumun yang melanda banyak orang Islam. Tapi sebenarnya ada gumun islami yang lebih sahih. Yaitu gumun terhadap fenomena alam yang kita pahami secara sahih, kemudian kita kaji dan periksa gejala itu hingga kita bisa memanfaatkannya untuk kehidupan. Allah Maha Kuasa, Allah Maha Tahu. Kita semua tahu itu. Tapi bagaimana kekuasaan dan pengetahuan Allah itu membuat hidup kita lebih baik, itulah yang lebih penting.

Superkonduktor

superkonduktorKita mengenal konduktor, bahan yang bisa mengantarkan sesuatu. Umumnya yang diantarkan berupa arus listrik atau panas. Pengantar panas lebih akrab bagi kita, yaitu bahan yang kalau kita panaskan di suatu titik, maka panasnya akan menjalar ke titik-titik lain melalui proses perambatan panas yang disebut konduksi. Bahan-bahan seperti besi dan almunium adalah pengantar panas yang baik, sehingga sering dipakai sebagai alat masak.

Konduktor listrik artinya bahan yang mengantarkan listrik. Kalau kita beri tegangan listrik di dua titik pada bahan tersebut maka akan terjadi arus listrik melewati bahan tadi, dari satu titik ke titik lain. Bila tidak terjadi arus maka bahan tersebut kita sebut isolator. Arus listrik pada konduktor mengalami hambatan (resistance), artinya gerak elektron di dalam konduktor itu terhambat, tertahan oleh potensial listrik, dan menimbulkan panas. Panas itu bisa kita rasakan pada peralatan listrik yang kita pakai.

Nah, superkonduktor adalah konduktor atau pengantar yang super. Artinya, arus listriknya tidak terhambat, lancar. Kalau digambarkan dengan grafik, hambatan listriknya nol. Harap dicatat bahwa bahan superkonduktor hanya berperilaku demikian pada suhu yang sangat rendah. Pada suhu kamar ia hanyalah konduktor biasa. Suhu di mana suatu bahan mulai berperilaku sebagai superkonduktor disebut suhu kritis, atau critical temperature (Tc).

superconductorSuperkonduktivitas pertama kali ditemukan oleh ilmuwan Belanda, Heike Kamerlingh Onnes. Onnes menciptakan sistem suhu rendah ekstrim, mendekati nol mutlak (-273 C). Pada suhu ekstrim itu banyak gejala fisika “baru” yang muncul, yang tidak teramati pada suhu tinggi. Gejala-gejala tersebut menunjukkan sifat “asli” suatu bahan. Riset di bidang ini, kini disebut low energy physics, masih terus berlangsung hingga sekarang. Onne mendapat Hadiah Nobel di tahun 1913.

Tak lama setelah berhasil menghasilkan suhu yang sangat rendah, sekaligus membuat gas helium menjadi cair, Onnes bahwa hambatan merkuri padat turun menjadi nol pada suhu 4,2 K (-271 C). Itulah gejala superkonduktivitas yang pertama kali diamati manusia.

Apa yang terjadi dalam superkonduktor? Konduktor terdiri dari ion-ion positif yang berjajar pada titik-titik berjarak tertentu. Ciri utama bahan kondutor adalah adanya elektron bebas, yang tidak terikat pada ion-ion tadi. Elektron-elektron ini bebas mengalir seperti “cairan” di dalam konduktor. Namun sesekali elektron-elektron ini menabrak ion-ion tadi, dan itulah yang menyebabkan hambatan. Tabrakan membuat sebagian energi elektron diserap oleh ion-ion, dan menghasilkan panas.

Tapi kenapa hanya bertabrakan? Bukankah ion positif seharusnya mengikat elektron. Ya, tapi ion-ion ini sudah mengikat elektron-elektron lain, yang dikenal dengan elektron valensi. Karena sudah cukup mengikat elektron, maka elektron yang tersisa menjadi bebas.

Pada superkonduktor elektron-elektron pada “cairan” tadi tidak bergerak sendiri-sendiri, melainkan membentuk pasangan yang disebut pasangan Cooper. Berpasangan ini membuat elektron-elektron memiliki semacam tameng, artinya ada tenaga minimum yang diperlukan untuk mempengaruhinya. Ini membuat elektron tidak lagi bertabrakan dengan ion-ion, sehingga bisa mengalir lancar tanpa hambatan.

Tapi mengapa superkonduktormeissner bisa mengapung? Kejadian ini disebut efek Meissner. Pada konduktor medan magnet dapat menembus melaluinya. Sedangkan pada superkonduktor, medan magnet tidak dapat tembus. Artinya, tidak ada medan magnet di dalam bahan. Medan magnet yang dibelokkan itu menimbulkan gaya yang dapat mengangkat superkonduktor.

 

 

supercond-timeline

Setelah Onnes menemukan gejala superkondutivitas, gejala yang sama ditemukan dalam berbagai bahan lain. Namun semua bahan itu menjadi superkonduktor di bawah suhu 30 K.   Baru pada tahun 1986 2 orang ilmuwan Swiss J. Georg Bednorz dan K. Alex Müller berhasil membuat bahan alloy dengan suhu kritis superkonduktivitas di atas 30 K. Kedua ilmuwan ini mendapat Hadiah Nobel di tahun 1987 untuk bidang fisika.

Mengapa suhu 30 K ini penting? Karena suhu di bawah 30 K sangat sulit dicapai. Ini adalah suhu helium cair. Sedangkan di atas 30 K adalah suhu nitrogen cair, yang relatif mudah dicapai. Artinya, superkonduktor dengan suhu kritis di atas 30 K membuka peluang aplikasi atau pemanfaatan. Karena itu meski sebenarnya suhu kritisnya masih jauh di bawah suhu kamar, superkondutor dengan suhu kritis di atas 30 K disebut superkondutor suhu tinggi.

Karena tidak menghasilkan panas, superkonduktor dapat dialiri arus listrik yang sangat besar. Arus besar ini diperlukan dalam berbaga hal, di antaranya untuk menghasilkan medan magnet kuat. Medan magnet ini antara lain dipakai dalam alat kesehatan, yaitu MRI. Medan magnet kuat juga dapat mengapungkan beberapa jenis bahan yang bersifat diamagnet.

Salah satu riset yang saya lakukan dulu adalah penumbuhan kristal bahan dalam medan magnet kuat. Penumbuhan dalam medan magnet ini ditujukan untuk mengatur orientasi ion-ion atau molekul penyusun bahan, sehingga mempengaruhi sifat-sifat kelistrikan dan kemagnetannya saat bahan terbentuk.

 

 

 

 

 

Bagaimana Membuat Unsur Baru?

making_new_elements

 

 

 

 

 

 

Kemarin diumumkan nama-nama bagi unsur-unsur kimia baru, yang baru ditemukan. Di antaranya diberi nama terkait tempat penemuan, yaitu Moskow, Jepang, dan Tenesse. Bagaimana unsur-unsur baru itu dibuat? Eh, tapi sebentar. Tunggu dulu. Apa itu unsur?
 
Sains modern menemukan bahwa apapun yang ada di sekitar kita terdiri dari unit yang paling kecil, yang menentukan sifat bahan-bahan. Unit terkecil itu disebut atom. Tentu saja masih ada partikel yang lebih kecil dari atom, yang disebut sub-atomic particle, atau partikel elementer. Namun partikel-partikel itu membawa sifat yang sama, tak peduli mereka berada di dalam atom manapun. Pembawa sifat bahan adalah atom-atom.
 
Lalu apa itu unsur? Unsur suatu adalah bahan yang terdiri dari satu jenis atom saja. Misalnya unsur hidrogen, ia adalah bahan yang terdiri dari atom-atom yang punya 1 proton dan 1 elektron saja. Kalau beberapa jenis atom bergabung bersama membentuk suatu bahan, maka bahan itu disebut senyawa.
 
Unsur-unsur disusun dalam bentuk tabel periodik. Atom-atom diberi nomor sesuai jumlah proton dan elektron penyusunnya. Hidrogen diberi nomor 1, helium nomor 2, karbon nomor 6, oksigen nomor 8, dan seterusnya. Tidak hanya dinomori, atom-atom dikelompokkan berdasarkan jumlah elektron di kulit terluarnya. Elektron di kulit terluar inilah yang paling menentukan sifat atom, dengan atom mana dia mudah berikatan, dan lain-lain.
 
Suatu atom terdiri dari proton dan elektron dalam jumlah sama. Proton bermuatan positif, elektron bermuatan negatif. Kesamaan jumlah keduanya membuat atom menjadi netral. Elektron sangat kecil dan ringan dibanding proton. Karena itu elektron tak berperan dalam menentukan massa atom. Protonlah yang menentukan. Pada atom-atom berat, inti atom juga mengandung netron yang beratnya hampir sama dengan proton, tapi tidak bermuatan. Ada atom yang punya jumlah proton sama (nomor atom sama) namun memiliki netron yang berbeda. Atom dengan jumlah proton berbeda ini disebut isotop.
 
Karbon contohnya, adalah atom dengan massa 12 unit. Massa ini berasal dari 6 proton dan 6 netron. Namun ada juga karbon dengan massa 13 dan 14, artinya masing-masing memiliki netron 7 dan 8. Isotop ada yang stabil dan ada yang tidak. Isotop yang tidak stabil tidak memiliki cukup energi untuk mengikat proton dan elektron dalam inti. Ini biasanya terjadi kalau jumlah netron terlalu banyak dibanding proton. Bagaimana penjelasannya?
 
Proton bermuatan positif. Dua atau lebih partikel bermuatan sama akan saling tolak menolaj. Bagaimana proton-proton bisa diikat bersama dalam inti atom padahal mereka saling tolak? Karena itulah diperlukan netron pada inti atom yang terdiri dari 2 atau lebih proton. Tugas netron adalah menjauhkan jarak antar proton untuk mengurangi gaya saling tolak. Netron membentuk ikatan inti dengan proton, membuat mereka semua terikat di dalam inti.
 
Karena situasi di atas maka perbandingan antara jumlah proton dan netron menentukan stabilitas atom. Bila keseimbangan tidak tercapai, maka isotop tidak akan stabil dan bersifat radioaktif. Isotop radioaktif akan memancarkan berbagai radiasi energi berupa gelombang maupun partikel, meluruh menjadikan dirinya isotop yang stabil. Isotop yang tidak stabil ini tidak bertahan abadi. Mereka punya umur tertentu yang bervariasi antar isotop.
 
Isotop dengan nomor atom lebih dari 82 tidak ada yang stabil. Semua bersifat radiaktif. Ini adalah konsekuensi dari hukum ikatan di dalam inti di atas.
 
Atom dengan nomor 95 ke atas (sampai 119) adalah atom-atom yang dibuat manusia. Bagaimana caranya? Atom-atom ringan digerakkan dengan sangat cepat, mencapai 10% dari kecepatan cahaya. Kecepatan maha tinggi itu didapat dalam akselerator selama berbulan-bulan. Atom-atom itu ditumbukkan ke atom berat, memaksakan inti-inti atom kecil tadi masuk ke atom besar, membentuk atom yang lebih besar. Hanya saja atom-atom buatan ini tidak stabil. Beberapa di antaranya hanya bisa bertahan dalam order per-seribu detik. Diperkirakan atom paling besar yang bisa dibuat mengandung 126 proton. Di atas itu tidak mungkin lagi dihasilkan gaya yang cukup untuk menahan proton-proton untuk terikat bersama.

sumber foto: popsci dot com

Sihir

magic-trick
Saya penggemar cerita Harry Potter. Semua seri buku tersebut saya baca, dan saya ingat cerita di setiap seri. Semua filmnya saya tonton. Tentu saja saya menganggapnya sebagai cerita fiksi belaka.
 
Sihir itu tidak nyata, dan tidak pernah nyata. Saya yakin akan banyak orang yang membantah pernyataan ini. Mereka terbiasa mendengar cerita-cerita yang tidak bisa dijelaskan oleh akal. Ya, hanya mendengar, mempercayai, dan meneruskannya. Sebagian sangat besar dari cerita-cerita ajaib yang pernah kita dengar, kita dapatkan bukan dari orang yang menyaksikannya langsung. Itulah salah satu sebab kenapa hoax bisa begitu cepat menyebar di internet. Karena orang-orang sudah terbiasa meneruskan cerita yang tidak masuk akal.
 
Bagaimana dengan orang-orang yang sudah menyaksikannya secara langsung? Apakah kita tidak bisa mempercayai mereka? Sebenarnya kita semua pernah menyaksikan sihir, secara langsung. Kita menyaksikannya di panggung sulap. Hanya saja sejak awal kita tahu bahnya yang kita saksikan itu tidak nyata. Adapun yang mengaku pernah menyaksikan sihir, ia sebenarnya korban sebuah trik sulap belaka. Sulap, magic, atau sihir, adalah realitas palsu yang dihadirkan dengan memanipulasi audiens.
 
Sihir atau magic sudah hadir sejak zaman dulu. Lebih tepatnya, sihir adalah bagian dari masa lalu ketika sangat banyak fenomena yang dilihat manusia tidak bisa ia jelaskan. Orang melihat pelangi, kemudian mengarang cerita bahwa itu adalah tangga bidadari yang sedang turun ke bumi. Ada jutaan cerita semacam itu.
 
Manusia berhadapan dengan alam yang maha besar. Mereka percaya bahwa ada sosok maha besar, maha berkuasa, serba maha, yang menciptakan dan mengatur alam ini. Sosok itu juga mengatur bagaimana manusia harus berperilaku. Bila aturannya dituruti, maka ia akan senang. Kalau tidak, ia akan murka. Ia bisa menciptakan kejadian-kejadian luar biasa untuk memberkati manusia yang ia kehendaki, atau untuk menyiksa manusia yang tidak ia sukai. Itulah Tuhan.
 
Karena terbiasa percaya penjelasan-penjelasan supranatural itu, orang mudah percaya kepada sihir.
 
Ketika sains berkembang, secara perlahan sihir menyingkir dari kehidupan manusia. Yang tersisa hanyalah sihir di panggung hiburan. Zaman dulu orang berobat ke dukun, diobati dengan cara-cara sihir. Kini kita umumnya berobat ke dokter, diobati dengan metode ilmiah yang telah diuji sebelumnya.
 
Tentu saja masih ada orang yang percaya dengan sihir. Malah masih banyak. Sebanyak orang yang masih percaya pada dukun, atau sering kali disebut pengobatan alternatif. Sepertinya tidak mungkin kepercayaan kepada sihir itu dibuang sama sekali, selama orang masih beriman kepada kitab suci. Kitab-kitab suci agama memuat cerita-cerita tentang sihir. Tidak mempercayai sihir sama artinya tidak mempercayai sebagian isi kitab suci. Itu bisa berarti tidak beriman kepada kitab suci itu secara keseluruhan.
 
Jadi, apa boleh buat. Selama Anda beriman kepada kitab suci, Anda memang harus percaya kepada cerita-cerita magis, seperti awan yang digiring malaikat, atau setan yang dilempar dengan komet. Pada saat yang sama Anda mungkit bisa percaya bahwa sekolah Hoghwart itu nyata.
 
sumber foto: ktwop dot com